Logo
>

Selat Hormuz “Bebas”, Indeks Wall Street Cetak Rekor

Pembukaan Selat Hormuz dan sinyal negosiasi AS-Iran dorong reli indeks, Nasdaq mencetak kenaikan terpanjang sejak 1992.

Ditulis oleh Yunila Wati
Selat Hormuz “Bebas”, Indeks Wall Street Cetak Rekor
Seluruh indeks Wall Street bergerak di zona hijau pasca pengumuman dibukanya Selat Hormuz. (Foto: New York City)

KABARBURSA.COM - Wall Street menutup pekan dengan akselerasi yang semakin solid. Hal ini didorong oleh kombinasi faktor geopolitik dan pergerakan harga komoditas yang langsung tercermin dalam struktur indeks. 

Tiga indeks utama kompak mencetak penguatan tajam, dengan S&P 500 dan Nasdaq kembali menorehkan rekor penutupan tertinggi secara beruntun untuk hari ketiga. Sementara Dow Jones mencapai level tertinggi sejak akhir Februari. 

Penguatan ini terjadi mengikuti perubahan cepat dalam persepsi risiko global setelah Iran membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi yang memastikan jalur tersebut “sepenuhnya terbuka” bagi kapal komersial, menjadi pemicu awal perubahan sentimen. Pasar kemudian merespons lebih jauh setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump, mengindikasikan peluang perundingan langsung dengan Teheran dalam waktu dekat. 

Kombinasi dua sinyal ini membentuk ekspektasi baru bahwa konflik yang sebelumnya menekan pasar energi dan memicu kekhawatiran inflasi, mulai bergerak menuju fase deeskalasi.

Harga Minyak Anjlok 11 Persen

Reaksi paling cepat terlihat di pasar minyak. Harga minyak mentah AS anjlok lebih dari 11 persen dalam satu sesi. Di sini terlihat adanya penyesuaian tajam terhadap risiko pasokan yang sebelumnya terancam oleh potensi gangguan di Selat Hormuz. 

Diketahui, jalur ini dikenal sebagai salah satu titik paling krusial dalam distribusi energi global. Tidak heran jika setiap perubahan status operasionalnya langsung berdampak pada ekspektasi inflasi dan biaya produksi lintas sektor.

Penurunan harga energi tersebut menjadi katalis penting bagi penguatan pasar saham. Nasdaq Composite melonjak 365,78 poin atau 1,52 persen ke level 24.468,48, mencatat kenaikan selama 13 sesi berturut-turut, yang menjadi reli terpanjang sejak 1992. 

Dow dan Nasdaq Pesta Pora

Sementara itu, Dow Jones Industrial Average naik 868,71 poin atau 1,79 persen ke 49.447,43, dan S&P 500 menguat 84,78 poin atau 1,20 persen ke 7.126,06. 

Dalam akumulasi mingguan, penguatan terlihat lebih tegas dengan Nasdaq naik 6,84 persen, S&P 500 bertambah 4,53 persen, dan Dow menguat 3,2 persen.

Struktur penguatan juga menunjukkan rotasi sektor yang cukup jelas. Sektor energi justru menjadi penekan utama indeks dengan penurunan 2,9 persen, seiring koreksi harga minyak. 

Saham Exxon Mobil turun 3,6 persen dan Chevron melemah 2,2 persen. Penurunan ini menjadi kontributor negatif terbesar kedua dan ketiga di S&P 500. Begitu sensitivitasnya saham energi terhadap pergerakan harga komoditas, terutama ketika penyesuaian terjadi secara ekstrem dalam waktu singkat.

Sebaliknya, sektor konsumsi non-primer muncul sebagai pendorong utama dengan kenaikan mendekati 2 persen. Saham operator kapal pesiar seperti Royal Caribbean dan Carnival melonjak masing-masing 7,3 persen dan 7 persen. Ekspektasi pemulihan aktivitas perjalanan terlihat lebih kuat ketika tekanan biaya energi mereda.

Sektor industri juga mencatat penguatan signifikan sebesar 1,8 persen, dengan United Airlines naik 7 persen. Kenaikan ini memperkuat pola bahwa sektor berbasis mobilitas langsung merespons penurunan harga bahan bakar.

Di sisi lain, kapitalisasi kecil menunjukkan performa yang lebih agresif. Indeks Russell 2000 naik 2,1 persen dan mencetak rekor penutupan baru setelah sempat menyentuh rekor intraday. 

Pergerakan ini mencerminkan karakteristik emiten small caps yang lebih sensitif terhadap biaya operasional. Di mana penurunan harga energi memberikan dampak yang lebih besar terhadap margin perusahaan dibandingkan yang besar.

Ranjau di Industri Pelayaran

Meski sentimen pasar bergerak positif, kehati-hatian tetap terlihat dari sejumlah indikator. Pelaku industri pelayaran masih menghadapi premi asuransi risiko perang yang tinggi, potensi bahaya ranjau, serta ketidakpastian implementasi di lapangan. 

Artinya, pembukaan Selat Hormuz belum sepenuhnya menghapus hambatan logistik, meskipun secara naratif sudah cukup untuk mendorong perubahan ekspektasi pasar.

Saham Individu Bergerak Fluktuatif

Di tingkat saham individu, tekanan juga masih muncul dari faktor fundamental perusahaan. Netflix turun 9,7 persen setelah memproyeksikan laba kuartal berjalan di bawah ekspektasi analis. Tidak hanya itu, mereka juga mengumumkan mundurnya pendiri sekaligus Chairman Reed Hastings. 

Alcoa juga melemah 6,8 persen akibat laporan kinerja kuartal pertama yang berada di bawah perkiraan. Pelemahan diketahui dipengaruhi oleh biaya tinggi dan permintaan yang melunak.

Dari sisi breadth market, penguatan tergolong luas. Di New York Stock Exchange, saham yang naik mengungguli yang turun dengan rasio 4,03 banding 1, dengan 623 saham mencetak level tertinggi baru dan hanya 46 yang mencatat terendah baru. 

Di Nasdaq, 3.685 saham naik dibandingkan 1.183 yang turun. Ini memperlihatkan dominasi sentimen positif di sebagian besar lini pasar. S&P 500 sendiri mencatat 49 level tertinggi baru tanpa adanya saham yang menyentuh titik terendah baru.

Volume transaksi juga menunjukkan partisipasi yang kuat, dengan total 20,29 miliar saham berpindah tangan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata 20 hari sebesar 19,12 miliar. 

Aktivitas ini juga mengindikasikan bahwa reli yang terjadi tidak hanya didorong oleh sentimen jangka pendek, tetapi juga diikuti aliran dana yang cukup besar ke pasar ekuitas.

Pergerakan ini pada akhirnya membentuk satu pola yang konsisten, yaitu pasar merespons cepat setiap perubahan risiko geopolitik yang berdampak langsung pada harga energi. Ketika tekanan minyak mereda, ekspektasi inflasi ikut turun, biaya produksi berpotensi menurun, dan ruang bagi pertumbuhan kembali terbuka. 

Dalam konteks ini, arah pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi variabel utama berikutnya yang akan terus dipantau pelaku pasar global.(*)

 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79