KABARBURSA.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan konflik yang melibatkan negaranya bersama Israel terhadap Iran mendekati akhir. Pernyataan itu muncul di tengah upaya diplomasi yang masih berlangsung untuk mencegah eskalasi lanjutan.
Langkah diplomatik terus digencarkan, termasuk kehadiran Kepala Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, di Teheran. Ia disebut berperan sebagai mediator untuk memperkecil perbedaan antara kedua pihak.
Di saat yang sama, peluang negosiasi lanjutan juga terbuka. Sejumlah pejabat dari Pakistan, Iran, dan negara Teluk menyebut pembicaraan bisa kembali digelar dalam waktu dekat setelah perundingan sebelumnya berakhir tanpa kesepakatan.
Trump menunjukkan optimisme terhadap arah konflik tersebut. “Saya pikir ini sudah sangat dekat dengan berakhir,” ujarnya, dilansir dari Reuters, Kamis, 16 Apri 2026.
Ia juga menilai kedua pihak memiliki keinginan kuat untuk mencapai kesepakatan, meskipun situasi di lapangan masih belum sepenuhnya stabil.
Sementara itu, Israel disebut berharap gencatan senjata selama dua pekan yang telah disepakati dapat diperpanjang. Namun Trump justru mengisyaratkan perpanjangan mungkin tidak diperlukan. “Saya pikir Anda akan melihat dua hari yang luar biasa ke depan,” katanya.
Di balik optimisme tersebut, tekanan militer tetap berlangsung. Amerika Serikat melanjutkan blokade terhadap pelabuhan Iran, yang berdampak pada terhentinya aktivitas perdagangan laut negara tersebut.
Militer AS menyatakan tidak ada kapal yang berhasil melewati blokade dalam 48 jam pertama. Sejumlah kapal bahkan diminta berbalik arah menuju wilayah Iran. Namun laporan dari media Iran menyebut masih ada kapal tanker yang berhasil melintasi jalur tersebut, meski berada di bawah sanksi.
Situasi ini membuat ketegangan tetap tinggi. Iran memperingatkan akan menghentikan arus perdagangan di kawasan Teluk, Laut Oman, hingga Laut Merah jika blokade terus berlanjut.
Ancaman itu membuka risiko gangguan terhadap jalur perdagangan global, termasuk rute strategis yang terhubung dengan Terusan Suez. Di sisi lain, pasar global mulai merespons perkembangan ini. Optimisme atas potensi berakhirnya konflik mendorong indeks saham dunia mendekati level tertinggi.
Harga minyak juga bergerak naik, berada di kisaran USD95 per barel (Rp1,61 juta per barel), seiring terganggunya distribusi energi akibat blokade.
Meski demikian, sejumlah negara tetap mengingatkan dampak ekonomi dari konflik ini tidak akan hilang dalam waktu singkat. Menteri keuangan dari hampir selusin negara, yang dipimpin Inggris, mendesak semua pihak untuk menjalankan komitmen gencatan senjata secara penuh.
Peringatan juga datang dari sisi militer. Trump menegaskan Amerika Serikat memiliki kemampuan untuk meningkatkan serangan jika konflik kembali memanas.
“Kami bisa menghancurkan semua jembatan mereka dalam satu jam. Kami bisa menghancurkan semua pembangkit listrik mereka dalam satu jam. Kami tidak ingin melakukan itu, jadi kita lihat saja nanti,” ujarnya.
Di tengah tarik-menarik antara diplomasi dan tekanan militer, arah konflik masih belum sepenuhnya pasti. Namun untuk sementara, pasar memilih membaca sinyal optimisme sebagai harapan bahwa ketegangan akan mereda.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.