KABARBURSA.COM – PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) bergerak naik menjelang cum date dividen tunai yang jatuh pada 3 Juni 2026. Saham emiten media Grup Emtek itu ditutup menguat 1,77 persen atau bertambah 4 poin ke level 230 pada perdagangan Selasa, 2 Juni 2026.
Penguatan tersebut terjadi ketika pasar mulai memburu momentum dividen tunai sebesar Rp12 per saham. Dengan harga penutupan di level 230, dividend yield SCMA berada di kisaran 5 persen lebih.
Sepanjang perdagangan hari ini, SCMA bergerak dalam rentang 224 hingga 232. Nilai transaksinya mencapai Rp6,20 miliar dengan volume perdagangan 271,68 juta saham dan frekuensi transaksi sebanyak 2.618 kali.
Asing Terus Buang Saham
Meski harga berhasil ditutup di zona hijau, struktur transaksi SCMA sebenarnya masih memperlihatkan tekanan distribusi asing. Data historical menunjukkan pada perdagangan 2 Juni 2026, foreign buy tercatat Rp1,07 miliar, sementara foreign sell mencapai Rp2,76 miliar.
Artinya, terdapat net foreign sell sekitar Rp1,69 miliar dalam satu hari perdagangan. Kondisi ini melanjutkan pola distribusi asing yang sudah muncul dalam beberapa sesi terakhir.
Pada 29 Mei 2026, asing juga masih mencatatkan jual bersih Rp693 juta. Bahkan sejak pekan kedua Mei, pergerakan dana asing di SCMA cenderung belum stabil meski sempat terjadi beberapa hari akumulasi.
Dijual CC, Ditampung RF
Dari sisi broker summary, aktivitas distribusi terlihat cukup dominan. Broker Mandiri Sekuritas (CC) tercatat menjadi penjual terbesar dengan nilai Rp882,8 juta atau sekitar 38,7 juta lot di harga rata-rata 229.
Selain itu, broker CGS International Sekuritas Indonesia (YU) melepas Rp412,9 juta dan broker Trimegah Sekuritas Indonesia (LG) menjual Rp362,8 juta saham SCMA.
Di sisi pembelian, broker Buana Capital Sekuritas (RF) menjadi akumulator terbesar dengan nilai beli Rp458 juta di harga rata-rata 229. Broker Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) juga tercatat mengoleksi Rp436,7 juta, sementara UBS Sekuritas Indonesia (AK) membeli Rp434 juta saham SCMA.
Komposisi broker tersebut memperlihatkan pasar masih terbagi dua arah. Sebagian pelaku pasar mulai masuk memanfaatkan momentum dividen, sementara sebagian lainnya memilih merealisasikan keuntungan setelah saham mulai rebound dari area bawah.
Tekanan Jual Tebal di Level 230
Dari struktur orderbook, tekanan antrean jual juga masih terlihat cukup tebal di atas harga penutupan. Total offer tercatat mencapai 199.570 lot dengan frekuensi 687 kali, lebih besar dibanding total bid sebanyak 120.660 lot dengan frekuensi 732 kali.
Antrian jual terbesar terlihat di level 230 sebanyak 20.232 lot dan level 232 sebesar 15.811 lot. Sementara di sisi bid, antrean terbesar berada di level 224 sebanyak 21.170 lot dan level 210 mencapai 23.505 lot.
Struktur ini menunjukkan area 230–232 mulai menjadi zona distribusi pendek pasar. Selama antrean offer di area tersebut belum terserap kuat, ruang kenaikan SCMA cenderung masih terbatas dalam jangka sangat pendek.
Namun menariknya, frekuensi bid justru relatif aktif di area bawah. Hal tersebut memperlihatkan masih ada pelaku pasar yang mencoba menjaga struktur harga menjelang cum date dividen besok.
Secara historis, SCMA juga sempat mengalami tekanan cukup dalam sejak awal Mei. Saham ini turun dari area 266 pada 7 Mei hingga sempat menyentuh area 220 pada akhir Mei sebelum akhirnya mulai rebound perlahan.
Pergerakan tersebut membuat area 224–230 kini menjadi titik penting jangka pendek. Jika area ini mampu bertahan setelah cum date, pasar kemungkinan mulai membaca adanya upaya pembentukan dasar harga baru setelah fase pelemahan panjang.
Sebaliknya, jika tekanan jual asing dan distribusi broker besar kembali meningkat pasca cum date, SCMA berpotensi kembali bergerak konsolidatif di area bawah.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.