Logo
>

Asing Kabur dari Big Caps, BMRI hingga DSSA Dibuang Besar-besaran

Gelombang net foreign sell menghantam saham perbankan, energi, hingga konglomerasi pada sesi I perdagangan 11 Mei 2026 dan menyeret IHSG jatuh lebih dari 1 persen.

Ditulis oleh Yunila Wati
Asing Kabur dari Big Caps, BMRI hingga DSSA Dibuang Besar-besaran
BUMI menjadi salah satu saham yang banyak dijual asing di sesi pertama perdagangan hari ini. (Foto: dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Pasar saham Indonesia benar-benar berada dalam tekanan pada sesi pertama perdagangan Senin, 11 Mei 2026. Bukan sekadar koreksi biasa, pelemahan IHSG kali ini terasa lebih dalam karena dipicu arus keluar dana asing yang menyasar langsung saham-saham berkapitalisasi besar dan emiten penggerak indeks.

Data MNC Sekuritas menunjukkan investor asing membukukan net sell sekitar 93,81 juta saham di pasar reguler. Aksi distribusi itu menjadi salah satu pemantik utama ambruknya IHSG hingga 1,14 persen ke level 6.890,27. 

Saham yang paling agresif dilepas asing adalah PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Emiten batu bara grup Bakrie itu mencatat net foreign sell mencapai 96,18 juta saham. Volume jual asing bahkan menembus 609,53 juta saham, jauh di atas volume beli sebesar 513,35 juta saham. 

Tekanan di BUMI memperlihatkan investor global mulai mengurangi eksposur pada saham berbasis batu bara dan komoditas berisiko tinggi di tengah sentimen pasar yang sedang defensif.

Namun tekanan terbesar terhadap IHSG justru datang dari PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Saham konglomerasi energi milik Grup Sinar Mas itu dibuang asing hingga mencatat net sell sebesar 73,39 juta saham. Aksi jual di DSSA menjadi sorotan karena terjadi menjelang pengumuman evaluasi indeks MSCI pada 12 Mei 2026. 

Pasar khawatir saham ini berpotensi keluar dari indeks global tersebut, sehingga investor asing memilih keluar lebih awal untuk menghindari risiko likuiditas dan rebalancing fund global.

Tekanan berikutnya datang dari sektor perbankan. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi salah satu korban utama aksi profit taking asing dengan net sell mencapai 39,99 juta saham. Momentum ex date dividen membuat investor asing memilih merealisasikan keuntungan setelah reli panjang sektor bank jumbo beberapa bulan terakhir.

Yang membuat kondisi pasar semakin berat, BMRI bukan sekadar saham biasa. Sebagai salah satu penggerak utama IHSG, tekanan di saham ini langsung menyeret indeks lebih dalam. Tidak heran jika sektor keuangan menjadi salah satu kontributor pelemahan terbesar pada perdagangan sesi pertama hari ini.

Di luar sektor bank, investor asing juga tampak mengurangi posisi di saham grup Prajogo Pangestu. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mencatat net sell sebesar 35,72 juta saham. Aksi jual di BRPT memperlihatkan pasar mulai menghindari saham-saham berbasis petrokimia dan energi baru yang sebelumnya menjadi motor reli besar IHSG.

Sementara itu, saham PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk melalui kode BIPI juga ikut masuk radar distribusi asing dengan net sell mencapai 37,36 juta saham. Besarnya tekanan jual menunjukkan investor global sedang melakukan reposisi portofolio ke aset yang dianggap lebih aman.

Jika ditarik lebih luas, pola foreign flow hari ini memperlihatkan satu benang merah yang jelas: asing sedang keluar dari saham-saham agresif, cyclical, dan berbasis sentimen global. Mereka memilih mengurangi risiko menjelang pengumuman MSCI, tekanan harga komoditas, hingga meningkatnya ketidakpastian arus modal global.

Selain lima saham utama tersebut, tekanan asing juga terlihat di saham DEWA, PADI, BBKP, ANTM, hingga ESIP. Ini mempertegas bahwa aksi jual bukan terjadi secara sporadis, melainkan cukup merata di berbagai sektor.

Di tengah derasnya arus keluar dana asing, IHSG praktis kehilangan tenaga penopang. Saham-saham yang biasanya menjadi bantalan pasar justru berubah menjadi sumber tekanan utama. Investor domestik memang sempat mencoba menahan pelemahan, namun derasnya distribusi asing membuat tekanan jual sulit dibendung.

Melihat pola transaksi hari ini, pasar tampaknya masih akan bergerak fluktuatif dalam jangka pendek. Fokus investor kini tertuju pada hasil evaluasi MSCI dan arah arus modal asing dalam beberapa hari ke depan. Jika aksi jual asing belum mereda, IHSG masih berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area support berikutnya.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79