KABARBURSA.COM - Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan ketertarikan dengan kekuatan industri Xiamen, China, untuk mempercepat transformasi manufaktur.
Langkah taktis ditindaklanjuti melalui pertemuan bilateral antara delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Tri Supondy, dengan Walikota Xiamen, Wu Bin, di Xiamen.
Pertemuan tersebut fokus membahas optimalisasi potensi Xiamen sebagai salah satu Special Economic Zone (SEZ) atau Zona Ekonomi Khusus terkemuka di China, serta peluang investasi pada sektor-sektor strategis.
Tri melihat jika Xiamen memiliki ekosistem industri yang sangat maju dan relevan dengan arah pengembangan industri Indonesia.
"Melalui kemitraan yang lebih erat, kami berharap dapat mendorong masuknya investasi, transfer teknologi, serta kolaborasi yang mendukung penguatan rantai pasok global dan pengembangan kawasan industri yang berkelanjutan," ungkap dia dalam keterangannya, Sabtu, 13 Juni 2026.
Tri menambahkan, Indonesia membuka pintu kerja sama yang luas bagi pelaku usaha asal Xiamen. Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Kota Xiamen telah mengajukan proposal kerja sama yang membidik sejumlah sektor unggulan untuk dijadikan pipeline investasi, meliputi industri otomotif, data center, layanan kesehatan, pariwisata digital, sektor perikanan, hingga konstruksi prefabrikasi.
Sebagai salah satu SEZ pertama di China, Kota Xiamen dikenal memiliki keunggulan kompetitif pada industri semikonduktor, komponen elektronik, peralatan listrik pintar, logistik pelabuhan, hingga pemeliharaan aviasi (Maintenance, Repair, and Overhaul/MRO).
Potensi besar ini dinilai sejalan dengan agenda prioritas peta jalan Making Indonesia 4.0 serta pengembangan kawasan industri modern yang terintegrasi di Tanah Air.
Dalam kesempatan tersebut, delegasi Indonesia turut mempromosikan daya tarik investasi di sektor perwilayahan industri. Saat ini, Indonesia memiliki 175 kawasan industri dengan total luas mencapai lebih dari 98 ribu hektare.
Kawasan-kawasan ini siap menampung investor dari Xiamen dengan dukungan berbagai insentif fiskal maupun nonfiskal guna menjamin iklim usaha yang kondusif, kompetitif, dan aman.
Hubungan ekonomi antara Indonesia dan China sendiri terus menunjukkan tren positif. China saat ini berstatus sebagai mitra dagang terbesar Indonesia dengan nilai perdagangan bilateral mencapai USD154,5 miliar pada tahun lalu.
Selain perdagangan, China juga konsisten menjadi salah satu investor utama di Indonesia, dengan fokus besar pada sektor hilirisasi komoditas, manufaktur, dan pembangunan infrastruktur industri.
Melalui partisipasi aktif dalam agenda BRICS PartNIR, Indonesia menegaskan posisinya untuk terus memperluas akses pasar dan kemitraan teknologi global. Kerja sama konkret yang tengah dijajaki dengan Pemerintah Kota Xiamen diharapkan tidak hanya memperkuat hubungan ekonomi bilateral, tetapi juga mempercepat terciptanya ekosistem manufaktur nasional yang inovatif, mandiri, dan berkelanjutan. (*)