KABARBURSA.COM – Putri Hashim Djojohadikusumo, Rahayu Saraswati, memijakkan kakinya di PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN). Rahayu menguasai 5 persen saham melalui dua entitasnya, yaitu PT Raksasa Satya Devya sebesar 4 persen dan PT Rada Saraswati Surya sebesar 1 persen.
Keponakan Presiden Prabowo Subianto ini masuk di harga rata-rata pembelian Rp200 per saham. Dalam keterbukaan informasi, Selasa, 13 Januari 2026, Direktur Utama TRIN Ishak Chandra menjelaskan, harga tersebut sangat jauh di bawah harga pasar yang saat ini berada di Rp1.525 per lembar.
Ada dua pesan yang disampaikan dalam pembelian ini. Pertama, transaksi bukan dilakukan pada fase euforia harga. Dan kedua, ini bukan pembelian spekulatif jangka pendek, melainkan positioning awal yang sangat dini.
Pada perjanjian kerja sama yang telah ditandatangani pada 2 Desember 2025 terungkap, pada taham awal pengalihan dilakukan sebesar 5 persen, dengan opsi lanjutan hingga 20 persen. Artinya, struktur ini sejak awal memang tidak dirancang sebagai transaksi satu kali, melainkan proses bertahap.
Menariknya lagi, Rahayu langsung mengisi posisi Komisaris Utama TRIN. Keputusan ini berdasarkan hasil RUPSLB yang digelar pada tanggal yang sama dengan penandatangan kerja sama. Sekali lagi, ini mengindikasikan bahwa peran Rahayu bukan sekadar investor pasif, melainkan sebagai bagian dari pengambil keputusan strategis.
Arah Bisnis TRIN Berubah
Dari sudut pandang pasar modal, hal ini menjadi menarik karena terjadi bersamaan dengan perubahan arah bisnis TRIN. Perseroan tidak lagi hanya berbicara soal pengembangan properti konvensional, tetapi mulai mengincar sektor-sektor yang bersifat structural dan jangka Panjang.
Contohnya saja logistic park, data center, dan ultra luxury hospitality. Sektor ini dipilih bukan karena sedang tren, tetapi karakteristiknya yang padat modal, berorientasi jangka Panjang, dan membutuhkan kredibilitas tinggi di mata mitra maupun penyewa.
Jika demikian, bisa dikatan kehadiran Rahayu sudah pas. Ini dilihat tidak hanya dari latar belakang keluarganya, tetapi ia masuk pada fase Ketika TRIN sedang mendefinisikan ulang dirinya. Ini menjadi lompatan segmen yang tidak kecil.
Pernyataan manajemen memperkuat pembacaan ini. Ishak Chandra menyebutkan bahwa diversifikasi ini dirancang sebagai motor pertumbuhan baru yang berkelanjutan, bukan sekadar eksperimen.
Sementara Rahayu Saraswati menekankan bahwa langkah ini merupakan bagian dari visi jangka panjang untuk beradaptasi terhadap perubahan lanskap ekonomi dan industri. Dua narasi ini saling mengunci: TRIN ingin bertumbuh bukan hanya lebih besar, tetapi juga lebih relevan.
Harga Saham Anjlok
Sayangnya, pasar merespons kurang baik kehadiran Rahayu. Sahamnya pada perdagangan sore ini turun signifikan, 1,24 persen ke level 1.590. Tekanan jual malah muncul sejak awal sesi, setelah saham dibuka di 1.700.
Sepanjang perdagangan, TRIN sempat bergerak fluktuatif dengan rentang yang cukup lebar. Harga tertinggi tercatat di 1.740, sebelum berbalik melemah dan menyentuh level terendah harian di 1.510.
Volume transaksi tercatat sebesar 308,56 ribu lot dengan nilai transaksi mencapai Rp49,3 miliar. Harga rata-rata berada di 1.599, relatif dekat dengan level penutupan, yang mengindikasikan tekanan jual lebih dominan pada paruh akhir perdagangan.
Meski ditutup melemah, TRIN masih bergerak jauh dari batas auto rejection bawah (ARB) di 1.370 dan tetap memiliki ruang ke atas menuju batas auto rejection atas (ARA) di 2.010. Ini menunjukkan bahwa volatilitas tetap tinggi, dan minat transaksi masih terjaga.(*)