KABARBURSA.COM – Bursa saham Eropa melemah pada perdagangan Kamis waktu setempat, 5 Maret 2026, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Ketegangan tersebut muncul setelah konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran semakin meluas serta mengganggu jalur pelayaran energi di kawasan Teluk, termasuk Selat Hormuz.
Head of Financial Analysis AJ Bell Danni Hewson, mengatakan konflik yang terus berlanjut membuat pelaku pasar mulai meninjau ulang ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter dalam beberapa bulan mendatang.
“Semakin sulit melihat penyelesaian cepat untuk konflik di Timur Tengah. Hal ini memaksa pasar meninjau kembali ekspektasi mereka terhadap suku bunga dalam beberapa bulan ke depan,” ujarnya.
Berdasarkan data perdagangan regional, indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup turun 1,29 persen atau 7,88 poin ke level 604,83. Pelemahan ini terjadi setelah indeks tersebut sempat menguat hingga sekitar 0,6 persen pada awal sesi perdagangan dan sehari sebelumnya mencatat kinerja harian terbaik dalam lebih dari tiga bulan.
Tekanan juga terjadi di sejumlah bursa utama kawasan. Indeks DAX Jerman turun 1,61 persen atau 389,61 poin ke posisi 23.815,75. Indeks FTSE 100 Inggris terkoreksi 1,45 persen atau 153,71 poin menjadi 10.413,94, sementara indeks CAC 40 Prancis melemah 1,49 persen atau 121,93 poin ke level 8.045,80.
Selat Hormuz dan Potensi Melonjaknya Harga Energi
Pelemahan pasar saham Eropa terjadi bersamaan dengan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi lonjakan harga energi setelah lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz terganggu. Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu titik distribusi minyak paling penting di dunia karena dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak global.
Serangan terhadap kapal tanker yang terus dilaporkan di kawasan Teluk turut memperkuat kekhawatiran pasar terhadap gangguan distribusi energi global. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap peningkatan biaya energi dan dampaknya terhadap aktivitas ekonomi di berbagai kawasan, termasuk Eropa yang masih bergantung pada impor energi.
Dari sisi sektoral, saham perusahaan industri yang berorientasi ekspor menjadi salah satu penekan terbesar bagi indeks regional. Indeks sektor ini tercatat turun sekitar 2,4 persen selama perdagangan.
Tekanan juga terlihat pada saham perusahaan energi dan industri teknologi energi. Saham Siemens Energy di Jerman tercatat melemah sekitar 6 persen dalam satu sesi perdagangan.
Sektor kedirgantaraan dan pertahanan Eropa juga mencatat penurunan tajam. Saham Rolls-Royce Holdings di Inggris serta Rheinmetall di Jerman masing-masing turun lebih dari 5 persen.
Secara keseluruhan, indeks sektor aerospace and defence di kawasan Eropa melemah sekitar 4,2 persen pada hari tersebut. Penurunan ini menjadi pelemahan harian paling tajam bagi sektor tersebut sejak April.
Saham Perbankan Anjlok 1,7 Persen
Saham sektor perbankan juga ikut tertekan. Indeks sektor bank Eropa turun sekitar 1,7 persen selama perdagangan, seiring meningkatnya ketidakpastian pasar global.
Sementara itu, saham sektor perjalanan dan rekreasi melemah sekitar 1,8 persen. Pelemahan sektor ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap biaya transportasi dan energi yang lebih tinggi.
Sektor pertambangan juga mengalami tekanan signifikan. Indeks saham perusahaan tambang Eropa turun sekitar 3,8 persen setelah harga sejumlah logam industri mengalami penurunan di pasar global.
Analis Swissquote Bank Ipek Ozkardeskaya mengatakan volatilitas pasar kemungkinan masih akan berlanjut selama konflik belum menunjukkan arah penyelesaian yang jelas. Menurutnya, kondisi tersebut membuat pelaku pasar mengambil langkah lebih hati-hati dalam menentukan posisi investasi.
ECB Ingatkan Potensi Inflasi
Di sisi kebijakan moneter, sejumlah pejabat Bank Sentral Eropa (European Central Bank / ECB) juga menyampaikan peringatan mengenai potensi dampak konflik terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi kawasan. Gangguan pasokan energi dapat meningkatkan tekanan harga di tengah pemulihan ekonomi zona euro yang masih berlangsung.
Bank investasi Morgan Stanley bahkan memperkirakan ECB akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini hingga tahun 2026 apabila risiko inflasi dari lonjakan harga energi terus meningkat.
Di tengah pelemahan pasar secara umum, beberapa saham perusahaan mencatat pergerakan berbeda. Perusahaan pengendalian hama asal Inggris Rentokil Initial menjadi saham dengan kinerja terbaik di indeks STOXX 600 setelah melonjak 10,7 persen.
Kenaikan tersebut terjadi setelah perusahaan melaporkan peningkatan laba sebelum pajak tahunan yang disesuaikan sebesar 4 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Sebaliknya, saham perusahaan logistik Jerman DHL Group turun 4,6 persen setelah perusahaan melaporkan penurunan laba operasional kuartal keempat sebesar 1,3 persen. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh melemahnya aktivitas bisnis pengiriman kargo.
Tekanan paling tajam terjadi pada perusahaan pembayaran asal Italia Nexi. Saham perusahaan tersebut ambles sekitar 22 persen dan mencatat rekor terendah baru setelah manajemen mengumumkan strategi bisnis tiga tahun yang menyoroti meningkatnya tantangan di sektor pembayaran digital Eropa.
Pergerakan bursa saham Eropa pada hari tersebut menunjukkan sensitivitas pasar terhadap perkembangan geopolitik global, terutama yang berkaitan dengan distribusi energi internasional. Ketegangan di kawasan Timur Tengah dan gangguan di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang saat ini dipantau oleh pelaku pasar global.(*)