Logo
>

S&P dan Moody’s Peringatkan Ancaman Kendali Negara Atas Komoditas

Sentralisasi ekspor komoditas sebagai sentimen negatif bagi profil kredit perusahaan tambang serta berisiko menciptakan distorsi di pasar.

Ditulis oleh Pramirvan Datu
S&P dan Moody’s Peringatkan Ancaman Kendali Negara Atas Komoditas
S&P dan Moody’s Peringatkan Ancaman Kendali Negara Atas Komoditas. Foto: Ilustrasi Batu Bara

KABARBURSA.COM - Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings memperingatkan bahwa rencana pemerintah Indonesia untuk memperketat sekaligus memusatkan kendali ekspor komoditas berpotensi menekan penerimaan negara, memperburuk neraca pembayaran, dan meningkatkan risiko terhadap stabilitas ekonomi makro nasional.

Di saat yang sama, Moody’s Ratings memandang kebijakan sentralisasi ekspor komoditas sebagai sentimen negatif bagi profil kredit perusahaan tambang serta berisiko menciptakan distorsi di pasar.

Moody’s memang mengakui langkah tersebut dapat membantu memperkuat arus devisa dan menopang nilai tukar rupiah. Namun lembaga itu juga menilai kebijakan tersebut berpotensi membebani persepsi investor terhadap konsistensi arah kebijakan ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

Dalam laporan terbarunya, S&P menyebut kontrol ekspor yang lebih ketat dapat menghambat arus perdagangan sejumlah komoditas utama Indonesia, terutama batu bara, crude palm oil (CPO), serta mineral logam seperti nikel dan ferroalloy. Menurut lembaga pemeringkat tersebut, pembatasan ekspor berisiko mengurangi pemasukan devisa dan memperlemah posisi eksternal Indonesia di tengah tekanan ekonomi global yang belum mereda.

S&P juga menilai langkah tersebut meningkatkan ketidakpastian terhadap prospek peringkat kredit Indonesia. Risiko utamanya berasal dari potensi penurunan volume ekspor, menyusutnya penerimaan negara dari sektor komoditas, serta melemahnya neraca transaksi berjalan.

Peringatan itu muncul setelah Presiden Prabowo Subianto mendorong kebijakan pengawasan ekspor yang lebih ketat guna memastikan nilai tambah sumber daya alam dapat dinikmati di dalam negeri. Pemerintah sebelumnya telah memberi sinyal akan memperkuat kontrol terhadap ekspor komoditas strategis demi menjaga pasokan domestik sekaligus mendukung agenda hilirisasi industri nasional.

Namun demikian, pasar mulai mengkhawatirkan potensi gangguan perdagangan dan penurunan minat investor asing, terutama ketika harga komoditas global mulai melandai dan permintaan dari China menunjukkan perlambatan.

Tekanan eksternal terhadap Indonesia juga meningkat seiring pelemahan rupiah yang sempat menyentuh rekor terendah baru terhadap dolar Amerika Serikat pada pekan ini. Situasi tersebut memicu spekulasi bahwa Bank Indonesia kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka ruang bagi kenaikan suku bunga tambahan demi menjaga stabilitas mata uang.

Sejumlah analis menilai ketergantungan Indonesia terhadap ekspor komoditas membuat kebijakan pembatasan ekspor harus diterapkan secara sangat hati-hati. Langkah yang terlalu agresif dikhawatirkan dapat mengganggu arus devisa sekaligus mengikis kepercayaan pasar keuangan terhadap prospek ekonomi nasional.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.