Logo
>

Pakai Dolar, Danantara bakal Terbitkan Obligasi Bidik Investor Global

Rencana BPI Danantara menerbitkan obligasi global USD5 miliar diiringi sematan prospek negatif dari Moody's.

Ditulis oleh Adi Subchan
Pakai Dolar, Danantara bakal Terbitkan Obligasi Bidik Investor Global
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) berencana menerbitkan obligasi berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS). (Foto: Dok. Kabarbursa.com)

KABARBURSA.COM - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) berencana menerbitkan obligasi berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) dengan nilai mencapai USD5 miliar atau sekitar Rp89,5 triliun berdasarkan asumsi kurs Rp17.900 per dolar AS.

Danantara disebut telah menjadwalkan serangkaian pertemuan dengan investor global yang dimulai pada Rabu kemarin. Kegiatan tersebut dilakukan untuk menjajaki minat investor terhadap rencana penerbitan surat utang tersebut.

Dalam proses penawaran, Danantara Investment Management (DIM) disebut telah menunjuk sejumlah lembaga keuangan internasional dan domestik sebagai manajer utama sekaligus penjamin emisi. Mereka terdiri atas Citi, DBS, HSBC, Mandiri Sekuritas, dan Standard Chartered.

Rangkaian pertemuan dengan investor obligasi akan berlangsung di sejumlah kawasan, termasuk Asia, Eropa, dan Amerika Serikat (AS) mulai 3 Juni. Langkah ini dilakukan untuk memperluas basis investor sekaligus memperkenalkan profil kredit perusahaan kepada pasar internasional.

Obligasi senior berdenominasi dolar AS tersebut, apabila resmi diterbitkan, akan menjadi bagian dari program Medium Term Notes (MTN) Global senilai USD5 miliar yang telah disiapkan perusahaan.

Dari sisi peringkat kredit, obligasi tersebut telah memperoleh peringkat Baa2 dengan prospek negatif dari Moody's. Sementara itu, surat utang tersebut diperkirakan akan mendapatkan peringkat BBB dari S&P Global Ratings dan BBB dari Fitch Ratings.

Penerbitan obligasi ini menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat kapasitas pendanaan dan memperluas akses perusahaan ke pasar modal global.

Meski demikian, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari manajemen Danantara terkait jadwal final maupun besaran pasti obligasi yang akan diterbitkan.

Danantara Dapat Outlook Negatif Dari Moody’s

Lembaga pemeringkat global Moody's Ratings memberikan peringkat kredit Baa2 kepada PT Danantara Investment Management (Persero) atau DIM dengan prospek atau outlook negatif.

Peringkat tersebut sejalan dengan peringkat utang pemerintah Indonesia yang juga berada pada level Baa2 dengan outlook negatif.

Wakil Presiden sekaligus Analis Senior Moody's Ratings, Rachel Chua, mengatakan penilaian tersebut didasarkan pada hubungan yang erat antara DIM dengan pemerintah Indonesia.

“Peringkat Baa2 dengan outlook negatif untuk DIM sejalan dengan peringkat sovereign Indonesia, didukung hubungan kredit yang kuat, termasuk struktur kepemilikan dalam kerangka Danantara, serta harapan kami akan dukungan luar biasa dari pemerintah yang diberikan secara tepat waktu,” kata Chua dalam laporan yang dikutip pada Kamis, 4 Juni 2026

Moody's mengategorikan DIM sebagai Government-Related Issuer (GRI) atau entitas yang memiliki keterkaitan erat dengan pemerintah. Dalam proses pemeringkatan, lembaga tersebut menggunakan pendekatan top-down yang menitikberatkan pada hubungan dengan negara dibandingkan kekuatan kredit mandiri perusahaan.

Karena masih berada pada tahap awal pengembangan, Moody's tidak memberikan Baseline Credit Assessment (BCA) kepada perusahaan. Keputusan itu diambil lantaran DIM belum memiliki rekam jejak operasional yang panjang maupun aktivitas usaha mandiri yang signifikan.

DIM sendiri dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025 sebagai bagian dari struktur kelembagaan Danantara. Perusahaan tersebut berperan sebagai entitas pengelola investasi yang bertugas menjalankan strategi penempatan modal dan eksekusi investasi.

Menurut Moody's, kerangka hukum yang berlaku semakin memperkuat hubungan antara perusahaan dan pemerintah. Hal itu tercermin dari kepemilikan penuh DIM oleh BPI Danantara, sementara perubahan struktur kepemilikan hanya dapat dilakukan melalui revisi undang-undang.

Selain aspek kepemilikan, Moody's juga menilai pemerintah memiliki tingkat pengawasan yang tinggi terhadap operasional dan proses pengambilan keputusan investasi perusahaan. Keterlibatan pemerintah tersebut tercermin dalam struktur tata kelola dan hubungan antara jajaran manajemen serta dewan pengawas.

“Keterkaitan manajemen senior dan representasi dewan antara BPI Danantara dan DIM mendukung keselarasan strategi serta pelaksanaan investasi,” tulis Moody's dalam laporannya.

Moody's menilai faktor-faktor tersebut menjadi dasar utama yang menopang profil kredit Danantara Investment Management, terutama pada fase awal pengembangan perusahaan.

IHSG Anjlok Imbas Rating Moody’s

Imbas dari pemberitaan rating oleh Moody’s, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan selama dua hari berturut-turut. Pada perdagangan Rabu kemarin, IHSG sempat merosot sesaat setelah pembukaan perdagangan sesi II sekitar 5 persen hingga menyentuh level 5.842, dipicu kombinasi sentimen domestik dan global yang menekan kepercayaan investor.

Tekanan terhadap pasar saham domestik dipicu berbagai sentimen negatif, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah, minimnya katalis positif, hingga meningkatnya kehati-hatian investor terhadap sejumlah kebijakan pemerintah dan isu tata kelola lembaga negara.

Pelemahan IHSG semakin dalam setelah Moody's Ratings memberikan peringkat kredit Baa2 kepada PT Danantara Investment Management (DIM), entitas investasi yang berada di bawah BPI Danantara. Dalam penilaiannya, Moody's juga menetapkan outlook negatif terhadap seluruh peringkat yang diberikan.

Sementara itu, IHSG terparkir di zona merah pada penutupan perdagangan sesi I, Kamis, 4 Juni 2026. 

Indeks utama bursa anjlok tajam 3,48 persen atau turun 206,81 poin menuju level 5.734,26. Pelemahan ini menekan laju pasar modal domestik di tengah tingginya aktivitas transaksi harian.

Aktivitas perdagangan sepanjang paruh pertama hari ini berjalan sangat padat. Nilai transaksi keseluruhan bursa menembus angka jumbo sebesar Rp12,18 triliun. Investor mentransaksikan lebih dari 215,59 juta lot saham hanya dalam rentang waktu setengah hari perdagangan.

Laju indeks sempat menyentuh titik terendah pada level 5.644,23 sesaat setelah pembukaan bursa. IHSG kemudian mencoba merangkak naik namun tertahan pada batas tertinggi 5.924,51.

Tekanan jual yang masif membuat indeks gagal kembali ke level penutupan hari sebelumnya di angka 5.941,07.

Kejatuhan bursa pada paruh hari ini sangat dipengaruhi oleh aksi pelepasan saham sektor perbankan. Investor asing secara agresif membuang kepemilikan mereka pada empat bank berkapitalisasi pasar terbesar. Aksi jual bersih ini langsung menggerus nilai kapitalisasi pasar bursa secara keseluruhan.

Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai pelemahan rupiah menjadi salah satu faktor utama yang membebani pasar saham.

Menurut dia, nilai tukar rupiah yang mendekati Rp17.950 per dolar AS meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas pasar keuangan domestik.

“Pergerakan IHSG masih berada di fase downtrend-nya dan belum menunjukkan adanya tanda-tanda pembalikan arah yang valid,” kata Herditya.

Selain tekanan dari kurs, Herditya melihat aksi ambil untung pada sejumlah saham konglomerasi turut mempercepat koreksi pasar. Sebelumnya, beberapa saham tersebut mengalami kenaikan signifikan dan bahkan sempat menyentuh batas auto reject atas (ARA).

Dari sisi teknikal, ia menilai tren penurunan masih mendominasi pergerakan IHSG sehingga peluang pemulihan masih terbatas dalam jangka pendek.

Pandangan serupa disampaikan Head of Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana. Menurutnya, tekanan terhadap IHSG berasal dari kombinasi faktor fundamental, kebijakan pemerintah, dan sentimen eksternal yang terjadi secara bersamaan.

Wawan menyoroti kenaikan inflasi dan pelemahan rupiah yang masih berlangsung sebagai faktor yang memengaruhi persepsi investor terhadap prospek ekonomi nasional.

Di sisi lain, pasar juga mencermati sejumlah kebijakan baru pemerintah yang dinilai berpotensi menambah beban perpajakan bagi badan usaha berbentuk perseroan terbatas (PT) maupun persekutuan komanditer (CV).

“Inflasi mulai meningkat dan nilai tukar terus melemah. Pemerintah juga mengeluarkan kebijakan baru yang dirasa akan menambah beban pajak, sehingga dipersepsikan negatif oleh pasar di saat katalis positif masih terbatas,” ujar Wawan.

Selain faktor ekonomi, investor turut memperhatikan perkembangan pemeriksaan yang dilakukan Kejaksaan Agung terhadap Badan Gizi Nasional (BGN). Isu tersebut dinilai sensitif karena berkaitan dengan aspek hukum, tata kelola anggaran, dan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menggunakan dana besar dari APBN.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan persepsi risiko investasi di Indonesia, terutama jika memunculkan kekhawatiran terkait tata kelola program pemerintah.

Sentimen pasar juga dipengaruhi outlook negatif yang disematkan Moody's terhadap Danantara. Meski Danantara bukan perusahaan terbuka, kebijakan dan perannya dalam pengelolaan aset negara tetap menjadi perhatian investor.

Wawan mengatakan pasar masih mencermati kontribusi Danantara terhadap perekonomian nasional serta efektivitas implementasi sejumlah kebijakan yang berkaitan dengan lembaga tersebut.

“Danantara hingga saat ini memang masih ditelaah sumbangsihnya bagi perekonomian secara umum,” kata Wawan.

Menurut dia, dampak Danantara terhadap pasar modal tidak bersifat langsung. Namun, persepsi investor terhadap tata kelola BUMN dan arah kebijakan pemerintah dapat memengaruhi sentimen investasi secara keseluruhan.

Dari faktor eksternal, penguatan dolar AS turut memberikan tekanan terhadap rupiah. Tingginya kebutuhan devisa untuk impor energi serta ketidakpastian geopolitik global membuat mata uang AS masih berada dalam tren penguatan.

Meski peluang rebound teknikal tetap terbuka setelah koreksi tajam, Wawan menilai arah pergerakan IHSG masih akan bergantung pada muncul atau tidaknya sentimen positif baru.

“Sepanjang belum ada katalis positif, IHSG bisa terus tertekan. Rebound teknikal masih mungkin terjadi, tetapi secara keseluruhan masih negatif,” tuturnya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Adi Subchan

Adi Subchan, telah berkarir sebagai jurnalistik sejak 2002 dan telah meliputi tentang Politik, Olahraga, Lifestyle, dan Ekonomi di berbagai media berskala nasional maupun lokal (daerah). Dan pernah ditugaskan meliput peristiwa-peristiwa besar di Indonesia dan dunia. Tercatat pula sebagai Wartawan Utama melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang diinisiasi LPSD dengan nomor 749-LPDS/WU/DP/I/2012/03/05/79.