KABARBURSA.COM – Kenaikan harga emas yang konsisten sepanjang 2025 tidak hanya mencerminkan kinerja positif aset lindung nilai, tetapi juga membawa konsekuensi ekonomi lanjutan.
Di tengah lonjakan harga logam mulia, sebagian dana masyarakat justru “parkir” di emas, sehingga perputaran uang melambat dan konsumsi rumah tangga melemah.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai, tingginya minat masyarakat membeli emas berdampak langsung pada aktivitas ekonomi riil. Menurut dia, uang yang dialihkan ke emas tidak lagi beredar di sektor konsumsi.
“Ya, jadi gini, kenaikan harga emas, banyaknya masyarakat membeli emas, ini sebenarnya jelek bagi ekonomi. Karena tidak ada perputaran uang,” ujar Ibrahim kepada KabarBursa.com, Selasa, 30 Desember 2025.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut turut tercermin pada tekanan daya beli masyarakat. Ketika dana dialihkan ke logam mulia, belanja rumah tangga ikut tertahan.
“Masyarakat sekarang kalau punya uang, kalau sudah beli logam mulia, mereka enggak belanja atau jajan. Karena uangnya sudah masuk ke emas. Nah itu yang membuat daya beli masyarakat menurun,” kata dia.
Ibrahim menyebut, situasi ini bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di sejumlah negara lain yang mengalami lonjakan harga emas. Momentum kenaikan harga emas dunia dimanfaatkan masyarakat untuk berinvestasi, terutama dalam jangka menengah hingga panjang.
Di sisi lain, ia mengakui bahwa dari sudut pandang individu, emas tetap dipandang sebagai instrumen lindung nilai.
“Ia hanya bisa memiliki harta itu apabila mereka itu menginvestasikan uangnya adalah di logam mulia secara jangka menengah, jangka panjang. Tiga sampai lima tahun baru akan ketahuan hasilnya,” ujarnya.
Namun, menurut Ibrahim, konsekuensi makro dari tren tersebut perlu dicermati, terutama ketika konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama perekonomian. Ia menilai, ketika semakin banyak dana mengendap di emas, ruang belanja masyarakat semakin terbatas.
Ibrahim juga melihat ada perubahan perilaku konsumsi. Ia mengungkapkan saat ini sudah banyak masyarakat yang sudah tidak senang makan di warung karena daya beli menurun.
Sebelumnya diberitakan, harga emas dunia mencatatkan kenaikan signifikan sepanjang 2025. Pada awal Januari 2025, harga emas masih berada di level USD2.619,3 per ons atau setara USD92,554 per gram.
Hingga 30 Desember 2025 pukul 13.00 WIB, harga emas telah menyentuh USD4.353 per ons atau setara USD153,816 per gram, dengan lonjakan sekitar USD61,261 per gram.(*)