KABARBURSA.COM – Pasar global tengah menguji apakah perkembangan terbaru di Venezuela akan mengubah cara risiko politik diperhitungkan dalam penilaian aset. Sejauh ini, respons investor masih relatif terkendali, dengan pergerakan selektif di emas, dolar, dan pasar obligasi, sementara indikator volatilitas belum menunjukkan tekanan berarti.
Harga emas tercatat menguat lebih dari 2 persen dan sempat bertengger di kisaran USD4.419 per ounce pada Senin, 5 Januari 2026.
Di saat yang sama, dolar Amerika Serikat (AS) menguat terbatas. Indeks dolar yang merepresentasikan pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama naik sekitar 0,2 persen ke level 98,662.
Di luar pergerakan tersebut, pasar global belum menunjukkan tanda kepanikan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS relatif stabil, dengan yield Treasury tenor 10 tahun berada di kisaran 4,18 persen, sementara tenor dua tahun bertahan di sekitar 3,47 persen. Indeks MSCI All Country World, yang mencerminkan kinerja saham global lintas kawasan, hanya mencatat kenaikan tipis sekitar 0,48 persen.
“Judul beritanya memang kuat, tetapi reaksi pasar sejauh ini belum menunjukkan pola defensif yang agresif,” ujar Jung In Yun, pendiri sekaligus CEO Fibonacci Asset Management.
Menurutnya, pergerakan harga yang terlihat lebih menyerupai langkah lindung nilai terbatas dibandingkan arus besar menuju aset aman.
Sebagaimana dikutip dari laporan CNBC, sejumlah analis mencatat bahwa investor kini lebih fokus membaca sinyal lanjutan untuk menentukan apakah perkembangan di Venezuela berpotensi merambat ke ranah ekonomi dan pasar keuangan secara lebih luas.
Struktur Pasar Minyak Lebih Menentukan
Salah satu indikator yang paling dicermati adalah pasar energi. Namun, fokus investor bukan tertuju pada fluktuasi harga harian minyak, melainkan pada bentuk kurva harga itu sendiri.
“Kunci utamanya bukan di harga spot, melainkan apakah struktur pasokan mulai mengetat,” ujar Billy Leung, Senior Investment Strategist Global X ETFs.
Ia menjelaskan, selama harga Brent bertahan di sekitar USD60 per barel dan kurva harga berjangka masih berada dalam kondisi contango, pasar menilai pasokan global masih cukup longgar.
Menurut Leung, perubahan menuju backwardation akan menjadi sinyal bahwa risiko geopolitik telah bertransformasi menjadi isu pasokan yang nyata. Hingga kini, pola tersebut belum terlihat.
Dalam kondisi krisis pasokan yang sesungguhnya, pembeli cenderung memburu kontrak jangka pendek, mendorong harga terdekat melampaui harga jangka panjang. Selama pola itu belum terbentuk, pasar menilai dampak Venezuela terhadap sistem energi global masih terbatas.
Secara fundamental, Venezuela saat ini memproduksi sekitar 1 juta barel minyak per hari, setara kurang lebih 1 persen dari pasokan global. Infrastruktur utama masih berfungsi, OPEC+ menahan ekspansi produksi, dan tingkat persediaan global dinilai cukup memadai. Kombinasi faktor tersebut membuat narasi surplus masih mendominasi pasar minyak.
Norbert Rücker, Head of Economics and Next Generation Research Julius Baer, menilai risiko gangguan pasokan jangka pendek relatif kecil. “Dengan kondisi saat ini, peluang lonjakan harga minyak yang signifikan masih terbatas. Pasar energi global tampaknya masih berada dalam fase surplus struktural,” ujarnya.
Volatilitas Masih Jinak
Indikator lain yang memperkuat kesan pasar yang relatif tenang adalah volatilitas. Indeks VIX, yang mengukur ekspektasi volatilitas pasar saham AS dalam 30 hari ke depan, berada di level sekitar 14,5.
Angka tersebut jauh dari zona tekanan, dan sangat berbeda dibanding lonjakan ekstrem yang terjadi pada periode guncangan tarif tahun lalu. Bagi pelaku pasar, rendahnya VIX menandakan minimnya permintaan terhadap instrumen perlindungan risiko.
“Pasar belum menunjukkan kesediaan membayar premi tinggi untuk proteksi, meskipun tensi geopolitik meningkat,” kata Leung.
Pandangan serupa disampaikan Ed Yardeni dari Yardeni Research, yang menilai investor masih memilih bersikap menunggu sambil mencermati kemungkinan eskalasi lanjutan.
Yield Riil dan Pasar Kredit Tetap Stabil
Jika risiko Venezuela benar-benar memicu penilaian ulang aset secara luas, tekanan tersebut biasanya tercermin pada penurunan yield obligasi dan pergeseran ekspektasi inflasi. Namun sejauh ini, sinyal tersebut belum muncul.
Yield riil AS masih bertahan di level tinggi, yang antara lain mencerminkan besarnya beban fiskal pemerintah AS. Di sisi lain, ekspektasi inflasi relatif stabil, mengindikasikan tidak ada perubahan signifikan dalam pandangan pasar terhadap prospek pertumbuhan global.
Pasar kredit juga menjadi perhatian, mengingat sektor ini sering kali lebih cepat menangkap gejala tekanan. Spread obligasi berisiko tinggi dan obligasi negara berkembang menjadi indikator utama yang dipantau investor institusi.
“Pasar kredit sering kali lebih sensitif dibanding pasar saham,” ujar Leung. “Namun, obligasi Venezuela sendiri tidak banyak memberi informasi baru karena sudah lama berada dalam kondisi tertekan.”
Logam Mulia Menjadi Pilihan Utama
Di tengah respons pasar yang relatif kalem, logam mulia justru mencuri perhatian. Harga emas melanjutkan reli sepanjang 2025 dengan mencetak sejumlah rekor, sementara harga perak juga menguat lebih dari 3 persen ke kisaran USD75 per ounce.
“Ini mencerminkan kenaikan premi risiko geopolitik yang bersifat reaktif,” ujar Steve Brice, Global Chief Investment Officer Standard Chartered.
Bank tersebut memperkirakan harga emas berpotensi menembus USD4.800 per ounce tahun ini, dengan dinamika geopolitik berperan sebagai katalis tambahan.
Menurut Adrian Ash, Director of Research BullionVault, emas biasanya tampil solid ketika kepercayaan terhadap tatanan global mulai goyah. Ia menilai perubahan arah kebijakan dan pendekatan geopolitik Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump telah menggeser banyak asumsi lama yang selama ini dipegang investor global.
Risiko Rambatan Masih Jadi Tanda Tanya
Dalam jangka panjang, fokus investor tidak berhenti pada Venezuela semata. Perhatian tertuju pada apakah peristiwa ini berpotensi memengaruhi perilaku politik di kawasan lain, termasuk Timur Tengah, Ukraina, dan Selat Taiwan.
Yardeni mencatat, sejauh ini rangkaian risiko geopolitik tersebut belum menghentikan tren positif pasar saham global, meski turut menopang reli logam mulia.
Leung menambahkan, pasar akan lebih memperhatikan perubahan tindakan nyata dibandingkan sekadar retorika politik. Spekulasi mengenai keterkaitan dinamika Venezuela dengan hubungan Washington–Beijing juga belum menemukan dasar yang kuat.
Marko Papic, Chief GeoMacro Strategist BCA Research, menilai skenario eskalasi militer China–Taiwan belum berada dalam horizon dekat.
AS, menurutnya, justru memperkuat dukungan militer ke Taiwan dan menegaskan statusnya sebagai kepentingan strategis dalam dokumen keamanan nasional terbaru.
Untuk saat ini, konsensus pasar masih memandang peristiwa Venezuela sebagai gangguan taktis, bukan perubahan rezim dalam lanskap keuangan global.
“Pergerakan harga yang terjadi sejauh ini lebih mencerminkan premi risiko geopolitik sementara, bukan pergeseran struktural,” tutup pendiri sekaligus CEO Fibonacci Asset Management itu. (*)