KABARBURSA.COM – Tekanan tajam pergerakan harga saham PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) terus mewarnai perdagangan bursa. Aksi pembelian saham oleh Direktur Utama Wong Kevin, menjadi penyelamat, meskipun harga intraday masih di zona merah.
Pada perdagangan Senin, 2 Februari 2026, saham BULL bergerak di bawah tekanan kuat sejak awal sesi. Saham dibuka di level 484, lebih rendah dibandingkan harga penutupan sebelumnya di 492. Tekanan jual berlanjut sepanjang sesi hingga saham ditutup di level 420, turun 72 poin atau setara 14,63 persen.
Penurunan ini membawa harga menyentuh batas auto rejection bawah di level 420, sekaligus menjadi level terendah harian. Sepanjang sesi, saham tidak mampu bangkit mendekati area pembukaan, mencerminkan dominasi penawaran jual yang konsisten.
Aktivitas transaksi berlangsung relatif ramai. Total volume perdagangan tercatat sekitar 3,54 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp153,6 miliar. Frekuensi transaksi mencapai 4.190 kali, yang artinya penurunan harga kali ini terjadi dalam kondisi likuid, bukan akibat sepinya transaksi.
Harga rata-rata transaksi berada di kisaran 434, lebih tinggi dari harga penutupan. Ini mmeperlihatkan adanya tekanan jual yang menguat menjelang akhir sesi.
Struktur orderbook intraday memperlihatkan antrean jual yang sangat tebal di sisi offer. Pada level 420 saja, antrean penjualan tercatat lebih dari 770 ribu lot dengan frekuensi tinggi, diikuti lapisan penawaran berjenjang hingga area 438.
Sementara itu, sisi bid nyaris tidak terlihat. Pembeli terlihat menunggu dan dan minim sekali upaya penyerapan di tengah tekanan jual. Pola ini memperlihatkan distribusi agresif yang menekan harga hingga mentok di ARB.
Dirut Borong di Harga Rp418
Di tengah kondisi pasar tersebut, keterbukaan informasi dari Bursa Efek Indonesia mengungkap bahwa Direktur Utama BULL Wong Kevin, sebelumnya telah melakukan pembelian saham dalam jumlah besar.
Pada 17 Desember 2025, Wong Kevin mengeksekusi pembelian sebanyak 4 juta lembar saham BULL dengan harga pelaksanaan Rp418 per saham, sehingga nilai transaksi mencapai sekitar Rp1,67 miliar. Aksi ini meningkatkan kepemilikan sahamnya dari 294.137.950 lembar atau sekitar 1,90 persen menjadi 298.137.950 lembar saham, setara 1,92 persen hak suara.
Harga pembelian tersebut berada sangat dekat dengan level terendah saham pada perdagangan 2 Februari 2026, yang juga menyentuh area 420. Secara kronologis, aksi beli manajemen dilakukan saat harga saham berada di zona bawah, jauh sebelum tekanan intraday terbaru terjadi.
Dalam laporan perubahan kepemilikan, manajemen menegaskan bahwa transaksi dilakukan untuk tujuan investasi dan Wong Kevin bukan merupakan pemegang saham pengendali.
Kombinasi antara aksi beli direktur utama dan tekanan harga yang masih berlanjut di pasar menunjukkan adanya perbedaan horizon antara manajemen dan pelaku pasar jangka pendek. Di satu sisi, pembelian oleh direktur utama mencerminkan penambahan eksposur pribadi pada saham perusahaan di area harga rendah.
Di sisi lain, pergerakan intraday terbaru memperlihatkan bahwa sentimen pasar belum sepenuhnya merespons aksi tersebut secara positif, dengan tekanan jual yang masih mendominasi dan mendorong saham masuk ke zona auto rejection bawah.
Secara keseluruhan, data ini menggambarkan situasi di mana keyakinan internal manajemen, yang tercermin melalui aksi pembelian saham, berhadapan langsung dengan dinamika pasar jangka pendek yang masih berada dalam fase tekanan.
Perdagangan intraday BULL menunjukkan distribusi yang kuat dan minimnya daya tahan harga, sementara aksi korporasi dari direktur utama menambah lapisan informasi penting bagi pelaku pasar dalam membaca arah dan persepsi nilai saham ke depan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.