KABARBURSA.COM – Putrama Wahju Setyawan bukan sosok baru di PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI). Kariernya tumbuh dari dalam, melewati berbagai lini bisnis hingga akhirnya dipercaya memimpin bank pelat merah tersebut.
Penunjukannya sebagai Direktur Utama BNI dalam RUPST Maret 2025 menandai puncak perjalanan panjang seorang bankir. Kepemimpinan Putrama bukan dibentuk oleh sesuatu yang instan, tapi oleh dinamika internal institusi yang kini ia pimpin.
Berbeda dengan figur eksternal, Putrama datang dengan bekal pemahaman mendalam atas struktur, kultur, dan ritme bisnis BNI.
Melansir dari berbagai sumber, Putrama pernah menjajal berbagai posisi strategis meliputi, pengelolaan bisnis korporasi, treasury dan internasional, hingga retail banking. Jejak ini membentuk spektrum pengalaman yang jarang dimiliki secara lengkap oleh satu figur dalam organisasi perbankan besar.
Pengalaman Putrama ini tidak hanya di internal BNI. Ia juga sempat keluar dari BNI dan dipercaya memimpin PT Jamkrindo sebagai Direktur Utama. Pengalaman di luar bank ini memperluas perspektifnya, terutama dalam memahami ekosistem pembiayaan dan penjaminan kredit.
Sebagai “produk internal”, Putrama berada dalam posisi yang relatif berbeda dibandingkan pemimpin yang datang dari luar. Ia tidak memulai dari nol. Pemahaman terhadap kualitas aset, karakter nasabah, hingga pola bisnis historis BNI menjadi modal awal dalam mengambil keputusan.
Di sisi lain, tantangan yang dihadapi juga tidak ringan. Industri perbankan nasional sedang berada dalam fase penyesuaian, mulai dari tekanan margin, percepatan digitalisasi, hingga perubahan perilaku nasabah. Bagi BNI, transformasi bukan lagi sekadar agenda, melainkan kebutuhan untuk menjaga relevansi.
Dalam konteks ini, kepemimpinan Putrama diuji bukan hanya pada kemampuan menjaga stabilitas, tetapi juga dalam mendorong akselerasi. Pengalaman di berbagai lini bisnis memberi ruang baginya untuk melihat transformasi tidak sebagai proyek terpisah, melainkan sebagai proses menyeluruh yang menyentuh seluruh rantai nilai bank.
Pendidikan dan Pengalaman
Dari sisi akademik, Putrama menempuh pendidikan di luar jalur perbankan yang umum. Ia meraih gelar Sarjana Kehutanan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), sebelum melanjutkan studi Magister Manajemen di universitas yang sama. Latar belakang ini menempatkannya sebagai salah satu bankir dengan fondasi pendidikan yang tidak sepenuhnya konvensional.
Mengutip situs resmi BNI, Putrama juga tidak memiliki hubungan afiliasi dengan anggota direksi lainnya, dewan komisaris, maupun pemegang saham utama dan pengendali. Hal ini menegaskan posisinya sebagai profesional murni yang berkembang melalui jalur karier internal.
Karier Putrama di BNI terbangun secara bertahap melalui berbagai peran strategis. Ia pernah menangani fungsi remedial dan recovery kredit korporasi pada periode 2011–2014, sebelum dipercaya memimpin segmen institusi yang menangani hubungan dengan BUMN dan pemerintah pada 2014–2015.
Pengalamannya di bidang pengelolaan kredit bermasalah kembali berlanjut saat menjabat Kepala Divisi Commercial Remedial & Recovery pada 2015–2016.
Memasuki level manajerial yang lebih tinggi, Putrama kemudian mengisi posisi Senior Executive Vice President (SEVP) Middle Business pada 2016. Perannya semakin luas ketika pada 2020 ia dipercaya menjabat Direktur Bisnis Korporasi serta Direktur Treasury dan Internasional BNI.
Di luar BNI, ia sempat memimpin PT Jaminan Kredit Indonesia sebagai Direktur Utama pada periode 2020–2022. Setelah itu, ia kembali ke BNI dan memegang peran sebagai Direktur Retail Banking pada 2022–2024, sebelum diangkat menjadi Wakil Direktur Utama pada 2024–2025.
Rangkaian pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan karier Putrama tidak hanya panjang, tetapi juga mencakup hampir seluruh lini utama bisnis perbankan, mulai dari pengelolaan risiko kredit hingga pengembangan bisnis dan layanan ritel.(*)