Logo
>

Prospek Industri Perbankan Semester II 2026 Dibayangi Tantangan Likuiditas

Ekonom INDEF, Aviliani mengatakan risiko terbesar bagi industri perbankan pada paruh kedua tahun ini bukan berasal dari kualitas kredit,

Ditulis oleh Desty Luthfiani
Prospek Industri Perbankan Semester II 2026 Dibayangi Tantangan Likuiditas
Ilustrasi gedung BTN (Foto: Dok Bank Tabungan Negara.)

KABARBURSA.COM – Industri perbankan nasional diperkirakan masih mampu menjaga kinerja pada semester II 2026. Meski demikian, sejumlah tantangan mulai membayangi, terutama terkait likuiditas dan potensi perlambatan pertumbuhan kredit apabila suku bunga kembali meningkat. Hal ini terutama karena Bank Indonesia menaikkan suku bunga lagi menjadi 5,75 persen.

Senior Ekonom INDEF sekaligus Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi Perbankan Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), Aviliani, mengatakan kondisi kredit perbankan sejauh ini masih relatif baik. Begitu pula dengan kualitas aset yang tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang masih terjaga.

"Sebenarnya kalau kita lihat dari sisi kredit masih oke. NPL juga masih baik. Cuma dari sisi pertumbuhan kredit, kalau bunga naik lagi ya pertumbuhan kredit akan mengalami penurunan," kata Aviliani di Jakarta dikutip Ahad, 20 Juni 2026.

Menurut dia, risiko terbesar bagi industri perbankan pada paruh kedua tahun ini bukan berasal dari kualitas kredit, melainkan dari sisi pembiayaan dan ketersediaan dana. Ketika likuiditas semakin terbatas, ruang perbankan untuk menyalurkan kredit juga akan semakin menyempit.

Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan loan to deposit ratio (LDR) karena pertumbuhan kredit tidak diimbangi oleh peningkatan dana pihak ketiga yang memadai. Dalam situasi seperti itu, bank cenderung lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit guna menjaga keseimbangan likuiditas.

"Kalau likuiditasnya terbatas, otomatis kredit juga jadi terbatas karena LDR tinggi. Bank-bank juga harus menjaga likuiditas dan tidak berani menaikkan LDR terlalu tinggi," ujarnya.

Aviliani menilai perbankan saat ini membutuhkan sumber dana baru untuk menjaga keberlanjutan ekspansi kredit. Namun hingga kini, pasar masih menunggu kejelasan mengenai sumber tambahan likuiditas yang dapat mendukung pertumbuhan pembiayaan.

Menurut dia, salah satu faktor yang perlu dicermati adalah strategi pemerintah dalam mencari sumber pendanaan. Penerbitan obligasi dapat menjadi salah satu opsi, namun dampaknya terhadap likuiditas pasar juga perlu diperhitungkan secara matang.

"Nah makanya harus ada dana baru. Dana baru ini yang kita belum lihat dari mana. Apakah pemerintah dengan jual bonds, itu juga perlu dilihat," tutur Aviliani.

Ia menambahkan, pemerintah perlu mempertimbangkan dampak setiap kebijakan penghimpunan dana terhadap kondisi pasar keuangan. Pasalnya, pergerakan likuiditas akan berpengaruh langsung terhadap biaya dana dan arah suku bunga di sektor perbankan.

Selain itu, Aviliani juga menyoroti ketidakpastian minat investor terhadap instrumen pembiayaan pemerintah, termasuk panda bond yang sempat menjadi perhatian pasar. Menurutnya, perkembangan instrumen tersebut masih perlu dipantau untuk melihat sejauh mana kontribusinya terhadap penambahan likuiditas.

Karena itu, ia menegaskan bahwa menjaga likuiditas harus menjadi perhatian bersama, baik bagi pemerintah maupun pelaku industri keuangan. Langkah-langkah yang berpotensi menyerap likuiditas secara berlebihan perlu dihitung secara cermat agar tidak memberikan tekanan tambahan terhadap suku bunga.

"Likuiditas menurut saya perlu dijaga. Pemerintah juga harus pikir lagi untuk mengambil langkah-langkah yang bisa memengaruhi likuiditas, karena itu akan berpengaruh juga terhadap suku bunga," kata Aviliani.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".