KABARBURSA.COM — Saham PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) belum ke mana-mana. Harga masih mondar-mandir di kisaran Rp400-an, di tengah pasar properti yang mulai beringsut bangun dari tidur panjang. Tidak melonjak, tapi juga tak tampak limbung. Di layar perdagangan, SMRA bergerak tenang, seolah menunggu alasan yang cukup besar untuk melangkah lebih jauh.
Di balik pergerakan yang tampak datar itu, data broker dan konsensus analis memberi sinyal berbeda. Belum terlihat tekanan jual besar yang biasanya menandai fase distribusi. Aktivitas transaksi lebih menyerupai adu sabar, sementara mayoritas analis masih mematok target harga di atas level pasar saat ini, meski tanpa euforia.
Pergerakan saham SMRA pada pertengahan Januari 2026 memperlihatkan satu hal yang menarik untuk dicermati publik. Arus transaksi besar masih didominasi pemain bermodal kuat dengan pola beli–jual yang relatif seimbang, bukan aksi panik atau distribusi brutal.
Dari data broker distribution pada 15 Januari 2026, terlihat Stockbit Sekuritas muncul sebagai pembeli terbesar dari sisi nilai transaksi. Total pembelian yang dicatatkan mencapai sekitar Rp10,48 miliar. Angka ini menempatkan Stockbit sebagai aktor utama di sisi akumulasi, memberi sinyal bahwa ada minat beli yang cukup serius terhadap saham pengembang properti tersebut.
Di posisi berikutnya, Ajaib Sekuritas Indonesia juga tercatat aktif sebagai pembeli dengan nilai transaksi sekitar Rp3,84 miliar. Walau nilainya berada di bawah Stockbit Sekuritas, kehadiran Ajaib tetap relevan karena menunjukkan bahwa minat terhadap SMRA tidak hanya datang dari satu kantong likuiditas, melainkan tersebar di lebih dari satu saluran ritel besar.
Namun cerita pasar tidak berhenti di sisi beli.
Di kubu penjual, Stockbit Sekuritas kembali muncul, kali ini sebagai penjual terbesar, dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp2,32 miliar. Pola ini penting dicatat. Artinya, sebagian pihak yang masuk lewat Stockbit juga melakukan realisasi keuntungan secara terbatas atau sekadar menyeimbangkan posisi. Ini lebih mencerminkan jual-beli aktif ketimbang aksi lepas barang secara agresif.
Sementara itu, Ajaib Sekuritas Indonesia juga tercatat di sisi penjualan dengan nilai sekitar Rp647 juta. Angka ini relatif kecil dibandingkan nilai beli yang mereka lakukan sebelumnya, sehingga secara bersih, Ajaib masih cenderung berada di posisi net buy tipis.
Jika dilihat secara keseluruhan, dua broker teratas—Stockbit Sekuritas dan Ajaib Sekuritas Indonesia—menunjukkan pola transaksi yang sehat. Tidak ada dominasi ekstrem di sisi jual yang biasanya identik dengan distribusi besar-besaran. Yang tampak justru aktivitas tarik-ulur wajar, di mana sebagian investor mengambil untung, sementara yang lain masih masuk dengan keyakinan tertentu.
Fundamental Jadi Jangkar SMRA
Di balik tarik-ulur transaksi para broker itu, ada satu jangkar yang membuat saham SMRA belum mudah terombang-ambing, yakni kinerja operasional yang masih solid. Pasar boleh ribut soal jual-beli harian, tapi fondasi perusahaan tetap berbicara lewat angka penjualan.
Sepanjang 2025, SMRA mencatat marketing sales Rp5,52 triliun. Angka ini bukan cuma tumbuh, tapi juga melampaui target manajemen yang dipatok di Rp5 triliun. Artinya, realisasi penjualan berada sekitar 11 persen di atas target, sebuah capaian yang jarang diabaikan investor, terutama di sektor properti yang sensitif terhadap siklus ekonomi dan suku bunga.
“Summarecon Agung mencatat marketing sales Rp1,96 T pada 4Q25 (+15 persen year on year, +41 persen quartal on quartal). Hasil ini membuat marketing sales selama 2025 mencapai Rp5,52 triliun (naik 27 persen year on year), lebih tinggi sekitar 11 persen dibandingkan target 2025 di level Rp5 triliun,” tulis Stockbit Sekuritas dalam risetnya yang dikutip Minggu, 18 Januari 2026.
Yang membuat capaian ini terasa lebih “sehat” adalah komposisi penjualannya. Sekitar 74 persen marketing sales berasal dari segmen rumah tapak, segmen yang umumnya ditopang end-user, bukan spekulan. Dengan kata lain, penjualan SMRA masih bertumpu pada permintaan riil masyarakat, bukan sekadar transaksi bolak-balik untuk mengejar capital gain cepat.
“Segmen rumah berkontribusi sekitar 74 persen dari marketing sales selama 2025, diikuti oleh ruko (17 persen), kavling tanah (7 persen), apartemen (2 persen), serta perkantoran dan komersial (0,1 persen),” tulis Stockbit Sekuritas.
Di tengah pasar properti yang masih selektif, dominasi segmen rumah ini memberi bantalan psikologis bagi investor. Rumah untuk dihuni cenderung lebih tahan guncangan dibanding produk yang terlalu bergantung pada sentimen investasi jangka pendek. Inilah yang membuat pergerakan saham SMRA relatif terjaga, meski tidak melesat agresif.
Fondasi fundamental tersebut kemudian tercermin dalam pandangan analis. Dari 18 analis yang memantau saham ini, 16 memberikan rekomendasi Buy, sementara 2 lainnya memilih Hold, dan tidak ada yang merekomendasikan Sell. Komposisi ini menunjukkan sentimen pasar masih condong positif, meski dengan catatan kehati-hatian.
Secara valuasi, target harga rata-rata analis berada di Rp562 per saham, dengan estimasi tertinggi mencapai Rp800 dan terendah di Rp400. Dibandingkan dengan harga saat ini di kisaran Rp410, masih ada ruang kenaikan sekitar 37 persen menuju target konsensus.
Namun pasar tampaknya memilih bergerak perlahan. Kinerja yang kuat memang memberi alasan untuk optimisme, tetapi investor juga sadar bahwa saham properti jarang melaju dalam garis lurus. Faktor makro, suku bunga, dan daya beli tetap menjadi variabel yang diawasi ketat.
Karena itu, wajar jika pergerakan SMRA saat ini lebih banyak diwarnai konsolidasi. Kinerja operasional masih jadi penopang utama, sementara konsensus analis berfungsi sebagai jangkar sentimen, menjaga ekspektasi tetap realistis.
Singkatnya, SMRA tidak sedang dijual karena cerita buruk, juga belum dikejar karena euforia. Ia berada di titik yang khas saham berfundamental kuat, bergerak pelan, dijaga data, dan ditunggu waktu.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.