KABARBURSA.COM – Saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mulai menunjukkan tanda-tanda dilirik kembali oleh investor asing. Data transaksi perdagangan terakhir, Kamis, 15 Januari 2026, mencatat foreign buy sebesar Rp54,95 miliar, sementara foreign sell di kisaran Rp34,93 miliar.
Dengan demikian, terdapat net foreign buy sekitar Rp20,02 miliar di pasar reguler. Dari sisi volume, pola yang sama juga terlihat, dengan pembelian asing sekitar 44,93 juta saham dan penjualan sekitar 28,58 juta saham.
Secara arus dana, ini menandakan bahwa asing sudah berada di sisi akumulasi. Namun, fakta menariknya, harga KLBF belum juga keluar dari zona merah. Ini mengindikasikan bahwa tekanan jual domestik masih dominan.
Nilai jual investor lokal tercatat mencapai sekitar Rp41,75 miliar, jauh lebih besar dibandingkan nilai beli domestik yang berada di kisaran Rp21,72 miliar. Dengan struktur ini, meskipun asing net buy, keseimbangan pasar secara keseluruhan masih berat ke sisi penawaran.
Dari sisi broker summary, indikator aktivitas memang sudah berada dekat area “Big Acc”, tetapi karakter akumulasinya belum agresif. Pembelian yang terjadi lebih menyerupai serapan pasif terhadap tekanan jual, bukan dorongan harga ke atas.
Pola ini biasanya muncul dalam fase distribusi halus atau konsolidasi menurun, yaitu ketika harga ditekan, tetapi mulai diserap secara bertahap oleh pihak-pihak yang lebih sabar.
Inilah yang menjelaskan mengapa KLBF tetap bergerak lemah meskipun asing mulai masuk. Arus asing belum cukup dominan untuk mengimbangi tekanan jual domestik.
Secara teknikal, saham ini masih berada dalam fase koreksi, di mana setiap kenaikan kecil cenderung langsung dimanfaatkan sebagai momen jual. Struktur seperti ini membuat reli menjadi pendek, rapuh, dan mudah patah.
Harga Masih Undervalued
Namun, cerita KLBF tidak berhenti di sisi teknikal semata. Dari perspektif valuasi, saham ini sebenarnya sudah masuk wilayah yang secara statistik tergolong murah.
Harga KLBF saat ini berada di sekitar Rp1.205, sementara konsensus analis mematok target harga rata-rata di Rp1.727, dengan estimasi terendah Rp1.350 dan tertinggi Rp2.200. Ini berarti, secara nominal, potensi upside masih terbuka lebar.
Dari sisi fundamental, proyeksi konsensus juga masih menunjukkan tren pertumbuhan. Laba bersih diperkirakan naik dari Rp3,24 triliun pada 2024 menjadi Rp3,53 triliun pada 2025, lalu Rp3,85 triliun pada 2026. EPS meningkat dari 69,13 menjadi 76,01 dan 83,01. Secara matematis, ini menyediakan dasar yang kuat bagi valuasi yang lebih tinggi dibandingkan harga sekarang.
Jika diturunkan dengan pendekatan PE, maka gambaran harga wajarnya menjadi lebih jelas. Rata-rata historis PE KLBF selama tiga tahun terakhir berada di sekitar 23,33 kali. Dengan EPS 2025 sebesar 76,01, maka harga wajarnya secara statistik berada di kisaran Rp1.773.
Menggunakan EPS 2026 sebesar 83,01, fair value-nya naik ke sekitar Rp1.937. Angka ini sejalan dengan target konsensus analis yang berada di Rp1.727.
Sebaliknya, PE KLBF saat ini hanya sekitar 16,15 kali, lebih rendah dibandingkan -1 standar deviasi (18,93) dan mendekati area -2 standar deviasi (14,53). Dengan EPS 2025, PE 16,15 kali mengimplikasikan harga wajar jangka pendek di kisaran Rp1.227. Ini hampir identik dengan harga pasar saat ini. Artinya, secara statistik, KLBF sudah diperdagangkan di zona diskon terhadap rerata historisnya.
Terlempar dari Indeks MSCI
Namun, diskon ini bukan tanpa alasan. Salah satu faktor struktural yang menekan harga adalah keluarnya KLBF dari indeks MSCI. Ketika sebuah saham keluar dari indeks global, dana pasif yang mengikuti indeks tersebut wajib melakukan rebalancing.
Ini menciptakan tekanan jual yang bersifat mekanis, bukan karena fundamental memburuk, melainkan karena mandat portofolio berubah. Tekanan seperti ini biasanya temporer, tetapi bisa berkepanjangan jika tidak segera diimbangi oleh permintaan baru.
Inilah sebabnya, meskipun secara valuasi KLBF sudah murah dan secara fundamental masih bertumbuh, harga belum juga memantul. Pasar belum melihat katalis yang cukup kuat untuk menyerap seluruh tekanan struktural tersebut. Arus asing memang mulai masuk, tetapi belum cukup besar untuk mengubah arah tren.
Target Harga Selanjutnya
Jika dikaitkan dengan target harga ke depan, maka secara statistik dan konsensus, area Rp1.350 dapat dianggap sebagai batas bawah wajar, sementara zona Rp1.700–Rp1.800 adalah wilayah harga wajar berbasis rerata valuasi. Untuk menembus Rp2.000 ke atas, KLBF harus kembali diperdagangkan di atas mean PE historisnya, yang biasanya hanya terjadi ketika sentimen sangat positif atau muncul katalis pertumbuhan yang kuat.
Dengan kata lain, target harga rasional KLBF selanjutnya berada di kisaran Rp1.350–Rp1.750 dalam skenario normalisasi. Di bawah itu, saham ini tergolong undervalued secara statistik. Di atas itu, pasar mulai menuntut narasi pertumbuhan yang lebih agresif.
Keluarnya KLBF dari MSCI membuat jalur menuju harga wajarnya tidak lagi lurus. Saham ini kini berada dalam fase transisi, di mana ia harus menemukan basis investor barunya. Dalam fase seperti ini, volatilitas cenderung meningkat dan reli sering kali pendek.
Itulah sebabnya pendekatan sell on strength masih relevan secara struktural—bukan karena KLBF mahal, tetapi karena struktur pergerakannya masih rapuh.
Jika arus asing yang mulai masuk ini berlanjut secara konsisten dan tekanan pasif akibat rebalancing MSCI benar-benar mereda, maka pasar akan mulai menguji kembali harga wajarnya berbasis fundamental. Namun sebelum itu terjadi, KLBF masih berada dalam fase pemulihan struktural, bukan fase impulsif naik.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.