KABARBURSA.COM - Mata uang rupiah ditutup melemah sebesar 50 poin ke level Rp17.188 terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat, 17 April 2026. Pelemahan ini justru di tengah meredanya konflik Timur Tengah (Timteng).
Pengamat mata uang, Ibrahim Assu’aibi mengatakan optmisme konflik Timteng akan berakhir setelah Lebanon dan Israel melakukan gencatan senjata selama 10 hari. Di sisi lain, angin segar juga datang dari AS dan Iran.
"AS dan Iran mungkin akan bertemu untuk melakukan pembicaraan pada akhir pekan," kata dia dalam keterangannya.
Di sisi lain, sentimen pelemahan rupiah juga datang dari Negeri Paman Sam. Ibrahim mengatakan, klaim pengangguran awal AS turun menjadi 207 ribu untuk pekan yang berakhir pada 11 April 2026, di bawah perkiraan 215 ribu.
"Dan di bawah angka pekan sebelumnya yaitu 218 ribu. Meskipun demikian, data ketenagakerjaan dan JOLTS baru-baru ini menunjukkan periode perekrutan dan PHK yang rendah," ungkap Ibrahim
Sementara itu, lanhut dia, para pejabat Federal Reserve atau The Fed memperkuat jalur kebijakan bank sentral saat ini. Presiden Fed New York, John Williams, mencatat bahwa konflik di Iran memberikan tekanan ke atas pada harga dan mengantisipasi peningkatan inflasi utama.
"Ia juga berkomentar bahwa sikap kebijakan bank sentral saat ini telah tepat," jelasnya.
Sedangkan untuk perdagangan Senin, 20 April 2026, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp17.180- Rp17.220.
"Sedangkan range untuk sepekan melemah berada di level Rp17.150-Rp17.300," pungkasnya. (*)