Logo
>

Awal Pekan Depan, HRUM Rencanakan Buyback Saham: Segini Penawarannya

Langkah buyback HRUM muncul di tengah tekanan laba bersih dan fluktuasi kinerja non-operasional, meski pendapatan dan EBITDA masih relatif terjaga hingga kuartal III-2025.

Ditulis oleh Yunila Wati
Awal Pekan Depan, HRUM Rencanakan Buyback Saham: Segini Penawarannya
Aktivitas PT Harum Energy Tbk. Foto: Dok HRUM.

KABARBURSA.COM – PT Harum Energy Tbk, dengan kode saham HRUM, berencana untuk melaksanakan pembelian Kembali (buyback) saham. Keputusan ini mengacu pada ketentuan POJK 13/2023 tentang Buyback Saham.

Berdasarkan keterbukaan informasi pada 2 Januari 2026, dana yang digunakan berasal dari kas internal Perseroan dengan jumlah perkiraan maksimal sebesar Rp335 miliar. Perseroan menyatakan bahwa sumber dana yang digunakan tidak akan mempengaruhi keuangan perusahaan secara signifikan.

Tidak hanya itu, manajemen juga menegaskan bahwa dana berasal dari internal Perseroan, bukan merupakan dana hasil penawaran umum atau yang berasal dari pinjaman dan atau utang dalam bentuk apapun.

Dalam buyback ini, HRUM akan membeli kembali 328.159.941 lembar saham, atau setara dengan 2,43 persen dati modal ditempatkan dan disetor Perseroan. Berdasarkan perkiraan, nilai nominalnya adalah Rp20 per saham.

Sesuai dengan ketentuan, buyback akan dilaksanakan dalam jangka waktu paling lama tiga bulan setelah keterbukaan informasi, yaitu dimulai pada 5 Januari hingga 17 Maret 2026.

Kinerja Keuangan Masih Solid

Melihat dari laporan keuangan HRUM sepanjang 2024 hingga kuartal III-2025, kinerjanya cukup solid. Namun ada tekanan berat datang dari volatilitas pendapatan non-operasional serta penurunan profitabilitas dibandingkan periode puncak 2024.

Pada kuartal III-2025, HRUM membukukan pendapatan sebanyak Rp6,20 triliun. Angka ini meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar Rp5,72 triliun dan juga lebih tinggi dari Q4-2024 yang sebesar Rp5,14 triliun.

Dari sisi laba kotor, HRUM mencatatkan sebesar Rp979 miliar di Q3-2025, sedikit lebih baik dibanding Q2-2025 Rp928 miliar dan Q4-2024 Rp910 miliar. Tetapi, angka ini masih jauh di bawah capaian Q3-2024 dan Q2-2024 yang masing-masing berada di atas Rp1,2 triliun. 

Secara implisit, ini menunjukkan bahwa margin kotor mengalami kompresi struktural dibandingkan tahun sebelumnya, kemungkinan dipengaruhi oleh harga jual rata-rata komoditas yang lebih rendah atau tekanan biaya produksi.

Tekanan paling signifikan muncul pada level laba usaha dan laba sebelum pajak. Laba usaha Q3-2025 tercatat Rp597 miliar, naik dari Q2-2025 Rp565 miliar, namun masih terpaut jauh dari Q3-2024 Rp852 miliar dan Q2-2024 Rp958 miliar. 

Masalah utama bukan hanya pada beban usaha yang relatif terkendali, melainkan pada pos penghasilan/beban lain-lain yang berbalik negatif cukup dalam. Pada Q3-2025, HRUM mencatat beban lain-lain sebesar Rp426 miliar, berbanding terbalik dengan Q2-2025 yang justru mencatat penghasilan lain-lain Rp66 miliar. 

Volatilitas pos ini membuat laba sebelum pajak tertekan ke Rp171 miliar, anjlok tajam dibandingkan Q2-2025 Rp631 miliar dan jauh dari Q3-2024 yang mencapai Rp811 miliar.

Dampaknya sangat terasa pada laba bersih tahun berjalan. HRUM hanya membukukan laba bersih Rp63 miliar pada Q3-2025, turun drastis dari Rp513 miliar di Q2-2025 dan Rp119 miliar di Q1-2025.

Jika dibandingkan secara tahunan, penurunan ini semakin kontras karena pada Q3-2024 laba bersih masih berada di level Rp647 miliar. Artinya, secara kuartalan HRUM masih mencatat laba, tetapi secara kualitas, earning power perseroan telah menyusut signifikan.

Cerminan tekanan ini terlihat jelas pada rasio profitabilitas. Return on Assets Q3-2025 hanya 0,23 persen dan Return on Equity 0,80 persen, jauh lebih rendah dibandingkan ROE Q3-2024 yang masih 2,49 persen.

Bahkan meski EBITDA Q3-2025 relatif stabil di Rp838 miliar, penurunan laba bersih menunjukkan bahwa kontribusi non-operasional dan efisiensi struktur keuangan menjadi faktor penekan utama. 

Interest coverage ratio yang turun ke 1,28 kali juga menjadi sinyal bahwa ruang aman untuk menutup beban bunga semakin menyempit dibandingkan Q2-2025 yang masih berada di level 8,36 kali.

Dari sisi valuasi, data EPS kuartalan yang hanya Rp9,14 pada Q3-2025 membuat PER kuartalan melonjak ke 123,63 kali, mencerminkan bahwa secara matematis valuasi terlihat mahal bukan karena harga saham yang agresif, tetapi karena laba yang sedang tertekan. 

Kondisi ini berbeda dengan Q2-2025 saat EPS mencapai Rp29,54 dan PER berada di kisaran 28 kali, atau Q3-2024 saat EPS masih Rp38,07.

Secara keseluruhan, laporan keuangan HRUM menggambarkan perusahaan yang masih solid di sisi operasional dasar, tercermin dari pendapatan dan EBITDA yang relatif terjaga, tetapi menghadapi tantangan serius pada kualitas laba akibat fluktuasi pos non-operasional serta penurunan margin dibandingkan tahun sebelumnya. 

Selama volatilitas penghasilan lain-lain dan tekanan profitabilitas belum mereda, kinerja keuangan HRUM cenderung berada dalam fase konsolidasi, bukan ekspansi agresif.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79