KABARBURSA.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih menghadapi tekanan jual pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026. Setelah terkoreksi 0,82 persen ke level 6.318, arah pergerakan pasar dinilai belum sepenuhnya keluar dari fase pelemahan jangka pendek.
Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana atau Didit menilai posisi IHSG saat ini masih berada dalam fase korektif berdasarkan pendekatan Elliott Wave.
“IHSG diperkirakan masih berada bagian dari wave [v] dari wave A dari wave (2) pada label hitam,” tulis Didit dalam riset harian MNCS Daily Scope Wave edisi Kamis, 21 Mei 2026.
Analisis tersebut mengindikasikan tekanan turun berpotensi belum sepenuhnya selesai. MNC Sekuritas memperkirakan ruang koreksi IHSG masih terbuka menuju area 6.148–6.179 sebelum peluang pemulihan lebih kuat muncul. Sementara itu, area penguatan terdekat diproyeksikan berada pada rentang 6.401–6.514.
Secara teknikal, level 6.148 menjadi support utama yang perlu dipertahankan pelaku pasar. Jika tekanan jual berlanjut hingga menembus area tersebut, IHSG berisiko bergerak menuju support berikutnya di 6.092. Adapun resistance terdekat berada pada 6.459 dan 6.635.
Gambaran pada grafik MNC Sekuritas bahkan memberi judul cukup keras: “JCI – Looks Like a Falling Knife”, istilah yang umum dipakai analis pasar untuk menggambarkan saham atau indeks yang masih berada dalam tren penurunan tajam sehingga rentan memicu aksi jual lanjutan.
Saham yang Menarik Dipantau di Tengah Tekanan IHSG
Di tengah pasar yang masih cenderung defensif, MNC Sekuritas menyoroti sejumlah saham yang pergerakannya dinilai layak dicermati berdasarkan pola gelombang teknikal.
1. AADI
Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) ditutup di level 8.125 setelah terkoreksi 0,91 persen. Herditya menilai tekanan jual masih dominan dan harga bahkan telah bergerak di bawah MA200.
“AADI terkoreksi 0,91 persen ke 8,125 dan masih didominasi oleh tekanan jual, koreksinya pun sudah berada di bawah MA200,” tulisnya.
Meski demikian, MNC memperkirakan AADI sedang membentuk bagian dari wave (v) dari wave [c] dari wave B, yang kerap dibaca sebagai fase akhir koreksi sebelum potensi pembalikan arah. Target teknikal dipantau pada area 8.500–9.125.
2. AMRT
Saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) juga masuk radar setelah melemah 2,77 persen ke 1.405. “AMRT terkoreksi 2,77% ke 1,405 dan disertai dengan munculnya tekanan jual,” tulis Didit.
Menurut MNC, posisi AMRT saat ini diperkirakan berada pada wave [iv] dari wave C dari wave (Y) dengan area penguatan potensial menuju 1.555–1.635.
3. HRTA
Untuk PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), pelemahan harga relatif terbatas yakni 0,46 persen ke 2.170. Menariknya, koreksi tersebut masih disertai volume pembelian.
“HRTA terkoreksi 0,46 persen ke 2,170 namun masih disertai dengan munculnya volume pembelian,” tulis Didit.
MNC memperkirakan HRTA sedang berada dalam wave 3 dari wave (C), pola yang umumnya diasosiasikan dengan fase penguatan lebih agresif. Area teknikal yang dipantau berada pada 2.240–2.370.
4. MBMA
Sementara itu, saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) melemah paling dalam di antara daftar pantauan, yakni 3,36 persen ke level 460.
“MBMA terkoreksi 3,36 persen ke 460 dan masih didominasi oleh tekanan jual,” tulis Didit.
Meski demikian, posisi MBMA diperkirakan sedang membentuk wave [iii] dari wave C, dengan area teknikal yang dicermati pada kisaran 478–520.
Secara umum, proyeksi MNC menunjukkan pasar saham domestik masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan defensif. Di tengah tekanan eksternal dari ketidakpastian global dan pelemahan nilai tukar, investor tampaknya masih menunggu katalis baru sebelum kembali mendorong IHSG keluar dari zona koreksi.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.