KABARBURSA.COM – Emiten sarang burung walet PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) memaparkan arah penggunaan dana hasil penawaran umum perdana saham atau IPO per 31 Desember 2025.
Berdasarkan keterbukaan informasi, dari dana bersih Rp100,23 miliar, perseroan baru merealisasikan Rp10 miliar, sementara mayoritas dana masih tersimpan menunggu tahap eksekusi berikutnya.
Direktur Utama Abadi Lestari Indonesia, Edwin Pranata, menyampaikan bahwa RLCO menghimpun dana IPO sebesar Rp105,00 miliar dengan biaya penawaran umum Rp4,77 miliar. Dengan demikian, dana bersih yang diperoleh perseroan mencapai Rp100,23 miliar.
“Dana tersebut sejak awal dialokasikan untuk dua pos utama, yakni modal kerja dan setoran modal kepada entitas anak,” ujar Edwin dalam keterangan tertulis, Kamis, 15 Januari 2026.
Dalam rencana penggunaan dana, perseroan menetapkan porsi modal kerja sebesar Rp56,46 miliar. Sementara itu, setoran modal kepada entitas anak dialokasikan sebesar Rp43,77 miliar.
Kedua pos tersebut mencakup seluruh dana bersih IPO tanpa adanya alokasi tambahan untuk kebutuhan lain di luar rencana awal.
Hingga akhir Desember 2025, realisasi penggunaan dana masih terbatas. Perseroan mencatat realisasi modal kerja sebesar Rp10,00 miliar. Adapun setoran modal ke entitas anak belum direalisasikan.
Dengan demikian, total dana yang belum digunakan mencapai Rp90,23 miliar atau sekitar 90 persen dari dana bersih IPO.
Laporan tersebut juga merinci struktur biaya penawaran umum yang menyerap Rp4,77 miliar. Biaya jasa penjualan menjadi komponen terbesar dengan nilai Rp1,05 miliar. Biaya jasa akuntan publik tercatat Rp980,00 juta, disusul biaya jasa penjaminan emisi sebesar Rp769,03 juta dan biaya jasa penyelenggaraan Rp731,00 juta. Sementara itu, biaya konsultan hukum mencapai Rp600,00 juta dan biaya notaris sebesar Rp125,00 juta.
Selain itu, perseroan mengeluarkan biaya untuk lembaga penunjang pasar modal, termasuk biaya biro administrasi efek Rp90,00 juta. Biaya lain-lain mencakup pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) Rp150,00 juta, pendaftaran OJK Rp52,50 juta, pendaftaran KSEI Rp15,83 juta, serta biaya percetakan dan iklan Rp191,91 juta.
Manajemen menyatakan bahwa sisa dana IPO masih disimpan dan akan digunakan sesuai rencana yang telah disampaikan dalam prospektus.
Hingga laporan ini disusun, belum terdapat perubahan rencana penggunaan dana maupun pergeseran alokasi antarpos. (*)