KABARBURSA.COM - Para investor global mulai menyiapkan strategi menghadapi kemungkinan pergeseran besar dalam arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) pada tahun mendatang. Sinyal dari Presiden AS Donald Trump semakin jelas, dengan kemungkinan menunjuk ketua bank sentral baru sekaligus menekan agar suku bunga diturunkan secara agresif.
Trump secara terbuka menyatakan harapannya agar pimpinan The Fed berikutnya selaras dengan agenda penurunan suku bunga. Meski begitu, pasar keuangan sejauh ini belum menunjukkan kekhawatiran berlebihan soal independensi bank sentral. Namun, investor tetap waspada terhadap The Fed yang lebih terpecah, dengan ketua yang potensial lebih lemah dan bayangan kebijakan ekstrem yang membayangi.
Analis memperingatkan bahwa melemahnya independensi The Fed bisa menjadi ancaman serius bagi ekonomi dan pasar keuangan. Meski bank sentral mengendalikan suku bunga jangka pendek, biaya pinjaman di AS lebih banyak ditentukan oleh imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang, yang sangat bergantung pada ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga di masa depan. Seperti dikutip wall street journal di Jakarta, Senin 29 Desember 2025.
Jika The Fed memangkas suku bunga terlalu agresif ketika ekonomi masih relatif solid, kekhawatiran inflasi bisa memicu lonjakan imbal hasil obligasi dan biaya pinjaman. Lonjakan yield ini berpotensi mengguncang pasar saham, menimbulkan volatilitas yang tidak diinginkan.
Pergerakan pasar sejauh ini masih relatif terkendali. Salah satu alasannya, meski ketua The Fed memiliki pengaruh besar, ia tidak bisa menentukan suku bunga secara sepihak. Keputusan diambil melalui Federal Open Market Committee (FOMC) yang beranggotakan 12 orang.
Namun, potensi intervensi politik tetap ada. FOMC terdiri dari tujuh gubernur The Fed yang ditunjuk presiden dan lima presiden bank regional. Mayoritas yang ditunjuk Trump secara teori bisa menyingkirkan pejabat yang dianggap menghambat pemangkasan suku bunga. Saat ini, tiga gubernur merupakan penunjukan Trump, termasuk dua dari periode pertamanya. Ketiganya baru-baru ini bekerja sama dengan gubernur lain untuk memperpanjang masa jabatan presiden bank regional secara bulat.
Trump memiliki peluang menunjuk lebih banyak gubernur dalam beberapa bulan mendatang. Salah satu skenarionya, jika Jerome Powell mundur dari Dewan Gubernur setelah masa jabatannya sebagai ketua berakhir pada Mei, meski secara aturan ia masih bisa menjabat hingga 2028. Peluang lain muncul jika Mahkamah Agung mendukung Trump untuk memberhentikan gubernur Lisa Cook terkait tuduhan administratif yang masih dibantah Cook.
Jika skenario itu terjadi, komposisi FOMC dapat berubah signifikan. Menurut Blake Gwinn dari RBC Capital Markets, situasi tersebut cukup untuk mengguncang pasar, terutama jika Trump mampu mengganti Powell dan Cook sekaligus.
Bahkan tanpa perubahan drastis, investor menilai Fed yang lebih terpolarisasi sudah cukup memicu volatilitas. Dalam skenario ekstrem, ketua The Fed bisa mendorong penurunan suku bunga namun kalah suara dalam pemungutan FOMC. Di negara lain seperti Inggris, perbedaan pendapat pimpinan bank sentral bukan hal baru, tetapi bagi AS, ini akan menjadi perubahan besar dan meningkatkan ketidakpastian arah suku bunga, mendorong volatilitas pasar obligasi dan kenaikan yield Treasury.
Dalam beberapa pekan terakhir, selisih imbal hasil obligasi pemerintah AS jangka pendek dan panjang melebar. Sebagian investor menilai ini sebagai tanda meningkatnya kekhawatiran terhadap independensi The Fed—pasar memperkirakan suku bunga akan turun dalam jangka pendek, namun tidak akan bertahan rendah dalam jangka panjang.
Meski begitu, pasar saham masih relatif tenang. Ekspektasi pemangkasan suku bunga justru menopang sektor-sektor sensitif suku bunga, seperti perbankan dan industri.
Pandangan dominan di Wall Street menyebut perlambatan ekonomi dapat meredam perpecahan internal The Fed dan menciptakan konsensus untuk pemangkasan suku bunga lanjutan. Dalam 15 bulan terakhir, The Fed telah menurunkan suku bunga acuan dari 5,25 persen-5,5 persen menjadi 3,5 persen-3,75 persen.
Meski Trump berharap suku bunga turun hingga 1 persen, banyak investor yakin ketua The Fed baru akan mengambil langkah lebih moderat, selama didukung data ekonomi kuat. Selain kebijakan, gaya komunikasi juga krusial. Ketua The Fed yang mampu menjelaskan alasan ekonomi secara meyakinkan dinilai lebih mampu menjaga stabilitas pasar dibandingkan figur yang sekadar menggemakan tekanan politik.(*)