Logo
>

Belum Sebulan, Lima Saham ini Sudah Jeblok, Ada yang Dikoleksi?

Lima saham terkoreksi tajam dalam waktu kurang dari sebulan sejak awal 2026. Empat masih tertekan, satu mulai stabil.

Ditulis oleh Syahrianto
Belum Sebulan, Lima Saham ini Sudah Jeblok, Ada yang Dikoleksi?
Koreksi tajam melanda sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam waktu kurang dari satu bulan sejak awal 2026. (Foto: Dok. KabarBursa)

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Koreksi tajam melanda sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam waktu kurang dari satu bulan sejak awal 2026. 

    Lima saham tercatat mengalami penurunan harga signifikan, bahkan sebagian jatuh berlapis dalam beberapa sesi perdagangan, memicu pertanyaan apakah tekanan jual sudah mereda atau justru masih berlanjut.

    Berdasarkan data perdagangan, lima saham tersebut adalah PT Bumi Benowo Sukses Sejahtera Tbk (BBSS), PT Intan Baru Prana Tbk (IBFN), PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS), PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII), serta PT Bank Sinarmas Tbk (BSIM) yang berfungsi sebagai pembanding karena karakter koreksinya berbeda.

    Saham BBSS menjadi contoh koreksi paling dalam. Dari puncak intraday 900 pada 9 Januari 2026, harga saham ini merosot ke level 456 pada penutupan 15 Januari. 

    Penurunan hampir 50 persen tersebut terjadi hanya dalam empat sesi perdagangan aktif, dengan tekanan jual berlangsung di tengah likuiditas yang relatif ramai. 

    Nilai transaksi harian konsisten berada di kisaran Rp3–6 miliar, menandakan pelepasan saham berlangsung melalui banyak transaksi, bukan akibat pasar sepi.

    Tekanan serupa, namun dengan karakter berbeda, terlihat pada IBFN. Saham ini mencatat penurunan bertahap hampir setiap hari perdagangan sejak awal Januari. 

    Dari level 218 pada 2 Januari, harga IBFN turun ke 128 pada 15 Januari, atau melemah lebih dari 41 persen. 

    MBSS menunjukkan pola distribusi yang lebih terstruktur. Saham sektor pelayaran batu bara ini sempat menguat tajam di awal Januari sebelum memasuki fase koreksi berlapis. Dari level 3.650 pada 2 Januari, harga MBSS turun ke 2.630 pada 15 Januari, terkoreksi hampir 28 persen. 

    Koreksi terjadi di tengah likuiditas besar, dengan nilai transaksi harian kerap menembus Rp30 miliar dan frekuensi ribuan kali, mencerminkan distribusi aktif di pasar reguler.

    Sementara itu, ALII mencerminkan pola klasik pasca-suspensi. Saham ini sempat dihentikan sementara perdagangannya oleh BEI setelah mengalami kenaikan harga kumulatif signifikan. 

    Perdagangan ALII dibuka kembali pada 13 Januari 2026, namun harga langsung turun beruntun selama tiga sesi perdagangan. Dari 1.310 sebelum suspensi, saham ALII melemah ke 980 pada 15 Januari, atau terkoreksi sekitar 25 persen hanya dalam tiga hari aktif.

    Sehubungan dengan kondisi tersebut, BEI menegaskan langkah pengawasan dilakukan untuk melindungi investor.

    “Sehubungan dengan terjadinya peningkatan harga kumulatif yang signifikan pada saham dan sebagai bentuk perlindungan bagi investor, Bursa Efek Indonesia memandang perlu melakukan penghentian sementara perdagangan saham,” tulis Yulianto Aji Sadono, Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI, bersama pejabat Divisi Pengaturan dan Operasional Perdagangan dalam pengumuman resminya.

    Berbeda dari empat saham sebelumnya, BSIM menunjukkan karakter koreksi yang lebih terkendali. Saham perbankan ini memang terkoreksi sekitar 25 persen dari puncak intraday 1.760 pada 8 Januari ke kisaran 1.320 pada 15 Januari. Namun secara year to date (ytd), BSIM masih mencatat kenaikan lebih dari 50 persen. 

    Yang membedakan, selama fase koreksi, aliran dana asing tercatat konsisten net buy, menjadi penyangga harga dan mendorong stabilisasi di rentang 1.290–1.320.

    Data perdagangan menunjukkan frekuensi dan nilai transaksi BSIM menyusut signifikan setelah fase distribusi awal, menandakan tekanan jual mulai mereda. 

    Secara keseluruhan, lima saham tersebut mencerminkan spektrum koreksi yang berbeda. BBSS, IBFN, MBSS, dan ALII masih berada dalam fase tekanan dengan struktur harga yang belum sepenuhnya pulih. 

    Sementara BSIM menjadi pengecualian, dengan koreksi yang lebih menyerupai retracement sehat setelah reli ekstrem. (*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Syahrianto

    Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

    Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

    Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

    Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.