Logo
>

ARPU Telko Mulai Bergerak: EXCL Ngebut, ISAT dan TLKM Tahan Posisi

Perubahan paket data dan strategi harga dorong ARPU sektor telekomunikasi naik tipis, dengan EXCL memimpin pertumbuhan di tengah stabilitas pelanggan dan tekanan biaya kuartal I 2026.

Ditulis oleh Yunila Wati
ARPU Telko Mulai Bergerak: EXCL Ngebut, ISAT dan TLKM Tahan Posisi
ARPU agregat berada di level 45,5, naik 1 persen dibandingkan kuartal IV 2025. (Foto: dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Pergerakan indikator average revenue per user (ARPU) sektor telekomunikasi pada kuartal I 2026 menunjukkan pergeseran terbatas dengan kecenderungan menguat secara kuartalan. 

Data estimasi menunjukkan ARPU agregat berada di level 45,5 atau naik 1 persen dibandingkan kuartal IV 2025 sebesar 45,2. Secara tahunan, ARPU meningkat 12 persen dari posisi 40,5 pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi operator, XL Axiata (EXCL) mencatat proyeksi ARPU tertinggi dengan 46,6 pada kuartal I 2026. Angka tersebut naik 4 persen secara kuartalan dari 44,8 dan meningkat 17 persen secara tahunan dari 40,0. 

Sementara Indosat (ISAT) berada di level 43,2 atau turun 2 persen secara kuartalan dari 44,0, namun masih mencatat kenaikan 10 persen secara tahunan dari 39,2.

Telkomsel (TLKM) mempertahankan stabilitas ARPU di kisaran 46,6 pada kuartal I 2026. Angka ini relatif datar dibandingkan kuartal sebelumnya di level 46,7. Secara tahunan, TLKM mencatat kenaikan 10 persen dari 42,4.

Perubahan Struktur Paket

Perubahan struktur paket menjadi faktor utama yang mempengaruhi dinamika ARPU pada periode ini. EXCL meluncurkan beberapa paket baru seperti Ultra 5G+, Flex, FlexMax, dan Flex Mini sepanjang Januari hingga Maret 2026. 

Pada saat yang sama, perusahaan menurunkan kuota paket Xtra Combo sebesar 5 hingga 33 persen secara bulanan, yang berdampak pada peningkatan yield.

ISAT melakukan penyesuaian terbatas dengan kenaikan harga sekitar Rp1.000 pada paket kuota harian di awal kuartal. Pada Februari 2026, perusahaan meningkatkan kuota data tanpa perubahan signifikan pada harga rata-rata. 

Memasuki Maret 2026, ISAT mulai memperkenalkan paket dengan ukuran menengah hingga besar yang mendorong kenaikan harga rata-rata tanpa mengubah yield secara signifikan.

TLKM melalui Telkomsel mempertahankan struktur harga yang relatif stabil, khususnya pada segmen Rp50 ribu. Tidak terdapat perubahan signifikan pada yield maupun komposisi paket selama kuartal berjalan. Stabilitas ini tercermin pada pergerakan ARPU yang cenderung datar secara kuartalan.

Perbandingan Jumlah Pelanggan dan Fundamental

Dari sisi pelanggan, jumlah pelanggan ISAT dan TLKM diperkirakan tidak mengalami perubahan signifikan hingga akhir kuartal I 2026. EXCL diproyeksikan mencatat penurunan pelanggan sekitar 1 persen secara kuartalan. 

Penurunan tersebut terjadi di tengah transisi strategi paket dan optimalisasi yield.

Kinerja operasional sektor telekomunikasi juga tercermin dari proyeksi EBITDA yang mencapai Rp32 triliun pada kuartal I 2026. Angka ini meningkat 5 persen secara kuartalan dan 10 persen secara tahunan. 

Pertumbuhan tersebut terjadi seiring dengan pola biaya yang lebih rendah dibandingkan kuartal IV serta dampak musiman yang lebih ringan.

EXCL mencatat pertumbuhan EBITDA tertinggi dengan kenaikan 24 persen secara kuartalan dan 18 persen secara tahunan. TLKM mencatat kenaikan 2 persen secara kuartalan dan 7 persen secara tahunan. ISAT membukukan pertumbuhan 1 persen secara kuartalan dan 14 persen secara tahunan.

Pendapatan sektor diperkirakan mencapai Rp65,5 triliun pada kuartal I 2026. Angka ini turun 1 persen secara kuartalan, namun meningkat 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Penurunan kuartalan dipengaruhi oleh pelemahan segmen fixed broadband meskipun bisnis seluler tetap menunjukkan kinerja stabil.

Struktur biaya pada kuartal I 2026 mengalami peningkatan, terutama dari sisi beban gaji yang naik 9 persen secara kuartalan dan 28 persen secara tahunan. Kenaikan tersebut berkaitan dengan pergeseran periode Hari Raya Idulfitri. 

Meskipun demikian, tekanan biaya tersebut tidak menghambat pertumbuhan EBITDA secara keseluruhan.

Valuasi sektor telekomunikasi tercatat berada pada kisaran 4,7 kali enterprise value to EBITDA untuk proyeksi 2026. Angka ini berada 0,9 standar deviasi di bawah rata-rata jangka panjang. Data tersebut menunjukkan posisi valuasi yang lebih rendah dibandingkan tren historis.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79