Logo
>

Menelisik Rekam Jejak Shinhan Sekuritas di Tengah Pusaran Kasus IPO PIPA

Profil dan perjalanan Shinhan Sekuritas sebagai penjamin emisi di Indonesia, dari deretan IPO hingga sorotan dalam kasus saham PIPA.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Menelisik Rekam Jejak Shinhan Sekuritas di Tengah Pusaran Kasus IPO PIPA
Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri menggeledah kantor PT Shinhan Sekuritas Indonesia di sebuah gedung perkantoran di kawasan Jakarta Selatan, Selasa, 3 Februari 2026. Foto: Dok. Dittipideksus Bareskrim Polri.

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Sebuah penggeledahan selalu meninggalkan jejak pertanyaan. Ketika kantor Shinhan Sekuritas didatangi penyidik Bareskrim Polri dalam perkara saham gorengan PT Multi Makmur Lemindo Tbk atau PIPA, publik ingin tahu lebih jauh siapa sebenarnya Shinhan Sekuritas? Lalu seberapa panjang rekam jejaknya dan bagaimana perjalanan mereka di lantai bursa Indonesia selama ini?

    Kasus PIPA memang menjadi pintu masuk. Tapi nama Shinhan Sekuritas bukan pemain kemarin sore. Jauh sebelum kegaduhan ini muncul, perusahaan sekuritas yang terafiliasi dengan grup keuangan Korea Selatan itu sudah lama beroperasi di Indonesia dan terlibat dalam berbagai penawaran umum perdana saham.

    Jejak Panjang Shinhan di Deretan IPO

    Sejak lama, Shinhan dikenal aktif sebagai penjamin emisi efek atau underwriter dalam sejumlah IPO. Catatan resmi bursa menunjukkan nama mereka berulang kali muncul dalam prospektus emiten yang hendak melantai di pasar modal.

    Pada Februari 2020, misalnya, Shinhan ikut menjadi penjamin emisi IPO PT Diamond Citra Propertindo Tbk dengan kode saham DADA. Perusahaan properti itu melepas 2,147 miliar saham atau sekitar 29,91 persen modal ditempatkan dengan harga penawaran Rp102 per lembar. Dana yang dihimpun mencapai sekitar Rp218,99 miliar. Saat debut di lantai bursa pada 14 Februari 2020, saham DADA langsung melonjak 69,61 persen dari Rp102 ke Rp173 dan terkena auto-reject atas atau ARA. Shinhan Sekuritas saat itu bekerja bersama UOB Kay Hian sebagai penjamin emisi.

    Saham DADA pernah mengalami episode yang membuat banyak investor geleng-geleng kepala. Pada pertengahan 2025, harga saham emiten properti ini mendadak melambung tak terkendali. Bukan naik puluhan persen, melainkan hampir 2.900 persen dalam waktu relatif singkat.

    Lonjakan itu bukan datang dari kinerja perusahaan yang mendadak kinclong. Yang beredar justru rumor. Kabar tak jelas menyebut adanya minat akuisisi dari investor global sekelas Vanguard. Isu tersebut berputar cepat di ruang obrolan pasar dan memantik euforia massal. Padahal manajemen DADA sendiri kemudian membantah mentah-mentah kabar tersebut.

    Pergerakan harga yang liar itu akhirnya menarik perhatian Bursa Efek Indonesia (BEI). Otoritas bursa ini meminta penjelasan resmi dari manajemen karena volatilitas DADA dinilai tak lazim. Dalam klarifikasinya, perusahaan menegaskan tidak ada informasi material yang belum disampaikan ke publik. Tidak ada aksi korporasi besar. Tidak ada perubahan fundamental signifikan. Dengan kata lain, kenaikan harga saham lebih digerakkan oleh sentimen, bukan kinerja.

    Di tengah kegaduhan itu, terjadi peristiwa yang belakangan menjadi sumber amarah investor ritel. Ketika harga berada di titik tertinggi, pengendali DADA melalui PT Karya Permata Inovasi Indonesia justru melakukan pelepasan saham dalam jumlah besar. Aksi jual itu terjadi persis di puncak euforia.

    Tak lama kemudian harga saham berbalik arah. Anjlok perlahan, lalu semakin dalam. Data pasar menunjukkan dampaknya luar biasa. Sekitar 79.123 investor ritel tercatat terjebak di harga mahal alias nyangkut. Mereka membeli saat tren sedang panas, lalu terpaksa menelan kerugian ketika harga merosot tajam.

    Beberapa waktu setelah badai itu berlalu, saham DADA bertengger jauh di bawah level puncaknya. Dari kisaran Rp240 per saham pada masa euforia, harga jatuh hingga Rp50 per lembar—konsisten hingga artikel ini ditulis. Perubahan drastis ini membuat DADA menjadi contoh klasik bagaimana volatilitas ekstrem bisa berakhir pahit bagi investor kecil.

    Dua tahun kemudian, nama Shinhan kembali muncul dalam IPO PT Saraswanti Indoland Development Tbk berkode SWID. Emiten properti ini menawarkan 340 juta saham atau 6,31 persen modal dengan harga Rp200 per saham dan mengincar dana sekitar Rp68 miliar. Shinhan Sekuritas bertindak sebagai penjamin emisi. Pada hari pertama perdagangan 7 Juli 2022, saham SWID melesat hingga 25 persen dari harga penawaran menjadi Rp250.

    Pada November 2022, giliran PT Ketrosden Triasmitra Tbk dengan kode KETR yang melantai di bursa. Perusahaan penyedia infrastruktur telekomunikasi itu melepas 426,2 juta saham atau 15 persen modal dengan harga IPO Rp300. Dana yang terkumpul sekitar Rp127,86 miliar. Shinhan kembali tampil sebagai penjamin emisi utama. Saat pencatatan perdana, saham KETR naik sekitar 20 persen dari harga penawaran.

    Rentetan IPO itu menunjukkan bahwa Shinhan Sekuritas bukan pemain pasif. Nama mereka konsisten muncul sebagai salah satu underwriter yang cukup aktif membawa perusahaan-perusahaan baru ke pasar modal.

    PIPA, IPO yang Berujung Perkara

    Perhatian terbesar publik kini tertuju pada IPO PT Multi Makmur Lemindo Tbk. Perusahaan produsen pipa plastik itu melakukan penawaran umum pada 3 hingga 5 April 2023 dan resmi tercatat di bursa pada 10 April 2023 dengan kode saham PIPA. Dalam proses ini, Shinhan Sekuritas bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi.

    PIPA melepas 925 juta saham baru atau 27,01 persen modal ditempatkan dengan harga Rp105 per lembar. Dana yang dihimpun mencapai sekitar Rp97,12 miliar. Seperti pola IPO lain, hari pertama perdagangan sempat penuh euforia. Pada 10 April 2023, saham PIPA dibuka di harga Rp105 dan dalam waktu singkat melonjak 34,29 persen ke level Rp141 pada pukul 09.05 WIB.

    Namun cerita setelah itu tidak semulus hari pertama. Beberapa waktu kemudian harga saham PIPA justru jatuh di bawah harga IPO. Baru pada awal 2025 saham ini kembali melambung tajam. Pada April 2025, harga PIPA tercatat naik sekitar 133 persen hanya dalam waktu sebulan, dari Rp18 menjadi Rp42. Per hari ini, Selasa, 3 Februari 2026, harga saham PIPA bertengger di level Rp212 atau naik 12,17 persen hingga penutupan.

    Grafik pergerakan harga saham PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA) dalam lima tahun terakhir yang ditutup di level Rp212 per saham, Selasa, 3 Februari 2026. Grafik menunjukkan lonjakan ekstrem hingga menyentuh kisaran Rp600-an pada 2025 sebelum kembali terkoreksi tajam ke area Rp200-an. Sumber: Stockbit.

    Lonjakan ekstrem itulah yang kemudian memicu sorotan. Aparat penegak hukum masuk. Bareskrim Polri mengusut dugaan manipulasi harga saham dan melakukan penggeledahan, termasuk ke kantor Shinhan Sekuritas sebagai pihak yang berperan dalam proses IPO.

    Secara formal, Shinhan Sekuritas menempatkan diri sebagai penjamin emisi yang menjalankan prosedur sesuai regulasi OJK. Tetapi kasus PIPA membuat peran underwriter dalam proses penawaran saham kembali dipertanyakan.

    Siapa di Balik Shinhan Sekuritas?

    Selain deretan IPO, publik juga mulai melihat lebih dekat struktur manajemen Shinhan Sekuritas. Periode 2020 hingga 2026 menunjukkan beberapa perubahan penting di jajaran pimpinan.

    Berdasarkan data kepengurusan terbaru, Dewan Komisaris Shinhan Sekuritas kini dipimpin oleh Komisaris Utama Drs. Makmur Widjaja. Posisi Komisaris Independen dipegang oleh Rudy Yulianto Limuria. Sebelumnya, pada 2020 jabatan Komisaris Utama pernah dipegang oleh Shin Dong Chul, namun nama tersebut tidak lagi tercantum dalam struktur kepengurusan terkini.

    Investor kawakan Lo Kheng Hong (kiri) berbincang bersama Komisaris Utama Shinhan Sekuritas, Makmur Widjaja, dalam sebuah acara yang diselenggarakan Full Gospel Business Men Fellowship International. Foto ini diunggah melalui akun Instagram resmi komunitas tersebut, @fgbneo, pada 28 Februari 2024.


    Di jajaran direksi, sejak 18 Oktober 2021 posisi Presiden Direktur dijabat oleh Lee Yong Hoon, seorang eksekutif berkebangsaan Korea Selatan. Pada 2025 terjadi penambahan dua direktur baru. Ayu Liliana Lestari diangkat sebagai Direktur Investment Banking pada 28 Februari 2025. Sementara Yung Choi masuk sebagai Direktur Operasional pada 2 Juli 2025.

    Sebelum komposisi ini terbentuk, kursi pimpinan pernah ditempati oleh Made Windi Wijaya sebagai Direktur Utama. Nama lain seperti Han Il Hyun dan Satrio Hadi Waskito juga tercatat pernah berada di jajaran direksi. Hingga kini tidak ada informasi resmi mengenai pengunduran diri mereka. Peralihan posisi lebih banyak terjadi sebagai bagian dari penataan organisasi internal.

    Sebagai bagian dari jaringan keuangan global, Shinhan Sekuritas Indonesia terafiliasi erat dengan unit-unit bisnis lain milik Shinhan Financial Group. Salah satunya adalah Shinhan Asset Management Indonesia, yang sebelumnya dikenal sebagai Archipelago Asset Management. Relasi institusional ini menempatkan Shinhan sebagai bagian dari ekosistem keuangan Korea yang cukup kuat di Indonesia.

    Semua data itu menunjukkan satu gambaran. Shinhan Sekuritas bukan nama kecil di pasar modal. Mereka memiliki rekam jejak panjang sebagai underwriter berbagai emiten. Tetapi kasus PIPA memaksa publik melihat sisi lain dari aktivitas penjamin emisi di bursa.

    Apakah semua ini sekadar risiko bisnis yang kebetulan berujung masalah hukum ataukah ada celah tata kelola yang selama ini luput dari pengawasan? Pertanyaan itulah yang kini menggantung di benak pelaku pasar.

    Satu hal pasti. Kasus PIPA telah membuka babak baru. Bukan hanya bagi Shinhan Sekuritas, tetapi juga bagi cara industri pasar modal Indonesia memandang proses penawaran umum perdana saham.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).