Logo
>

Asing Catat Net Buy Rp1,73 Triliun di Sesi Siang, Transaksi Domestik Masih Dominan

Investor asing akumulasi saham saat sesi tengah hari, tetapi IHSG masih dibayangi outflow YTD dan tekanan jual di bank jumbo.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Asing Catat Net Buy Rp1,73 Triliun di Sesi Siang, Transaksi Domestik Masih Dominan
Asing net buy Rp1,73 triliun pada 25 Februari 2026, namun transaksi domestik tetap dominan dan outflow YTD masih menekan IHSG. Foto: Desty Luthfiani/KabarBursa

KABARBURSA.COM — Arus dana asing kembali mengalir masuk ke pasar saham domestik atau Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan sesi tengah hari, Rabu, 25 Februari 2026. Data aktivitas investor menunjukkan pembelian bersih atau net foreign buy mencapai Rp1,73 triliun, di tengah dominasi nilai transaksi investor domestik yang masih lebih besar.

Berdasarkan data BEI yang dihimpun melalui Stockbit Sekuritas, nilai pembelian investor asing tercatat Rp6,32 triliun, sementara penjualan berada di level Rp4,59 triliun. Selisih keduanya membentuk net buy yang memberi penopang likuiditas pasar pada paruh pertama perdagangan.

Meski mencatatkan beli bersih, porsi transaksi asing masih berada di bawah investor domestik. Nilai aktivitas investor lokal mencapai Rp22,41 triliun, terdiri dari beli Rp10,34 triliun dan jual Rp12,07 triliun. Secara persentase, investor domestik menguasai 67,26 persen total nilai transaksi, sedangkan investor asing berada di level 32,74 persen.

Komposisi ini memperlihatkan struktur pasar yang masih bertumpu pada pelaku domestik. Arus dana asing memang memberi arah sentimen, tetapi kedalaman likuiditas tetap ditentukan oleh aktivitas investor dalam negeri.

Data sesi tengah hari juga menunjukkan pola yang berbeda antara pelaku asing dan domestik. Investor asing mencatatkan akumulasi bersih, sementara investor domestik masih berada dalam posisi jual bersih intraday. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya perpindahan saham dari tangan investor lokal ke investor global pada harga berjalan. Dalam banyak kasus, pola seperti ini kerap dibaca sebagai fase akumulasi oleh investor asing, terutama ketika terjadi setelah tekanan jual dalam beberapa waktu sebelumnya.

Namun dominasi nilai transaksi domestik menegaskan bahwa arah indeks dalam jangka pendek masih sangat bergantung pada perilaku investor lokal. Dengan porsi lebih dari dua pertiga total transaksi, perubahan sentimen domestik berpotensi lebih cepat memengaruhi pergerakan harga.

Bank Jumbo Jadi Sumber Tekanan IHSG

Di samping euforia domestik, IHSG yang timbul tenggelam sejak awal tahun tak bisa dilepaskan dari derasnya arus keluar dana asing. Hingga awal Februari 2026, investor global tercatat masih melakukan jual bersih di kisaran Rp11,4 triliun hingga Rp11,49 triliun. Angka tersebut menandai bahwa sejak Januari aliran modal asing belum benar-benar kembali menguat.

Gelombang outflow paling terasa terjadi pada 29 Januari 2026. Dalam satu hari, investor asing mencatatkan jual bersih Rp5,11 triliun. Aksi tersebut langsung menekan indeks harga saham gabungan yang turun 1,06 persen, dengan 521 saham bergerak di zona merah.

Pola ini memperlihatkan betapa sensitifnya pergerakan indeks terhadap arus dana global. Ketika dana asing keluar dalam jumlah besar, tekanan langsung merambat ke saham-saham berkapitalisasi jumbo yang menjadi penggerak utama pasar.

Secara sektoral, tekanan jual paling besar terkonsentrasi pada saham perbankan dan emiten berkapitalisasi besar. Hingga akhir Januari, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan jual bersih asing Rp2,05 triliun. Disusul PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp853,63 miliar, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Rp802,85 miliar, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp568,86 miliar, serta PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp311,94 miliar.

Keluarnya dana dari saham-saham tersebut membuat ruang penguatan indeks menjadi terbatas. Pergerakan IHSG yang cenderung tertahan dalam beberapa pekan terakhir tak lepas dari distribusi asing di kelompok saham big caps.

Tekanan paling dalam terlihat pada saham BCA. Dalam periode 1 Januari hingga 20 Februari 2026, investor asing mencatatkan pembelian Rp33,8 triliun dan penjualan Rp50,06 triliun, menghasilkan jual bersih Rp16,26 triliun. Dalam periode yang sama harga sahamnya terkoreksi 9,97 persen secara year to date. Besarnya porsi saham bank dalam struktur kapitalisasi pasar membuat pelemahan pada sektor ini berdampak langsung terhadap indeks secara keseluruhan.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).