Logo
>

Analis: Rupiah Naik 91 Poin, tapi Awal 2026 Masih Penuh Risiko

Rupiah menguat 91 poin jelang tutup tahun 2025, namun gejolak geopolitik dan sikap The Fed diprediksi terus membayangi pergerakan di awal 2026.

Ditulis oleh Harun Rasyid
Analis: Rupiah Naik 91 Poin, tapi Awal 2026 Masih Penuh Risiko
Ilustrasi penguatan rupiah akhir tahun 2025. Foto: dok KabarBursa.com

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar terpantau menguat 91 poin pada sore saat penutupan tahun 2025. Sebelumnya nilai tukar rupiah terhadap dolar sempat menguat 95 poin di level Rp16.680 dari Rp16.771. Pada pukul 15.16 WIB, rupiah kembali bergerak ke level Rp16.682. 

    Pengamat Mata Uang, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah akan berada di level Rp16.680-16.710 pada pembukaan perdagangan Jumat, 2 Januari 2026.

    Menurut Ibrahim, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh faktor eksternal yaitu luar negeri seperti The Fed, serta internal atau di dalam negeri.

    "Pasar terguncang oleh rilis risalah rapat kebijakan Federal Reserve bulan Desember yang mengungkapkan, perbedaan pendapat yang mendalam di antara para pembuat kebijakan mengenai arah suku bunga pada tahun 2026," ujarnya lewat keterangan tertulis, Rabu, 31 Desember 2025.

    Ibrahim menyatakan, The Fed sempat menurunkan suku bunga seperempat poin persentase pada rapat tersebut. Namun risalah ini menunjukkan bahwa beberapa pejabat semakin berhati-hati untuk melakukan pelonggaran lebih lanjut.

    "Alasannya, tekanan inflasi yang tinggi dan ketidakpastian mengenai prospek ekonomi. Yang lain berpendapat bahwa kebijakan yang ketat dapat berisiko memperlambat pertumbuhan terlalu tajam jika dipertahankan terlalu lama," sebutnya.

    Ia juga menyoroti, rilis data aktivitas pabrik tiongkok di akhir tahun 2025 ini kembali tumbuh pada sepanjang Desember. 

    "Angka indeks manajer pembelian resmi menunjukkan bahwa manufaktur kembali bergerak di atas angka 50 poin yang memisahkan ekspansi dari kontraksi, menunjukkan peningkatan moderat dalam permintaan domestik menjelang akhir tahun," jelas Ibrahim.

    Berikutnya, ketegangan geopolitik turut memberikan sedikit kelegaan sepanjang tahun, meskipun dampaknya terbukti berumur pendek. "Serangan terhadap infrastruktur energi Rusia di tengah perang di Ukraina secara berkala menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan," sebutnya.

    Salah satu ketegangan geopolitik yakni antara Israel-Hamas serta AS-Iran juga relatif memanas. Ibrahim menyebut, ketegangan konflik antara berbagai pihak tersebut turut memperbarui kekhawatiran tentang potensi gangguan terhadap aliran minyak di wilayah Timur Tengah.

    Selain itu, ketegangan geopolitik yang mempengaruhi rupiah terhadap USD juga diperkuat faktor lainnya seperti di Amerika Latin hingga negara Arab lainnya.

    "Lalu secara terpisah, ketegangan antara Washington dan Caracas menambah ketidakpastian seputar ekspor Venezuela, yang sempat mendukung harga. Baru-baru ini, Uni Emirat Arab mengatakan akan menarik pasukannya dari Yaman setelah ketegangan memanas dengan sekutu Teluk, Arab Saudi, terkait operasi militer di negara yang dilanda perang tersebut," terangnya. (*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Harun Rasyid

    Harun Rasyid adalah jurnalis KabarBursa.com yang fokus pada liputan pasar modal, sektor komersial, dan industri otomotif. Berbekal pengalaman peliputan ekonomi dan bisnis, ia mengolah data dan regulasi menjadi laporan faktual yang mendukung pengambilan keputusan pelaku pasar dan investor. Gaya penulisan lugas, berbasis riset, dan memenuhi standar etika jurnalistik.