KABARBURSA.COM - Kinerja PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) sepanjang 2025 menunjukkan pergerakan yang ditopang oleh kombinasi bisnis inti dan kontribusi non-rutin dari penjualan lahan. Dalam laporan terbaru, laba bersih tahun buku 2025 tercatat sebesar Rp2,5 triliun atau tumbuh 11 persen secara tahunan.
Tumbuhnya laba bersih ini sejalan dengan ekspektasi analis yang menempatkan capaian ini tepat di kisaran proyeksi pasar. Pada kuartal IV saja, laba bersih mencapai sekitar Rp820 miliar, meningkat 9 persen secara tahunan dan melonjak 75 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Lonjakan pada kuartal akhir tersebut tidak terlepas dari kembali munculnya kontribusi penjualan lahan yang pada kuartal III sebelumnya tidak tercatat. AKRA mencatat penjualan lahan sebesar 62 hektare kepada Golden Elephant dan sejumlah perusahaan kimia, yang menjadi salah satu pendorong utama kinerja.
Di saat yang sama, bisnis inti di sektor perdagangan petroleum dan kimia tetap berjalan, dengan pendapatan perdagangan meningkat 26 persen secara tahunan menjadi Rp11,7 triliun.
Dari sisi operasional, pergerakan segmen petroleum menjadi kontributor utama pertumbuhan. Pendapatan dari segmen ini mencapai Rp9,7 triliun pada kuartal IV 2025 atau meningkat 31 persen secara tahunan dan 18 persen secara kuartalan.
Kenaikan ini terbentuk dari kombinasi volume penjualan dan harga jual rata-rata yang sama-sama meningkat, yang kemudian berdampak pada perbaikan margin per liter dibandingkan kuartal sebelumnya.
Sementara itu, segmen kimia menunjukkan pergerakan yang lebih terbatas. Pendapatan tercatat relatif stabil secara kuartalan di kisaran Rp1,9 triliun, dengan kenaikan harga jual rata-rata yang diimbangi oleh penurunan volume penjualan.
Pola ini membuat kontribusi segmen kimia tidak mengalami perubahan signifikan dalam struktur pendapatan kuartalan, berbeda dengan segmen petroleum yang menunjukkan akselerasi lebih jelas.
Di tingkat profitabilitas, AKRA mencatat perbaikan margin kotor secara kuartalan dengan ekspansi sekitar 190 basis poin ke kisaran 8 persen, meskipun masih berada di bawah posisi tahun sebelumnya yang mendekati 9,7 persen.
Beban operasional meningkat 17 persen secara tahunan menjadi Rp320 miliar, namun masih diimbangi dengan pertumbuhan EBITDA sebesar 15 persen menjadi sekitar Rp1,1 triliun. Tidak terdapat komponen non-operasional yang signifikan, sehingga laba bersih mencerminkan kinerja operasional secara langsung.
Target Pertumbuhan Laba 2026
Memasuki 2026, manajemen menetapkan target pertumbuhan laba bersih di kisaran 7 hingga 10 persen secara tahunan. Target ini didukung oleh proyeksi pertumbuhan bisnis inti perdagangan sebesar 4 hingga 6 persen, serta rencana penjualan lahan di kisaran 90 hingga 100 hektare sepanjang tahun.
Proyeksi tersebut menempatkan AKRA dalam jalur pertumbuhan yang lebih bertahap dibandingkan lonjakan yang terjadi pada kuartal tertentu di 2025.
Dalam proyeksi jangka menengah, pendapatan AKRA diperkirakan meningkat dari Rp43,45 triliun pada 2025 menjadi Rp50,24 triliun pada 2026 dan Rp55,57 triliun pada 2027. EBITDA diproyeksikan naik dari Rp3,59 triliun menjadi Rp4,52 triliun pada 2026 dan Rp5,11 triliun pada 2027, sementara laba bersih diperkirakan mencapai Rp2,82 triliun pada 2026 dan Rp2,97 triliun pada 2027.
Rasio valuasi menunjukkan tren penurunan, dengan PER yang bergerak dari 9,6 kali pada 2025 menjadi 8,4 kali pada 2026 dan 8,0 kali pada 2027, serta EV/EBITDA yang turun dari 6,4 kali menjadi 5,1 kali dan 4,5 kali dalam periode yang sama.
Di tengah proyeksi tersebut, sentimen eksternal juga menjadi faktor yang diperhatikan pasar. Ketatnya pasokan petroleum di pasar global, yang dalam beberapa kondisi sebelumnya mampu mendorong ekspansi margin, menjadi salah satu variabel yang dapat memengaruhi kinerja.
Dengan struktur bisnis yang menggabungkan perdagangan energi dan pengembangan kawasan industri, pergerakan AKRA berada dalam persilangan antara dinamika komoditas global dan aktivitas industri domestik.
Dalam satu rangkaian, kinerja 2025 yang ditopang oleh kombinasi penjualan lahan dan penguatan bisnis inti, proyeksi pertumbuhan bertahap pada 2026, serta perubahan rasio valuasi membentuk gambaran pergerakan AKRA ke depan. Dinamika ini mencerminkan bagaimana perusahaan bergerak di antara faktor operasional, kontribusi non-rutin, dan sentimen eksternal yang terus berkembang.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.