Logo
>

Arah Dana IPO Emiten Sarang Burung Walet

Emiten sarang burung walet, RLCO, yang baru melantai di bursa memaparkan realisasi awal penggunaan dana IPO.

Ditulis oleh Syahrianto
Arah Dana IPO Emiten Sarang Burung Walet
Emiten sarang burung walet PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) memaparkan arah penggunaan dana hasil penawaran umum perdana saham. (Foto: Wikimedia Commons/Midori)

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Emiten sarang burung walet PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) memaparkan arah penggunaan dana hasil penawaran umum perdana saham atau IPO per 31 Desember 2025. 

    Berdasarkan keterbukaan informasi, dari dana bersih Rp100,23 miliar, perseroan baru merealisasikan Rp10 miliar, sementara mayoritas dana masih tersimpan menunggu tahap eksekusi berikutnya.

    Direktur Utama Abadi Lestari Indonesia, Edwin Pranata, menyampaikan bahwa RLCO menghimpun dana IPO sebesar Rp105,00 miliar dengan biaya penawaran umum Rp4,77 miliar. Dengan demikian, dana bersih yang diperoleh perseroan mencapai Rp100,23 miliar. 

    “Dana tersebut sejak awal dialokasikan untuk dua pos utama, yakni modal kerja dan setoran modal kepada entitas anak,” ujar Edwin dalam keterangan tertulis, Kamis, 15 Januari 2026.

    Dalam rencana penggunaan dana, perseroan menetapkan porsi modal kerja sebesar Rp56,46 miliar. Sementara itu, setoran modal kepada entitas anak dialokasikan sebesar Rp43,77 miliar. 

    Kedua pos tersebut mencakup seluruh dana bersih IPO tanpa adanya alokasi tambahan untuk kebutuhan lain di luar rencana awal.

    Hingga akhir Desember 2025, realisasi penggunaan dana masih terbatas. Perseroan mencatat realisasi modal kerja sebesar Rp10,00 miliar. Adapun setoran modal ke entitas anak belum direalisasikan. 

    Dengan demikian, total dana yang belum digunakan mencapai Rp90,23 miliar atau sekitar 90 persen dari dana bersih IPO.

    Laporan tersebut juga merinci struktur biaya penawaran umum yang menyerap Rp4,77 miliar. Biaya jasa penjualan menjadi komponen terbesar dengan nilai Rp1,05 miliar. Biaya jasa akuntan publik tercatat Rp980,00 juta, disusul biaya jasa penjaminan emisi sebesar Rp769,03 juta dan biaya jasa penyelenggaraan Rp731,00 juta. Sementara itu, biaya konsultan hukum mencapai Rp600,00 juta dan biaya notaris sebesar Rp125,00 juta.

    Selain itu, perseroan mengeluarkan biaya untuk lembaga penunjang pasar modal, termasuk biaya biro administrasi efek Rp90,00 juta. Biaya lain-lain mencakup pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) Rp150,00 juta, pendaftaran OJK Rp52,50 juta, pendaftaran KSEI Rp15,83 juta, serta biaya percetakan dan iklan Rp191,91 juta.

    Manajemen menyatakan bahwa sisa dana IPO masih disimpan dan akan digunakan sesuai rencana yang telah disampaikan dalam prospektus. 

    Hingga laporan ini disusun, belum terdapat perubahan rencana penggunaan dana maupun pergeseran alokasi antarpos. (*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Syahrianto

    Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

    Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

    Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

    Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.