Logo
>

RI Pegang Nikel Dunia, Strategi Energi Kini Bergerak dari Migas ke Listrik

RI manfaatkan cadangan nikel terbesar dunia, strategi energi bergeser dari migas menuju listrik dan energi terbarukan.

Ditulis oleh Gusti Ridani
RI Pegang Nikel Dunia, Strategi Energi Kini Bergerak dari Migas ke Listrik
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan Indonesia manfaatkan nikel terbesar dunia untuk transisi energi, dari migas menuju listrik dan energi terbarukan. Foto: Gusti Ridani/KabarBursa.

KABARBURSA.COM – Indonesia dinilai memiliki posisi yang sangat strategis dalam peta energi dan mineral global karena menguasai cadangan nikel terbesar di dunia. Di tengah meningkatnya ancaman geopolitik, gangguan rantai pasok, dan fluktuasi harga energi, posisi ini menjadi modal penting bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok global.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan ketahanan energi kini tidak lagi sekedar isu sektoral, melainkan telah menjadi fondasi utama bagi kelangsungan bangsa.

Menurut dia, di dunia tengah yang semakin terfragmentasi, Indonesia harus mampu bertahan, beradaptasi, dan bahkan memimpin dalam lanskap energi global yang terus berubah.

“Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, energi menjadi fondasi kelangsungan hidup. Indonesia harus mampu bertahan, beradaptasi, dan bahkan memimpin dalam lanskap energi global,” ujar Tri, Jumat 17 April 2026.

Ia menjelaskan, tantangan global seperti konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, dan gejolak harga energi menuntut Indonesia memperkuat strategi ketahanan energi nasional secara menyeluruh.

Dalam konteks itu, sektor energi dan sumber daya mineral memegang peranan penting karena menjadi penopang utama ekonomi dan industri.

Dari sisi migas, Tri menyebut minyak dan gas bumi masih menjadi tulang punggung yang menyalurkan kebutuhan energi nasional.

Indonesia saat ini memiliki cadangan minyak sekitar 2,32 miliar hingga 4,4 miliar barel, sementara cadangan gas bumi berada di kisaran 34,78 triliun hingga 55,85 triliun kaki kubik.

Sementara itu, sektor mineral dan batubara juga tetap menjadi andalan. Batubara misalnya, masih berkontribusi lebih dari 60 persen terhadap pembangkit listrik nasional, dengan total cadangan mencapai 31,95 miliar ton.

Namun demikian, posisi Indonesia yang paling menonjol di mata dunia saat ini terdapat pada komoditas mineral kritis, khususnya nikel.

Perlu diingat, cadangan nikel Indonesia menempatkan negara ini pada posisi strategis di rantai pasok global, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan bahan baku untuk industri kendaraan listrik dan transisi energi.

“Indonesia juga memiliki posisi strategis dalam rantai pasok global, khususnya untuk mineral kritis seperti nikel, di mana kita memiliki cadangan terbesar di dunia,” katanya.

Menurut dia, keunggulan sumber daya tersebut harus diiringi dengan strategi yang tepat agar tidak berhenti pada posisi sebagai pemasok bahan mentah semata.

Oleh karena itu, pemerintah juga terus mendorong transformasi energi nasional melalui percepatan pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT).

Dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt, dengan 61 persen di antaranya berasal dari energi terbarukan.

Sasaran ini menunjukkan bahwa penguatan ketahanan energi nasional tidak hanya bertumpu pada migas dan mineral, tetapi juga diarahkan pada percepatan transisi menuju energi yang lebih bersih.

Sejalan dengan visi pembangunan nasional dalam Asta Cita, pemerintah menempatkan empat prinsip utama dalam kebijakan energi, yakni ketersediaan, keterjangkauan, keinginan, dan kedaulatan.

Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah menjalankan tiga strategi utama. Pertama, menjaga stabilitas energi nasional melalui optimalisasi produksi migas dan pemanfaatan batubara.

Kedua, mendorong transformasi energi melalui pengembangan EBT dan ekosistem kendaraan listrik. Ketiga, memperkuat tata kelola dan iklim investasi melalui reformasi dan layanan digitalisasi.

Tri juga menyoroti pentingnya peran pembangunan dalam menopang transformasi energi nasional.

Menurutnya, insinyur tidak hanya berperan sebagai pelaksana teknis, tetapi juga menjadi penghubung antara arah kebijakan pemerintah dan implementasi di lapangan.

Oleh karena itu, Indonesia dinilai membutuhkan sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan inovatif agar mampu mengelola potensi energi dan mineral secara optimal di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Dengan cadangan nikel terbesar di dunia, dukungan sumber daya migas dan batu bara yang masih besar, serta percepatan pengembangan energi terbarukan, Indonesia kini berada pada posisi penting dalam lanskap energi global. Tantangannya adalah bagaimana keunggulan tersebut diterjemahkan menjadi nilai tambah ekonomi, penguatan industri nasional, dan ketahanan energi jangka panjang.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang