KABARBURSA.COM - Pergerakan harga minyak dunia berlangsung turbulen sepanjang perdagangan Kamis. Pasar berayun tajam sebelum akhirnya ditutup melemah, setelah muncul laporan bahwa Arab Saudi dan Kuwait kembali membuka akses wilayah udara serta pangkalan militernya untuk digunakan Amerika Serikat. Kebijakan tersebut membuka jalan bagi Washington untuk mengaktifkan lagi operasi pengawalan kapal dagang di Selat Hormuz mulai pekan ini.
Minyak mentah Brent—patokan global—ditutup turun 1,2 persen atau terkikis USD1,21 ke level USD100,06 per barel, menurut laporan Reuters dari New York pada Kamis (7/5) atau Jumat (8/5) pagi WIB.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi acuan Amerika Serikat melemah lebih terbatas. Kontrak berjangka WTI turun 27 sen atau 0,28 persen dan berakhir di posisi USD94,81 per barel.
Sebelumnya, kedua kontrak minyak tersebut sempat terjerembap hingga sekitar USD5 per barel. Pelemahan drastis itu dipicu optimisme pasar bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin mendekati kesepakatan sementara guna menghentikan konflik yang selama ini mengguncang kawasan Timur Tengah.
Namun volatilitas kembali memanas selepas penutupan perdagangan. Harga Brent melonjak lebih dari USD1, sedangkan WTI melesat hampir USD2 setelah kantor berita Iran, Fars News Agency, melaporkan terdengarnya sejumlah suara menyerupai ledakan di sekitar Bandar Abbas, wilayah strategis di Iran selatan.
Laporan Wall Street Journal menyebut Arab Saudi dan Kuwait telah mengizinkan kembali militer AS menggunakan wilayah udara serta fasilitas pangkalan mereka. Mengutip pejabat Saudi dan Amerika, laporan itu juga menyatakan pemerintahan Presiden Donald Trump tengah bersiap menghidupkan kembali Project Freedom—misi pengawalan kapal dagang melalui jalur vital Selat Hormuz.
Sejumlah sumber diplomatik dan pejabat terkait mengungkapkan Washington dan Teheran kini berada di ambang sebuah memorandum sementara yang bertujuan menghentikan peperangan. Kerangka kesepakatan yang tengah dinegosiasikan disebut hanya bersifat jangka pendek dan belum menyentuh isu-isu paling sensitif, sehingga belum dapat dianggap sebagai perjanjian damai permanen.
Analis SEB Research, Ole Hvalbye, menilai apabila kesepakatan tersebut benar-benar tercapai, harga Brent berpotensi kembali turun menuju rentang USD80 hingga USD90 per barel dalam waktu relatif cepat.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa risiko pasar masih sangat besar. Menurutnya, kegagalan negosiasi atau perubahan arah kebijakan Presiden Trump yang kembali memilih opsi militer dapat dengan mudah mendorong harga minyak melampaui level USD120 per barel.
Hvalbye juga menekankan bahwa meskipun memorandum damai mampu mengikis premi risiko di pasar kontrak berjangka, efeknya terhadap pasar fisik minyak mentah tidak akan berlangsung seketika. Stabilitas, kata dia, kemungkinan baru akan tercapai setelah beberapa pekan bahkan berbulan-bulan.
Dari sisi suplai global, Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright mengatakan Iran tampaknya telah memangkas produksi minyak sekitar 400 ribu barel per hari. Pengurangan tersebut diperkirakan masih akan berlanjut seiring kapasitas penyimpanan minyak yang mulai mendekati batas maksimum.
Ketegangan kawasan turut meningkat setelah sebuah kapal tanker pengangkut produk minyak milik perusahaan China diserang di dekat Selat Hormuz pada Senin lalu. Media China, Caixin, menyebut insiden tersebut sebagai serangan pertama terhadap kapal minyak China di wilayah itu.
Awal pekan ini, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mendesak Beijing untuk memperkuat upaya diplomatik demi mendorong Iran membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas pelayaran internasional. Ia juga menegaskan bahwa Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping akan membahas isu tersebut dalam agenda pertemuan mereka pekan depan.
Gejolak akibat konflik Iran turut menjadi sorotan utama dalam pertemuan negara-negara Asia Tenggara atau ASEAN pada Kamis. Negara-negara anggota yang sangat bergantung pada impor energi menyerukan solidaritas regional guna menghadapi ancaman serius dari lonjakan harga minyak dan potensi gangguan pasokan global.
Dalam rancangan pernyataan bersama yang diperoleh Reuters, para pemimpin ASEAN dijadwalkan mendesak Amerika Serikat dan Iran untuk melanjutkan negosiasi dengan iktikad baik serta segera menghentikan permusuhan dalam pertemuan Jumat mendatang.(*)