KABARBURSA.COM — Lonjakan harga minyak dunia di tengah meningkatnya konflik Iran kembali memicu tekanan politik terhadap bank sentral Amerika Serikat. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak Ketua Federal Reserve Jerome Powell agar segera menurunkan suku bunga untuk meredam dampak ekonomi dari gejolak energi global.
Trump menyampaikan tuntutan tersebut melalui unggahan di media sosial Truth Social pada Kamis, kemarin.
“Dia seharusnya menurunkan suku bunga segera,” tulis Trump, dikutip dari Reuters, Jumat, 13 Maret 2026.
Permintaan itu muncul ketika harga minyak melonjak tajam setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari. Situasi geopolitik yang memanas mendorong kekhawatiran pasar bahwa lonjakan harga energi akan memperburuk inflasi di Amerika Serikat.
Akibatnya pelaku pasar mulai mengubah ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed. Sebelum konflik pecah, kontrak berjangka suku bunga memperkirakan bank sentral AS akan memangkas suku bunga dua kali hingga akhir tahun.
Namun setelah harga minyak melonjak, ekspektasi tersebut menyusut. Saat ini pasar hanya memperkirakan kemungkinan satu kali pemangkasan suku bunga hingga akhir tahun.
Perubahan ekspektasi itu terjadi meskipun Kevin Warsh, mantan Gubernur Federal Reserve yang dikenal lebih mendukung penurunan suku bunga, diperkirakan akan menggantikan Jerome Powell sebagai ketua bank sentral pada pertengahan Mei ketika masa jabatan Powell berakhir.
Di sisi lain ketegangan geopolitik semakin meningkat setelah Pemimpin Tertinggi Iran yang baru Mojtaba Khamenei menyatakan akan mempertahankan penutupan Selat Hormuz.
Langkah tersebut berpotensi mengganggu jalur distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dunia yang melewati selat strategis tersebut.
Dampaknya langsung terasa di pasar energi. Harga minyak mentah West Texas Intermediate melonjak hingga USD95.70 per barel atau sekitar Rp1.617.000 per barel.
Kenaikan harga minyak diperkirakan akan memicu efek berantai terhadap perekonomian global. Harga bahan bakar yang lebih mahal berpotensi mendorong kenaikan biaya transportasi dan pada akhirnya meningkatkan harga berbagai barang konsumsi termasuk pangan.
Para analis juga memperingatkan potensi kenaikan harga pangan karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama pengiriman pupuk dunia.
Analis Goldman Sachs memperkirakan inflasi pengeluaran konsumsi pribadi di Amerika Serikat dapat naik hingga sekitar 2,9 persen pada Desember. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan target inflasi Federal Reserve yang berada di level 2 persen.
Seiring perubahan proyeksi inflasi tersebut, Goldman Sachs juga menunda perkiraan waktu penurunan suku bunga oleh Federal Reserve. Jika sebelumnya diperkirakan terjadi pada Juni, kini pemangkasan suku bunga diproyeksikan baru terjadi pada September.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.