KABARBURSA.COM — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara terbuka menilai gejolak besar di pasar saham Indonesia pekan lalu tidak bisa dilepaskan dari lambannya respons otoritas pasar modal terhadap peringatan Morgan Stanley Capital International atau MSCI.
Menurut dia, koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG hingga memicu penghentian perdagangan sementara merupakan konsekuensi dari tata kelola pasar yang tidak ditangani dengan sigap.
Karena itu, Purbaya menegaskan pengunduran diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman serta sejumlah pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di bidang pasar modal merupakan langkah yang semestinya diambil sebagai bentuk tanggung jawab moral.
“Pasar tidak dikelola dengan baik sehingga terjadi koreksi dalam. Mereka tidak merespons permintaan MSCI dengan tepat. Karena itu mereka harus bertanggung jawab. Itu tanda bahwa mereka menyadari kesalahan dan memilih bertanggung jawab,” ujar Purbaya dalam diskusi di Indonesia Economic Summit atau IES 2026 bertema Aligning Policy and Private Capital to Debottleneck Indonesia’s Growth di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Selasa, 3 Februari 2026.
Pasar modal Indonesia memang berada dalam tekanan ekstrem. Pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026, IHSG terperosok sekitar 7,3 persen dalam satu hari dan menjadikannya salah satu pelemahan terdalam di kawasan Asia. Tekanan jual yang begitu besar bahkan sempat memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt.
Tekanan tidak berhenti di satu hari itu saja. Sepanjang minggu terakhir Januari 2026, IHSG tercatat merosot sekitar 6,9 persen. Sentimen negatif datang dari keputusan Morgan Stanley Capital International atau MSCI yang membekukan penyesuaian bobot saham Indonesia di dalam indeks global mereka. Langkah tersebut langsung memukul kepercayaan investor dan memicu gelombang aksi jual.
Jika ditarik lebih luas, dampaknya terlihat semakin dramatis. Dalam rentang dua hari perdagangan terburuk, IHSG dilaporkan sempat terjun lebih dari 16 persen secara agregat.
Gara-gara tekanan itu, Direktur Utama BEI Iman Rachman resmi mengundurkan diri pada Jumat, 30 Januari 2026. Rachman mengatakan keputusan mundur itu dilakukannya sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kondisi pasar modal yang memprihatinkan dengan harapan langkah tersebut dapat memberi ruang pembenahan.
Tak berselang lama, sejumlah pejabat tinggi OJK mengikuti jejak Rachman. Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar serta beberapa pejabat kunci di pengawasan pasar modal secara resmi menyatakan pengunduran diri dari jabatannya. Pengurus OJK menegaskan keputusan itu merupakan bentuk tanggung jawab moral sekaligus bagian dari upaya memulihkan kondisi pasar yang tengah mengalami guncangan hebat.
Namun langkah mundur ini bukan tanpa reaksi. Sejumlah pengamat pasar mengingatkan bahwa kepastian calon pengganti yang kredibel menjadi faktor penentu dalam meredam kekhawatiran investor dan menjaga stabilitas pasar.
Purbaya menilai masalah utama bukan semata-mata pada penilaian MSCI, melainkan pada praktik transparansi pasar yang selama ini belum dibenahi secara serius. Ia mengaku bahkan sudah mengingatkan manajemen bursa sejak beberapa bulan lalu agar praktik manipulasi harga saham segera diberantas. Namun menurutnya, peringatan tersebut tidak direspons secara memadai.
“MSCI warning itu justru hal yang bagus. Itu menjadi momen bagi kita untuk membersihkan praktik-praktik tidak sehat di pasar. Kalau transparansi diperbaiki, penyakit di pasar bisa dihilangkan,” katanya.
Koreksi pasar yang terjadi belakangan bukan sekadar dipicu faktor eksternal, tapi menurut Purbaya, akibat persoalan internal yang dibiarkan berlarut-larut. OJK, sebagai regulator utama sektor jasa keuangan, disebut ikut memikul tanggung jawab karena memiliki kewenangan mengawasi bursa.
“Baik BEI maupun OJK bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Mereka seharusnya bertindak lebih cepat dan lebih tegas terhadap permintaan MSCI,” ucapnya.
Purbaya menilai ancaman penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market masih bisa dihindari. Ia optimistis jika seluruh rekomendasi MSCI dipenuhi sebelum batas waktu pada Mei 2026, pasar akan kembali pulih.
“Selama kita tidak mengabaikan peringatan MSCI, saya tidak khawatir. Saya sudah minta regulator pasar untuk segera memperbaiki semua yang diminta,” katanya.
Menurut Purbaya, langkah pembenahan transparansi justru akan mengembalikan fokus investor kepada fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih kuat. Pemerintah, kata dia, akan memastikan likuiditas pasar tetap terjaga dan belanja fiskal berjalan sesuai rencana agar kepercayaan investor kembali pulih.
“Begitu praktik pasar dibersihkan dan transparansi ditegakkan, investor akan melihat lagi fundamental ekonomi kita,” ujarnya.
Transisi Kepemimpinan BEI Tetap Berjalan
Sementara dinamika pasar belum sepenuhnya mereda, BEI memberi kabar baru perihal kepemimpinan internal mereka. Lembaga ini memastikan proses transisi manajemen tetap berjalan meski Direktur Utama sebelumnya, Iman Rachman, telah mengajukan pengunduran diri. BEI pun menetapkan Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik sebagai Pelaksana Jabatan Sementara atau Pjs Direktur Utama. Keputusan itu diambil melalui mekanisme internal dan mulai berlaku efektif sejak Jumat, 30 Januari 2026.
Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko BEI Sunandar menegaskan langkah tersebut dilakukan untuk memastikan operasional bursa tetap stabil dan tidak terjadi kekosongan kepemimpinan. “Sudah mulai efeknya dari Jumat kemarin. Cuman resminya nunggu surat resmi pengunduran dirinya,” kata Sunandar di Gedung BEI, Jakarta, Selasa, 3 Februari 2026.
Penunjukan Pjs Dirut, menurut Sunandar, sudah sesuai dengan aturan internal BEI. Meski secara administratif proses pengunduran diri Iman Rachman masih berjalan, keputusan organisasi tetap bisa diambil secara normal.
Ia menjelaskan, rapat direksi memilih langkah cepat ini sebagai bentuk antisipasi agar kesinambungan kepemimpinan tetap terjaga. Status Pjs Dirut akan berlaku sementara hingga seluruh proses administratif rampung dan penetapan pengganti definitif dilakukan sesuai anggaran dasar BEI.
Di sisi lain, manajemen bursa memastikan bahwa gejolak pasar beberapa waktu terakhir tidak mengganggu agenda kerja strategis. Sunandar menyebut BEI bersama OJK serta pemangku kepentingan pasar modal terus mengawal delapan rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal.
Reformasi tersebut berfokus pada penguatan transparansi, keterbukaan informasi, dan tata kelola pasar yang lebih baik, isu yang selama ini juga menjadi sorotan utama MSCI. Untuk mempercepat pelaksanaan agenda itu, BEI membentuk tim kerja khusus lintas unit yang berkoordinasi intensif dengan regulator.
“Ada task force di sisi kita dan di sisi mereka. Itu akan kita lakukan terus dan tiap awal minggu kita beritakan progresnya,” kata Sunandar.
Kabar ini menjadi sinyal bahwa setelah guncangan besar yang menggoyang IHSG pekan lalu, bursa berupaya bergerak cepat menata diri. Transisi kepemimpinan dijalankan, sementara pekerjaan rumah memperbaiki transparansi dan tata kelola pasar tetap dikebut.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.