KABARBURSA.COM - Kembalinya Iran ke pasar minyak global berpotensi menekan harga minyak dunia dalam waktu relatif singkat. Tambahan pasokan yang bisa masuk dalam hitungan bulan dinilai cukup besar untuk mengubah keseimbangan pasar, terutama saat kondisi global mulai menunjukkan tanda kelebihan suplai.
Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Tribowo Laksono mengatakan, Iran saat ini sudah memproduksi dalam jumlah signifikan, meski distribusinya masih terbatas akibat sanksi.
“Saat ini, Iran diperkirakan sudah memproduksi sekitar 3,3 - 3,4 juta barel per hari (bpd), namun sebagian besar dijual melalui jalur non-resmi (pasar gelap) dengan diskon besar,” kata Wahyu kepada KabarBursa.com, Rabu, 25 Maret 2026.
Jika sanksi dicabut, lanjut Wahyu, dalam jangka Pendek (3 Bulan), Iran memiliki stok minyak di laut (floating storage) yang masif, mencapai sekitar 160–190 juta barel.
“Mereka bisa langsung menyuntikkan tambahan 500.000 hingga 1 juta bpd hanya dengan melepaskan stok ini tanpa menunggu kenaikan produksi sumur,” ujarnya.
“Sementara untuk jangka menengah (6 bulan), dengan pemulihan infrastruktur dan akses ke teknologi Barat, Iran berpotensi menambah produksi riil sebesar 200.000–400.000 bpd lagi, membawa total produksi menuju angka 3,8–4,0 juta bpd (kapasitas pra-sanksi),” imbuhnya.
Tambahan pasokan ini berpotensi masuk ke pasar saat fundamental minyak global sebenarnya tidak sedang ketat. Mengacu dari data International Energy Agency (IEA) menunjukkan produksi minyak dunia pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar 108,6 juta barel per hari (bpd), sementara konsumsi global berada di kisaran 106,3 juta bpd, dikutip dari laporan IEA dan OPEC.
Permintaan minyak juga tidak tumbuh agresif. IEA memperkirakan kenaikan konsumsi hanya sekitar 850.000 bpd pada 2026, dengan potensi surplus pasar mencapai sekitar 3,7 juta bpd.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa pasar global sebenarnya sudah mulai bergerak ke arah kelebihan pasokan, sehingga tambahan dari Iran dapat memperbesar tekanan di sisi suplai.
Di sisi lain, lonjakan harga minyak dalam beberapa waktu terakhir lebih dipicu oleh faktor geopolitik. Berdasarkan laporan Reuters pada Maret 2026, harga Brent sempat melonjak dari kisaran USD80–85 per barel di awal bulan menjadi di atas USD110 per barel di pertengahan Maret.
Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, termasuk kekhawatiran gangguan distribusi di jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Namun, reli harga tersebut dinilai tidak sepenuhnya didukung oleh fundamental. Jika ketegangan mereda dan Iran kembali memasok pasar secara terbuka, tekanan terhadap harga minyak berpotensi muncul dengan cepat.
Tambahan pasokan hingga 1 juta bpd dalam waktu singkat menjadi faktor signifikan, terutama dalam kondisi permintaan yang cenderung melambat.
Sementara itu, kapasitas cadangan produksi global juga terbatas. Data IEA dan OPEC menunjukkan spare capacity OPEC+ berada di kisaran 5,3 juta bpd, dengan sebagian besar berasal dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Dengan kondisi tersebut, pasar minyak global kini berada di persimpangan antara risiko geopolitik dan potensi kelebihan pasokan. Dalam konteks ini, kembalinya Iran berpotensi menjadi faktor kunci yang menentukan arah harga minyak dalam beberapa bulan ke depan.(*)