Logo
>

Asing Masuk, Katalis Jalan, Saham AISA Mulai Dilirik Lagi

Arus dana asing menguat dan aksi korporasi terbaru membuka peluang lanjutan bagi saham FMCG pemilik merek Taro

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Asing Masuk, Katalis Jalan, Saham AISA Mulai Dilirik Lagi
Saham AISA mulai dilirik investor setelah pembelian asing meningkat dan muncul katalis kerja sama logistik yang berpotensi mendorong harga saham. Foto: Dok. AISA

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Di tengah pasar saham yang kerap berisik oleh sentimen global dan saham-saham berkapitalisasi besar, satu emiten consumer non-cyclicals mulai pelan-pelan mencuri perhatian. Bukan karena lonjakan harga yang meledak-ledak, melainkan karena kombinasi arus dana asing, pergerakan harga yang disiplin, dan katalis korporasi yang datang di waktu yang pas. Emiten itu adalah PT FKS Food Sejahtera Tbk dengan kode saham AISA.

    Pergerakan dana asing menjadi titik awal cerita ini. Dalam dua hari terakhir, pembelian asing di saham AISA meningkat, sementara tekanan jual justru mereda tajam. Founder Pintar Saham, Ngurah Warman, mencatat dinamika tersebut sebagai sinyal awal yang tidak bisa diabaikan begitu saja oleh investor ritel.

    “$AISA sudah dua hari mengalami peningkatan pembelian asing sebesar 11,03 persen, penjualan asing melemah sebesar -85,74 persen, sementara hari terakhir AISA mengalami perubahan harga 0,74 persen,” tulis Ngurah dalam analisis hariannya, Selasa, 13 Januari 2026.

    Ia menambahkan, porsi transaksi asing terhadap total perdagangan juga cukup signifikan. “Emiten ini menjadi semakin menarik karena ada pembelian asing sebesar 11,13 persendari total volume yang diperdagangkan.”

    Data orderbook dan distribusi broker justru memperlihatkan pola yang cukup disiplin. Pada periode 12–13 Januari 2026, aktivitas investor asing di saham AISA terlihat cukup aktif.

    Dari ringkasan broker foreign pada platform Stockbit tercatat, Mandiri Sekuritas merupakan pembeli terbesar dengan nilai transaksi beli mencapai sekitar Rp156 miliar, disusul JP Morgan Sekuritas Indonesia di kisaran Rp20 miliar dan KGO Sekuritas Indonesia sekitar Rp6 miliar. Di sisi lain, penjualan asing juga terjadi dengan CC kembali muncul sebagai penjual sekitar Rp166 miliar, lalu BK sekitar Rp48 miliar dan TP sekitar Rp20 miliar.

    Polanya menunjukkan satu hal penting. Asing tidak sepenuhnya keluar, tapi melakukan transaksi dua arah. Ini bukan pola distribusi agresif, melainkan rotasi posisi. Bagi investor ritel, kondisi seperti ini biasanya muncul di fase awal atau tengah tren, ketika harga sudah naik dari bawah, tetapi belum memasuki fase euforia.

    Pembacaan itu makin relevan ketika melihat peta broker distribution pada 12 Januari 2026. Di sisi pembeli, Stockbit Sekuritas tampil dominan dengan nilai sekitar Rp317 miliar, disusul Mandiri Sekuritas sekitar Rp57 miliar dan BRI Danareksa Sekuritas sekitar Rp42 miliar. Sementara di sisi penjual, Stockbit Sekuritas juga muncul dengan nilai sekitar Rp59 miliar, bersama Mirae Asset Sekuritas dan BCA Sekuritas.
    .
    Kemunculan Stockbit Sekuritas di dua sisi sekaligus bukan sinyal buruk. Justru ini mengindikasikan adanya akumulasi bertahap yang diselingi ambil untung jangka pendek. Pola seperti ini lazim terjadi pada saham yang mulai dilirik dana besar, tapi masih dalam proses pembentukan tren, bukan fase akhir.

    Memasuki 13 Januari 2026, komposisi broker sedikit bergeser, namun tidak menunjukkan tanda pembalikan arah. BCA Sekuritas muncul sebagai pembeli terbesar dengan nilai sekitar Rp214 miliar, diikuti Stockbit Sekuritas dan Mandiri Sekuritas masing-masing di kisaran Rp40 miliar. Di sisi penjual, Panin Sekuritas mencatat penjualan sekitar Rp127 miliar, disusul Stockbit Sekuritas sekitar Rp20 miliar.

    Yang menarik, tekanan jual tidak terkonsentrasi pada satu broker yang sama dari hari sebelumnya. Penjual bergeser, sementara pembeli besar tetap muncul. Ini memperkuat kesan bahwa saham AISA masih berada dalam fase transaksi sehat, bukan dibuang massal oleh pelaku besar.

    Level harga juga memperkuat narasi tersebut. Rata-rata harga beli Mandiri Sekuritas tercatat di sekitar 136, sementara JP Morgan Sekuritas berada di kisaran 138. Ini selaras dengan area yang disebut sebagai zona demand kuat, yakni 134–136. Selama harga bertahan di area ini dan volume tetap terjaga, pergerakan naik tidak bisa disebut sekadar pantulan teknikal semata.


    Secara teknikal, saham AISA memang sudah bangkit cukup jauh dari titik terendah. Dari harga bottom di Rp93 per saham, AISA telah menguat sekitar 47,31 persen. Namun menurut Ngurah Warman, kenaikan tersebut belum otomatis menutup peluang lanjutan, selama permintaan pasar tetap agresif di area tertentu.

    “Meskipun kenaikan dari bottom sudah mencapai 47,31 persen, di mana harga terendahnya (Rp93,-), harga AISA berpotensi melanjutkan penguatan selama ada demand yang agresif pada rentang harga 134 - 136,” tulisnya.

    Momentum teknikal itu kemudian bertemu dengan katalis korporasi. Pada 8 Januari 2026, AISA mengumumkan aksi baru bersama entitas terafiliasi yang berpotensi mendorong persepsi pasar. Emiten pemilik merek Taro ini resmi menandatangani Perjanjian Layanan Logistik dengan PT Karya Nusa Logistika yang mencakup layanan pergudangan dan penanganan produk untuk meningkatkan efisiensi distribusi.

    Direktur Utama AISA, Gerry Mustika, menyebut kerja sama tersebut ditujukan untuk memperlancar operasional perseroan, terutama dalam pengelolaan rantai pasok dan distribusi produk agar lebih optimal.

    Bagi pasar, langkah ini tidak sekadar soal logistik. Di industri fast moving consumer goods, efisiensi distribusi berkaitan langsung dengan margin dan daya saing. Ketika biaya logistik bisa ditekan dan alur distribusi lebih rapi, ruang perbaikan kinerja keuangan menjadi lebih terbuka.

    Ngurah menilai, jika katalis ini bertemu dengan kelanjutan minat asing dan investor ritel ikut masuk secara agresif, maka ruang pergerakan harga jangka pendek masih terbuka.

    “Jika pembelian asing masih meningkat dan katalis ini mampu mendorong investor individual semakin agresif melakukan pembelian saham AISA, potensi pergerakan harga AISA melanjutkan penguatan jangka pendek pada rentang harga 142 - 147,” katanya.

    Di luar cerita jangka pendek, AISA tetap berdiri di atas bisnis yang relatif defensif. Perseroan merupakan perusahaan FMCG yang memproduksi makanan olahan, mulai dari mi kering dan bihun, hingga biskuit, wafer, dan makanan ringan ekstrusi. Portofolio mereknya mencakup Ayam 2 Telor, Superior, Filtra, Kurma, Spider, Bihunku, Sounku, Taro, Bravo, Pio, dan Gulas.

    Produksi dijalankan melalui sejumlah entitas anak seperti PT Tiga Pilar Sejahtera, PT Poly Meditra Indonesia, PT Balaraja Bisco Paloma, dan PT Subafood Pangan Jaya. Struktur ini memberi skala produksi sekaligus fleksibilitas distribusi.

    Bagi investor ritel, AISA kini berada di titik persimpangan yang menarik. Di satu sisi, ia menawarkan karakter bisnis kebutuhan harian yang cenderung tahan banting. Di sisi lain, pergerakan asing dan katalis korporasi menciptakan peluang momentum jangka pendek. Pertanyaannya tinggal satu, apakah arus dana dan sentimen ini cukup kuat untuk menjaga laju, atau hanya sekadar persinggahan sementara di tengah pasar yang masih penuh godaan.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).