KABARBURSA.COM - Pergerakan harga emas, perak, dan Bitcoin kembali menjadi sorotan seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Ketiga aset ini kerap disebut sebagai aset lindung nilai atau penyimpan kekayaan, namun kondisi pasar terkini menunjukkan bahwa arah pergerakannya tidak sepenuhnya sejalan.
Berdasarkan data Trading Economics yang dipantau pada Selasa, 13 Januari 2026 pagi WIB, harga emas tercatat berada di level 4.597,25 atau turun tipis 0,03 persen. Sementara itu, perak bergerak di kisaran 85,590 dengan koreksi sekitar 0,07 persen.
Pergerakan emas dan perak yang relatif terbatas mencerminkan sikap investor yang masih bertahan di aset aman, namun belum cukup agresif untuk mendorong reli lanjutan. Tekanan dari ekspektasi kebijakan moneter global dan pergerakan dolar AS membuat logam mulia cenderung bergerak datar hingga melemah tipis.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai dinamika harga emas, perak, dan Bitcoin mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi global.
“Terkait dengan harga emas, perak, dan bitcoin yang kompak naik memang menunjukkan bahwa masih ada kekhawatiran terhadap perekonomian global. Sentimen kuat justru bukan dari isu Venezuela, tapi dari sisi geopolitik global. China yang siap siaga di laut dekat Taiwan bisa menjadi sentimen yang signifikan. Makanya, investasi alternatif selain saham menguat, termasuk emas, perak, dan bitcoin,” kata Nailul Huda kepada KabarBursa.com dikutip Selasa, 13 Januari 2026.
Berbeda dengan logam mulia, pasar kripto justru menunjukkan tekanan yang lebih jelas. Mengacu pada data CoinMarketCap pada waktu yang sama, harga Bitcoin tercatat berada di kisaran 91.247,84 atau turun sekitar 0,91 persen. Kapitalisasi pasar kripto global juga melemah sekitar 1,24 persen ke level 3,1 triliun.
Pelemahan tersebut menunjukkan bahwa kripto masih sangat sensitif terhadap sentimen global, termasuk aksi ambil untung investor setelah kenaikan sebelumnya serta meningkatnya sikap hati-hati pasar.
Analis Pasar Modal dari Traderindo, Wahyu Trilaksono, menjelaskan bahwa emas, perak, dan Bitcoin sering dikategorikan sebagai hard assets karena tidak bisa dicetak sembarangan oleh pemerintah. Namun, menurutnya, istilah paling aman perlu dilihat dari sudut pandang risiko masing-masing aset.
Ketiganya memiliki fungsi sebagai penyimpan nilai, tetapi dengan karakter yang berbeda. Emas dikenal sebagai safe haven paling klasik dan relatif stabil saat krisis, meski pertumbuhan harganya cenderung lambat dan tidak memberikan imbal hasil berkala.
Perak memiliki keunggulan dari sisi permintaan industri, namun volatilitasnya lebih tinggi dibanding emas. Sementara Bitcoin menawarkan potensi kenaikan harga yang besar, tetapi dibarengi fluktuasi ekstrem serta risiko regulasi dan keamanan.
“Ketiganya adalah alat penyimpan kekayaan yang baik, tapi bukan yang paling aman dalam arti tanpa risiko. Emas paling aman dari sisi risiko penurunan, sementara Bitcoin paling potensial dari sisi keuntungan,” kata Wahyu kepada KabarBursa.com.(*)