KABARBURSA.COM – Saat memasuki 2025, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) memiliki strategi belanja modal yang cukup besar. Perseroan menganggarkan capex sebesar USD80 juta, yang penggunaannya mencapai 12,5 persen dati total belanja modal tahun ini.
Dalam laporannya yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), ARCI menyebutkan total biaya eksplorasi sepanjang 2025 sebesar USD10 juta atau setara Rp167,2 miliar. Aktivitas eksplorasi ini tergolong agresif secara operasional.
Perusahaan melakukan pengeboran di 397 titik dengan total kedalaman 85.893 meter. Ritme pengeboran relatif merata di sepanjang tahun, dengan intensitas yang stabil dari kuartal ke kuartal.
Ini menunjukkan eksplorasi tidak dilakukan secara sporadis, tetapi direncanakan sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperpanjang usia tambang Toka Tindung, yang kontrak karyanya berlaku hingga 2041 dan masih berpotensi diperpanjang dua kali dalam bentuk IUPK.
Yang menarik, eksplorasi ini dilakukan pada wilayah koridor timur dan barat, yang secara historis menjadi sumber utama penambahan cadangan. Artinya, belanja eksplorasi ini bukan spekulatif, melainkan diarahkan pada area yang sudah terbukti produktif.
Jika dikaitkan dengan struktur capex 2025, eksplorasi ini hanya salah satu komponen. Sisanya dialokasikan untuk pengembangan tambang baru, khususnya fase awal tambang bawah tanah di pit Kopra yang ditargetkan mulai beroperasi akhir 2025, serta pengembangan proyek panas bumi bersama Ormat Geothermal Indonesia.
Dengan demikian, porsi eksplorasi yang 12,5 persen ini berfungsi sebagai fondasi, bukan mesin utama produksi jangka pendek.
Dari sisi pendanaan, ARCI menegaskan seluruh belanja ini dibiayai dari arus kas internal. Ini menjadi krusial ketika dikaitkan dengan kinerja keuangan terbaru.
Pada kuartal III 2025, ARCI mencatat lonjakan pendapatan menjadi Rp2,23 triliun, naik signifikan dari Rp1,68 triliun di kuartal sebelumnya dan Rp1,49 triliun di kuartal I 2025. Kenaikan ini mencerminkan pemulihan volume dan kualitas produksi, yang didukung oleh kadar emas yang lebih tinggi serta mulai pulihnya beberapa pit yang sebelumnya terhenti.
Dari sisi profitabilitas, laba kotor melonjak menjadi Rp1,04 triliun, dengan margin yang semakin lebar. Laba usaha tercatat Rp1,04 triliun, menunjukkan efisiensi yang jauh lebih baik dibanding periode sebelumnya.
Bahkan setelah memperhitungkan beban lain-lain dan pajak, laba bersih kuartal III 2025 mencapai Rp586 miliar, melonjak dari Rp409 miliar di kuartal II dan Rp171 miliar di kuartal I.
Kinerja ini bukan hanya kuat secara nominal, tetapi juga struktural. Return on Assets meningkat ke 3,66 persen, Return on Equity mencapai 10,17 persen, dan Return on Capital Employed naik menjadi 9,04 persen.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa modal yang ditanamkan semakin produktif, bukan sekadar membesar.
Dari sisi arus kas, meski datanya tidak ditampilkan eksplisit, indikator Interest Coverage yang naik ke 7,31 kali memberi sinyal bahwa tekanan bunga relatif ringan. Ini memperkuat klaim manajemen bahwa pendanaan capex dari kas internal bukan sekadar narasi, tetapi secara keuangan memang feasible.
EBITDA kuartal III 2025 yang mencapai Rp1,15 triliun juga mempertegas kemampuan operasional ARCI dalam menghasilkan kas. Jika disederhanakan, EBITDA satu kuartal ini saja sudah setara dengan sekitar 90 persen dari nilai eksplorasi tahunan yang dilakukan perusahaan.
Namun, ada satu catatan penting. Rasio valuasi seperti PER kuartalan yang berada di level 42,82 kali menunjukkan bahwa pasar sudah membayar mahal untuk ekspektasi pertumbuhan ARCI. Ini berarti belanja eksplorasi dan capex 2025 tidak boleh gagal menghasilkan tambahan cadangan dan produksi. Jika tidak, tekanan koreksi bisa muncul bukan dari sisi operasional, tetapi dari sisi ekspektasi.
Dalam konteks ini, eksplorasi USD10 juta yang menyerap 12,5 persen capex bukan sekadar angka, melainkan taruhan strategis. Jika berhasil memperpanjang umur tambang dan mendukung produksi jangka panjang, maka belanja ini akan terjustifikasi. Jika tidak, maka sebagian besar capex akan berubah menjadi sunk cost.
Secara keseluruhan, kinerja keuangan ARCI saat ini cukup kuat untuk menopang strategi tersebut. Margin membaik, laba meningkat, dan rasio profitabilitas menguat. Dengan struktur keuangan seperti ini, perusahaan memiliki ruang untuk mengambil risiko eksplorasi.
Namun, penting dicatat bahwa ARCI saat ini berada dalam fase transisi. Produksi diharapkan tumbuh di 2025 karena kadar emas yang lebih tinggi dan kembalinya pit Araren, tetapi sustainabilitasnya sangat bergantung pada hasil eksplorasi dan keberhasilan tambang bawah tanah Kopra.
Artinya, belanja eksplorasi yang menyerap 12,5 persen capex ini bukan beban, melainkan kunci. Dan dari sisi keuangan, ARCI saat ini cukup kuat untuk memikulnya.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.