KABARBURSA.COM – Arus dana asing kembali menjadi penentu arah pasar saham domestik pada perdagangan Kamis, 15 Januari 2026.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan investor global secara aktif melakukan pembelian bersih pada sejumlah saham berkapitalisasi besar lintas sektor, dengan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menempati posisi teratas dari sisi net foreign buy.
BBRI mencatat pembelian bersih asing sebesar Rp426,65 miliar di pasar reguler. Nilai ini menjadi yang terbesar pada hari tersebut, sekaligus menegaskan peran BBRI sebagai jangkar likuiditas di tengah konsolidasi indeks.
Saham BBRI ditutup menguat 2,69 persen ke level 3.820, dengan nilai transaksi mencapai Rp1,55 triliun, volume sekitar 4,07 juta lot, dan frekuensi menembus 62 ribu kali.
Pergerakan BBRI berlangsung stabil sepanjang sesi. Harga bergerak di rentang 3.730–3.850 dan mampu bertahan di area atas hingga penutupan. Struktur orderbook menunjukkan antrean bid berlapis di kisaran 3.800–3.820, sementara tekanan jual tersebar dan tidak terkonsentrasi.
Dari sisi aktivitas investor asing, nilai pembelian BBRI mencapai Rp730,78 miliar, jauh melampaui penjualan sebesar Rp304,13 miliar.
Dari sisi broker summary, pembelian asing BBRI tercatat tersebar melalui sejumlah sekuritas besar. UBS Sekuritas Indonesia (AK) membukukan nilai beli sekitar Rp103,30 miliar, JP Morgan Sekuritas Indonesia (BK) sebesar Rp85,80 miliar, dan Mandiri Sekuritas (CC) sekitar Rp144,70 miliar. Seluruh pembelian dilakukan di rentang harga 3.780–3.820.
Selain BBRI, dana asing juga mengalir kuat ke saham PT Petrosea Tbk (PTRO). Emiten jasa pertambangan ini mencatat net foreign buy sebesar Rp211,14 miliar.
Saham PTRO ditutup menguat 4,03 persen ke level 12.900 dengan nilai transaksi Rp721,9 miliar dan volume 562,59 ribu lot. Harga bergerak konsisten di atas area 12.800 hingga penutupan.
Pada saham PTRO, akumulasi asing dipimpin oleh BK dengan nilai beli sekitar Rp81,30 miliar, OCBC Sekuritas Indonesia (TP) sekitar Rp75,10 miliar, dan Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) sekitar Rp72,60 miliar.
Selain itu, AK tercatat membeli sekitar Rp25,90 miliar dan CC sekitar Rp14,00 miliar. Harga beli mayoritas berada di kisaran 12.820–12.870.
Arus serupa juga terlihat pada saham perbankan besar lainnya, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). BMRI membukukan net foreign buy Rp208,75 miliar. Saham ini ditutup naik 3,10 persen ke level 4.990, dengan nilai transaksi sekitar Rp1,22 triliun dan volume 2,45 juta lot.
Broker summary BMRI menunjukkan pembelian asing dipimpin oleh BK sekitar Rp86,50 miliar, AK sekitar Rp69,60 miliar, CLSA Sekuritas Indonesia (KZ) sekitar Rp29,40 miliar, dan CC sekitar Rp27,40 miliar. Harga beli berada di rentang 4.950–4.990.
Menariknya, tidak seluruh saham dengan pembelian bersih asing besar langsung mencatat kenaikan harga. Saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) justru ditutup melemah tipis 0,78 persen ke level 6.350, meski mencatat net foreign buy Rp121,92 miliar.
Dengan porsi transaksi asing mencapai hampir 49 persen dari total nilai perdagangan, pola INCO mencerminkan akumulasi tanpa mengerek harga. Tekanan jual terserap di kisaran 6.200–6.300, sementara harga bergerak stabil di paruh akhir sesi.
Pada saham INCO, pembelian asing tercatat melalui ZP sekitar Rp72,40 miliar, AK sekitar Rp65,40 miliar, dan BK sekitar Rp44,80 miliar. Di sisi lain, penjualan asing lebih terkonsentrasi pada satu sekuritas dengan nilai sekitar Rp106,10 miliar.
Saham sektor konsumsi, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), melengkapi daftar tujuan dana asing. JPFA mencatat net foreign buy Rp94,53 miliar dan ditutup menguat 3,45 persen ke level 2.700.
Dengan porsi asing mencapai 55,65 persen dari total nilai transaksi, pergerakan JPFA menunjukkan dominasi pembelian institusional asing yang disertai kenaikan harga bertahap dan likuiditas yang terjaga.
Akumulasi JPFA dilakukan oleh BK sekitar Rp33,10 miliar, ZP sekitar Rp25,50 miliar, AK sekitar Rp25,30 miliar, dan CGS International Sekuritas Indonesia (YU) sekitar Rp22,60 miliar. Seluruh pembelian berada di kisaran 2.660–2.680 sebelum saham ditutup mendekati level tertinggi hariannya.
Jika dikonsolidasikan, lima saham tersebut menghimpun pembelian bersih asing lebih dari Rp1 triliun hanya dalam satu hari perdagangan.
Sebaran lintas sektor perbankan, jasa pertambangan, komoditas nikel, hingga konsumsi menegaskan bahwa arus dana asing tidak terkonsentrasi pada satu tema semata. (*)