KABARBURSA.COM – PT Alamtri Resources Indonesia Tbk, berkode saham ADRO, Tengah focus pada ekspansi bisnisnya. Perseroan mencoba memposisikan diri lebih agresif sebagai pemain energi, khususnya listrik berbasis energi terbarukan, yang diharapkan mesin pertumbuhan baru mulai 2026. Lalu, bagaimana dengan produksi batu Baranya?
Ekspansi ADRO sepertinya tidak main-main. Dalam porsi belanja dan proyek yang sedang disiapkan, jelas bahwa ADRO mempersiapkan dengan matang pengembangan portofolio pembangkit listrik terbarukan berskala besar.
Portofolio tersebut mencakup pembangkit listrik tenaga air berkapasitas sekitar 1,3 GW, tenaga surya 0,4 GW, serta proyek smelter aluminium berkapasitas 500 ribu ton per tahun yang akan terintegrasi dengan pasokan listrik sendiri. Seluruh proyek ini dijadwalkan mulai beroperasi bertahap di 2026.
Salah satu aspek paling menarik adalah rencana ekspor listrik tenaga surya ke Singapura. Listrik dari pembangkit surya tersebut diproyeksikan dijual dengan tarif sekitar USD0,25 per kWh, jauh di atas tarif listrik domestik.
Skema ini membuka peluang margin yang lebih stabil dan berulang, sekaligus mengurangi ketergantungan ADRO pada volatilitas harga batubara global. Dari sudut pandang pasar, ini memperkuat narasi bahwa ekspansi listrik ADRO bukan sekadar proyek ESG, melainkan investasi komersial dengan potensi imbal hasil menarik.
Kinerja Batu Bara Masih Solid
Di tengah fase transisi tersebut, kinerja batubara ADRO sepanjang 2025 menunjukkan dinamika yang relatif solid secara operasional, meski tertekan secara laba akibat harga jual. Pada kuartal III-2025, ADRO membukukan laba bersih sebesar USD127 juta, naik 29 persen secara kuartalan.
Kenaikan ini terutama didorong oleh peningkatan volume produksi serta penurunan biaya kas. Namun secara kumulatif, laba bersih sembilan bulan pertama 2025 tercatat USD302 juta, turun 75 persen secara tahunan.
Penurunan tajam ini perlu dibaca secara kontekstual, karena basis laba tahun sebelumnya sangat tinggi akibat adanya divestasi satu kali pada kuartal III-2024. Jika faktor one-off tersebut dikeluarkan, penurunan laba bersih sebenarnya hanya sekitar 19,5 persen secara tahunan.
Dari sisi pendapatan, ADRO mencatatkan revenue kuartal III-2025 sebesar USD490 juta, naik 3 persen secara kuartalan dan hanya turun tipis 1 persen secara tahunan. Kinerja ini ditopang oleh peningkatan aktivitas overburden removal melalui anak usaha SIS.
Secara akumulatif, pendapatan Januari–September 2025 mencapai sekitar USD1,3 miliar, turun 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, masih sejalan dengan tekanan harga batubara global.
Penjualan batu bara justru menunjukkan tren yang cukup konstruktif. Pada kuartal III-2025, volume penjualan mencapai 1,5 juta ton, melonjak 28 persen secara tahunan. Secara kumulatif, penjualan sepanjang Januari–September 2025 tercatat 4,4 juta ton, tumbuh 17 persen yoy dan sejalan dengan proyeksi manajemen.
Di saat yang sama, disiplin biaya menjadi penopang penting. Biaya kas turun menjadi USD54 per ton pada kuartal III-2025, dengan rata-rata USD56 per ton sepanjang sembilan bulan pertama 2025, atau turun sekitar 5 persen. Kombinasi volume yang meningkat dan biaya yang lebih efisien membantu menahan tekanan margin di tengah harga jual yang melemah.
Target Harga dan Konsensus Analis
Dari perspektif valuasi pasar, konsensus analis masih memberikan ruang apresiasi yang cukup besar bagi saham ADRO. Dengan harga saat ini di kisaran Rp1.810, target harga rata-rata analis berada di Rp2.556.
Rentang estimasi cukup lebar, dengan target terendah di Rp2.000 dan target tertinggi mencapai Rp3.800, mencerminkan perbedaan asumsi terkait kecepatan dan keberhasilan transformasi energi ADRO.
Konsensus kinerja ke depan juga mencerminkan fase pemulihan bertahap. Pendapatan diperkirakan turun dari Rp32,95 triliun pada 2024 menjadi Rp29,47 triliun pada 2025, sebelum kembali meningkat signifikan ke sekitar Rp40,93 triliun pada 2026.
Laba operasi diproyeksikan pulih dari Rp7,24 triliun pada 2025 menjadi Rp9,60 triliun pada 2026, sementara laba bersih diperkirakan naik dari Rp6,39 triliun menjadi Rp7,96 triliun. EPS pun diproyeksikan membaik dari 210,27 pada 2025 menjadi 247,48 pada 2026.
Secara keseluruhan, ADRO saat ini berada dalam fase “dua dunia”. Bisnis batubara masih menopang arus kas dengan volume yang solid dan biaya yang semakin efisien, meski laba tertekan oleh siklus harga.
Di saat yang sama, ekspansi agresif ke listrik dan energi terbarukan mulai membentuk fondasi pertumbuhan baru yang lebih stabil dan berjangka panjang. Inilah yang membuat ADRO tetap menarik di mata analis dan investor, bukan hanya sebagai saham siklikal batu bara, tetapi sebagai kandidat transformasi energi yang mulai menunjukkan arah dan skala yang jelas.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.