Logo
>

Strategi Investasi 2026, RHB Sekuritas Waspadai Saham Sawit dan Lirik Peluang Migas

Analis RHB Sekuritas menilai risiko kebijakan menekan kinerja emiten sawit, sementara sektor oil and gas dinilai lebih prospektif pada 2026.

Ditulis oleh KabarBursa.com
Strategi Investasi 2026, RHB Sekuritas Waspadai Saham Sawit dan Lirik Peluang Migas
RHB Sekuritas mengingatkan risiko sektor sawit akibat kebijakan domestik, sementara peluang investasi 2026 lebih menarik pada saham sektor migas. Foto: IG @pertamina_ru6

KABARBURSA.COM — Tahun 2026 diprediksi menjadi periode yang menantang bagi investor pasar modal. Perubahan kebijakan, fluktuasi harga komoditas, hingga dinamika geopolitik global disebut akan sangat memengaruhi arah pergerakan saham di dalam negeri. Situasi ini menjadi bahasan utama dalam acara Investor Gathering Kawancuan Indonesia di Dharmein Hotel, Blok M, Jakarta Selatan, Sabtu 7 Februari 2026.

Pertemuan tersebut mempertemukan praktisi pasar modal dan investor untuk membedah dasar-dasar investasi saham sekaligus memetakan prospek pasar ke depan. Salah satu pembicara utama, Equity Research Analyst RHB Sekuritas Indonesia, Arandi Nugraha, menekankan tahun ini menuntut pendekatan investasi yang lebih selektif, terutama pada sektor-sektor berbasis komoditas.

Menurut Arandi, sektor crude palm oil atau CPO menjadi salah satu yang perlu diwaspadai. Meski harga sawit sempat menguat dalam beberapa waktu terakhir, ruang kenaikan ke depan dinilai semakin terbatas.

Ia memproyeksikan harga CPO pada 2026 akan berada di kisaran 4.250 ringgit Malaysia per ton. Dengan asumsi tersebut, potensi keuntungan bagi emiten sawit Indonesia dinilai tidak terlalu menarik dibandingkan pesaingnya di negara tetangga.

“Kalau bisa memilih, investor lebih baik masuk ke emiten plantation berbasis Malaysia. Di Indonesia ada banyak disruption, mulai dari kebijakan pemerintah, penarikan lahan, banjir, sampai rencana kenaikan levy tax ekspor CPO menjadi 12,5 persen,” kata Arandi.

Berbagai faktor tersebut dianggap menambah beban bagi perusahaan sawit nasional. Rencana kenaikan pungutan ekspor, misalnya, berpotensi membuat harga jual CPO Indonesia menjadi kurang kompetitif. Arandi menjelaskan bahwa dengan kebijakan tersebut, nilai yang diterima eksportir Indonesia akan otomatis lebih rendah dibandingkan harga acuan di Malaysia.

Jika harga CPO Malaysia berada pada level tertentu, maka eksportir Indonesia hanya dapat menikmati sekitar 87,5 persen dari harga tersebut. Kondisi ini menciptakan diskon harga yang cukup signifikan dan berdampak langsung pada margin keuntungan emiten.

Selain persoalan pungutan ekspor, kebijakan penertiban kawasan hutan juga menjadi tantangan tersendiri. Sejumlah perusahaan perkebunan harus menghadapi kewajiban membayar denda atas pemanfaatan lahan yang dinilai tidak sesuai ketentuan. Beban tambahan ini berpotensi menekan laba bersih hingga puluhan persen.

"Di 2026 penertiban masih berlanjut, sehingga kemungkinan penalti masih ada.  Untuk saat ini plantation masih butuh perhatian khusus. Kalau ada kenaikan, bisa diperhatikan posisinya.” ujarnya.

Dengan berbagai tekanan tersebut, sektor sawit diperkirakan belum menjadi pilihan utama bagi strategi investasi tahun depan. Investor disarankan lebih berhati-hati dan tidak terlalu agresif menambah porsi di saham-saham perkebunan.

Berbeda dengan pandangannya terhadap CPO, Arandi justru melihat peluang lebih cerah pada sektor oil and gas. Menurutnya, dinamika harga minyak global pada 2026 berpotensi lebih mendukung kinerja emiten energi.

Ia menjelaskan pergerakan harga minyak dunia sangat dipengaruhi tiga faktor utama, yakni keseimbangan pasokan dan permintaan, tingkat persediaan, serta sentimen geopolitik. Ketiga elemen ini, menurutnya, cenderung memberikan dukungan bagi stabilitas harga di level yang lebih tinggi.

Salah satu faktor penting adalah produksi minyak Amerika Serikat. Arandi menilai bahwa pada harga saat ini, banyak perusahaan migas di AS belum cukup tertarik untuk meningkatkan eksplorasi secara agresif. “Jumlah sumur produksi di AS sudah turun sekitar 12–14 persen secara tahunan. Kalau harga minyak tidak favorable, produksi AS bisa turun lebih cepat dari perkiraan,” jelasnya.

Di sisi lain, permintaan global terhadap bahan bakar cair diperkirakan tetap meningkat. Pemulihan ekonomi di berbagai negara, termasuk China sebagai importir minyak terbesar dunia, akan menjaga kebutuhan energi tetap tinggi.

Kombinasi antara pasokan yang cenderung terbatas dan permintaan yang bertumbuh membuat harga minyak diperkirakan sulit turun terlalu dalam. Arandi memperkirakan harga minyak global pada 2026 akan bertahan di atas level USD60 per barel atau sekitar Rp1.011.000 per barel. “Kalau terlalu murah, eksplorasi berhenti. Itu sebabnya banyak kepentingan global menjaga harga minyak tetap di atas USD60,” katanya.

Kondisi tersebut dinilai akan menguntungkan emiten migas, termasuk perusahaan energi di Indonesia. Apalagi pemerintah memiliki target ambisius untuk meningkatkan produksi minyak hingga 1 juta barel per hari dan produksi gas mencapai 12 BSCFD pada 2030.

Arandi menyebut, target itu membuka ruang investasi besar di sektor energi nasional. Indonesia masih memiliki potensi cadangan gas yang melimpah serta berbagai proyek strategis yang dapat menjadi katalis pertumbuhan. “Indonesia menarik karena masih punya cadangan gas besar dan proyek seperti Andaman serta optimalisasi lapangan tua lewat EOR. Ini bisa jadi motor pertumbuhan sektor migas ke depan,” ujar Arandi.

Melalui diskusi dalam Investor Gathering tersebut, RHB Sekuritas mengingatkan strategi investasi 2026 tidak bisa lagi hanya mengandalkan tren masa lalu. Investor perlu lebih cermat membaca arah kebijakan pemerintah, memahami risiko global, serta menilai struktur biaya masing-masing sektor. (Nur Nadiyah)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

KabarBursa.com

Redaksi