Logo
>

ARCI Sebut Lonjakan Laba 10 Kali Bukan Cuma Efek Harga Emas

Lonjakan laba ARCI didorong harga emas, efisiensi biaya, dan kadar bijih lebih tinggi, namun tekanan utang masih membayangi.

Ditulis oleh Syahrianto
ARCI Sebut Lonjakan Laba 10 Kali Bukan Cuma Efek Harga Emas
Perusahaan menilai efisiensi biaya dan peningkatan kadar bijih emas ikut menjadi faktor utama pengerek margin keuntungan. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)

KABARBURSA.COM – PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) menyebut lonjakan laba bersih hingga 10 kali lipat sepanjang 2025 tidak semata-mata dipicu kenaikan harga emas global. Perusahaan menilai efisiensi biaya dan peningkatan kadar bijih emas ikut menjadi faktor utama pengerek margin keuntungan.

Direktur Utama ARCI Rudy Suhendra mengatakan produksi perusahaan sepanjang 2025 meningkat 31 persen dibanding tahun sebelumnya. 

“Jika hal ini linear, berarti kenaikan laba juga seharusnya meningkat sebesar 31 persen,” ujar Rudy dalam Paparan Publik Tahun Buku 2025, dikutip Rabu, 13 Mei 2026.

Namun menurut dia, ARCI berhasil mencatat pertumbuhan laba jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan produksi. Perseroan sebelumnya bahkan menargetkan peningkatan laba minimal lima kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Rudy menjelaskan perusahaan menjalankan strategi efisiensi biaya serta mengolah bijih berkadar emas lebih tinggi. Langkah tersebut membuat margin keuntungan meningkat lebih besar dibanding kenaikan produksi.

“Ditambah lagi dengan kenaikan harga emas dunia, sehingga pada tahun 2025 secara finansial laba bersih Perseroan meningkat sebesar 10x,” kata Rudy.

Kinerja ARCI juga masih tumbuh kuat pada kuartal I 2026. Berdasarkan keterbukaan informasi, laba bersih perusahaan mencapai USD30,18 juta atau melonjak hampir tiga kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD10,48 juta.

Pendapatan ARCI naik menjadi USD136,9 juta dari sebelumnya USD90,7 juta. Dari sisi operasional, laba usaha perusahaan juga meningkat signifikan menjadi USD55,87 juta.

Meski begitu, lonjakan laba tersebut masih dibayangi tekanan biaya pendanaan. Beban keuangan ARCI tercatat sebesar USD9 juta atau menyerap porsi cukup besar dari laba sebelum pajak yang mencapai USD47,84 juta.

Kondisi tersebut menunjukkan pertumbuhan laba perusahaan masih dibarengi tekanan bunga yang relatif tinggi. Hal itu sejalan dengan struktur pendanaan perusahaan yang masih agresif berbasis utang.

Dari sisi neraca, ARCI masih memiliki utang bank jangka panjang sebesar USD429,18 juta. Total liabilitas perusahaan tercatat USD668,26 juta, lebih besar dibanding total ekuitas sebesar USD392,93 juta.

Data yang dihimpun dari platform Stockbit juga menunjukkan rasio leverage perusahaan masih relatif tinggi. Debt to equity ratio (DER) ARCI berada di kisaran 1,37 kali, sementara total liabilities to equity ratio mencapai 1,71 kali dengan financial leverage sekitar 2,83 kali.

Meski demikian, kemampuan perusahaan dalam menanggung beban bunga masih relatif terjaga. Interest coverage ratio tercatat sekitar 5,07 kali, menunjukkan laba operasional perusahaan masih mampu menopang kewajiban bunga.

Dari sisi likuiditas, current ratio ARCI berada di level 1,02 kali. Sementara quick ratio hanya sekitar 0,53 kali, yang menunjukkan likuiditas jangka pendek perusahaan masih cukup terbatas tanpa memperhitungkan persediaan.

Di tengah kenaikan harga emas global, manajemen juga menegaskan perusahaan tidak menjalankan strategi perdagangan harga emas. Fokus utama ARCI tetap berada pada produksi dan kesinambungan tambang.

Rudy mengatakan pola produksi kuartal IV 2025 dan kuartal I 2026 yang terlihat lebih tertahan merupakan bagian dari sequence mining atau urutan penambangan jangka panjang.

“Manajemen Perseroan tidak hanya fokus untuk pencapaian tahun 2025 saja, tapi juga rencana kami ke depan,” ujarnya.

ARCI juga menyebut arus kas tetap menjadi pertimbangan utama perusahaan dalam menjaga kesinambungan proyek dan operasional.

Dari sisi valuasi, saham ARCI saat ini diperdagangkan dengan price to earnings (PE) ratio sekitar 20 kali, lebih tinggi dibanding median IHSG yang berada di kisaran 9 kali. Price to book value (PBV) tercatat sekitar 6,08 kali.

Sementara price to cash flow dan price to free cash flow masing-masing berada di kisaran 30 kali. Meski demikian, PEG ratio yang rendah di level 0,12 menunjukkan saham ini masih memiliki daya tarik dari sisi pertumbuhan.

Pergerakan saham ARCI juga masih menunjukkan tren penguatan dalam jangka panjang. Dalam enam bulan terakhir saham ARCI naik sekitar 36,6 persen, sedangkan dalam satu tahun melonjak lebih dari 320 persen.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.