KABARBURSA.COM – Pergerakan saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dalam beberapa hari terakhir mulai membentuk satu rangkaian cerita yang tidak hanya berkaitan dengan harga di layar, tetapi juga perubahan struktur internal yang sedang berlangsung di dalam perusahaan.
Kenaikan 15,43 persen dalam lima hari terakhir hingga ditutup di level Rp5.425 pada Jumat, 10 April 2026, muncul bersamaan dengan serangkaian agenda korporasi dan transisi operasional yang belum sepenuhnya selesai.
Salah satu titik yang mulai diperhatikan adalah rencana pengalihan saham hasil buyback ke dalam program employee stock option plan (ESOP) dan management stock option program (MSOP).
AMMN menyiapkan maksimal 105,8 juta saham treasuri untuk dialihkan kepada karyawan, direksi, dan komisaris, setelah sebelumnya menggelontorkan dana buyback sebesar Rp788,29 miliar.
Skema ini tidak hanya mengubah struktur kepemilikan secara bertahap, tetapi juga menggeser posisi saham treasury, dari sekadar cadangan menjadi instrumen distribusi internal.
Pelaksanaan program ini masih menunggu persetujuan RUPS pada 19 Mei 2026, termasuk penetapan harga pelaksanaan dan periode distribusi. Namun secara struktur, langkah ini menunjukkan bahwa saham hasil buyback tidak akan disimpan dalam jangka panjang, melainkan dialirkan kembali ke pasar dalam bentuk kepemilikan manajemen.
Dalam konteks pasar, pergerakan ini berpotensi menciptakan dinamika baru antara suplai saham dan kepemilikan internal.
Kinerja Perusahaan dalam Tekanan
Di sisi lain, arah fundamental AMMN masih bergerak dalam fase transisi yang cukup dalam. Sepanjang 2025, kinerja perusahaan berada dalam tekanan dengan estimasi pendapatan turun 57 persen menjadi USD1,14 miliar.
Penurunan ini terjadi seiring rendahnya volume produksi pada awal fase eksplorasi Fase 8 di Tambang Batu Hijau, setelah berakhirnya Fase 7 pada akhir 2024. Dengan demikian, tekanan kinerja bukan berasal dari permintaan pasar, melainkan dari perubahan fase operasional tambang itu sendiri.
Meski demikian, data menunjukkan adanya perbaikan bertahap sepanjang 2025, terutama dari kuartal pertama hingga kuartal ketiga. Aktivitas produksi dan pengapalan mulai kembali bergerak lebih stabil dibandingkan awal tahun.
Ini menandakan bahwa fase transisi mulai terlewati secara bertahap dan menjadi dasar proyeksi bahwa 2026 akan menjadi periode normalisasi produksi yang lebih konsisten.
Arah pemulihan ini juga diperkuat oleh mulai beroperasinya fasilitas smelter yang dibangun sepanjang 2025. Dengan kapasitas produksi mencapai 220 ribu ton katoda tembaga, 830 ribu ton asam sulfat, serta pemurnian logam mulia hingga 579 ribu ons emas dan 1,8 juta ons perak, fasilitas ini menjadi bagian penting dalam perubahan model bisnis AMMN, dari ekspor konsentrat ke produk hilir.
Perubahan ini langsung tercermin dalam laporan keuangan, di mana perusahaan mulai mencatat penjualan produk akhir sebesar USD1,25 miliar pada tahun pertama operasionalnya.
Namun, transisi ini juga membawa konsekuensi pada struktur keuangan. Total aset meningkat 24,72 persen menjadi USD5,63 miliar, yang didorong oleh kenaikan aset tetap. Di sisi lain, liabilitas jangka panjang melonjak 49,04 persen menjadi USD5,88 miliar akibat penarikan pinjaman untuk membiayai proyek hilirisasi.
Beban keuangan pun naik 36,06 persen menjadi USD386,05 juta. Inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor utama penekan laba bersih.
Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun menjadi USD248,98 juta. Hal ini sejalan dengan penurunan EPS dari 0,00878 USD menjadi 0,00344 USD. Rasio profitabilitas seperti ROA 1,86 persen dan ROE 4,75 persen menunjukkan bahwa aset yang baru dibangun belum sepenuhnya memberikan kontribusi optimal terhadap laba.
Di sisi lain, margin laba kotor masih berada di level 45,25 persen, mencerminkan efisiensi operasional yang relatif terjaga.
Proyeksi Pendapatan AMMN dan Target Harga
Dalam kerangka yang lebih luas, proyeksi ke depan mulai menunjukkan arah yang berbeda. Dengan normalisasi produksi, peningkatan utilisasi smelter, serta perbaikan kadar bijih, pendapatan AMMN diperkirakan tumbuh dengan CAGR 23 persen pada periode 2024–2028, sementara EBITDA diproyeksikan meningkat dengan CAGR 39 persen.
Margin EBITDA bahkan diperkirakan naik dari sekitar 50 persen pada 2026 menjadi 63 persen pada 2028, seiring peningkatan efisiensi dan volume produksi.
Dari sisi valuasi, saham AMMN saat ini berada pada level yang tergolong premium dengan PER sekitar 85 kali. Angka ini mencerminkan ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan kinerja pasca-hilirisasi.
Rekomendasi pasar masih berada pada level beli dengan target harga hingga Rp9.550 per saham, menunjukkan adanya ruang kenaikan yang cukup lebar dibandingkan harga saat ini.
Strategi Besok, Buy on weakness?
Masuk ke pergerakan teknikal, penguatan saham AMMN sebesar 1,40 persen ke level Rp5.425 disertai dengan peningkatan volume pembelian menunjukkan adanya dorongan akumulasi dalam jangka pendek.
Dalam struktur gelombang, posisi saat ini berada pada bagian awal wave C dari wave (B), yang secara teknikal masih membuka ruang lanjutan pergerakan.
Area buy on weakness berada di kisaran Rp5.125 hingga Rp5.300, sementara target harga berada di rentang Rp5.875 hingga Rp6.300 dengan batas bawah di Rp5.050.
Struktur ini menempatkan pergerakan saat ini dalam fase awal kenaikan setelah periode koreksi sebelumnya, dengan arah yang masih bergantung pada kekuatan volume yang masuk di pasar.
Jika disatukan, pergerakan AMMN saat ini terbentuk dari kombinasi antara transisi fundamental, perubahan struktur kepemilikan melalui ESOP/MSOP, serta ekspektasi terhadap fase produksi baru yang mulai berjalan pada 2026.
Harga saham bergerak lebih cepat di permukaan, sementara di bawahnya, struktur bisnis dan keuangan masih berada dalam proses penyesuaian yang belum sepenuhnya selesai.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.