Logo
>

BEI Buka-bukaan Emiten Siap IPO, Tujuh Melantai Tahun ini?

Pipeline BEI per 28 November 2025 mencakup 13 calon emiten IPO, 23 obligasi, satu right issue, dua ETF, dan satu DIRE

Ditulis oleh Desty Luthfiani
BEI Buka-bukaan Emiten Siap IPO, Tujuh Melantai Tahun ini?
Direktur Penilaian Bursa Efek Indonesia (BEI), I Gede Nyoman Yetna di Ubud, Bali pada Sabtu, 15, November 2025. (Foto: KabarBursa/Desty Luthfiani)

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Menjelang penutupan tahun, aktivitas pasar modal kembali memanas. Bursa Efek Indonesia (BEI) mengonfirmasi bahwa pipeline penerbitan efek semakin padat, dengan total 13 perusahaan sedang bersiap melakukan penawaran umum perdana (IPO). 

    Data terbaru itu disampaikan Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, yang menjelaskan komposisi lengkap pipeline dan potensi realisasi hingga akhir 2025.

    Pipeline sendiri merupakan daftar perusahaan atau instrumen yang sedang dalam tahap proses menuju penawaran umum, baik IPO, right issue, obligasi, ETF, hingga DIRE. 

    Artinya, seluruh entitas di dalam pipeline tersebut telah melalui tahapan awal persiapan dokumen dan sedang menjalani proses evaluasi dan pemenuhan persyaratan oleh BEI maupun OJK.

    Dalam penjelasan resminya, Nyoman memaparkan bahwa per 28 November 2025, pipeline BEI terdiri atas 13 perusahaan yang tengah menyiapkan IPO saham. Dari total tersebut, 2 perusahaan memiliki aset skala kecil, 4 perusahaan beraset menengah, dan 7 perusahaan beraset besar. 

    Selain itu, terdapat 1 perusahaan yang sedang memproses right issue, 23 emisi obligasi dari 17 perusahaan, 2 ETF yang sedang menunggu pencatatan, dan 1 DIRE yang berada dalam antrean evaluasi bursa.

    Nyoman menekankan bahwa hampir separuh calon emiten dalam pipeline IPO berpeluang besar mencatatkan sahamnya tahun ini. “Tujuh dari 13 perusahaan menggunakan laporan keuangan per Juni 2025 sehingga apabila tidak terdapat concern terkait penawaran umum dan pencatatan oleh OJK dan BEI, maka kami berharap perusahaan-perusahaan tersebut dapat melaksanakan pencatatan sahamnya pada sisa tahun 2025,” ujar Nyoman dikutip Minggu, 30 November 2025.

    Menurut dia dengan kondisi tersebut, pasar memiliki peluang untuk menyaksikan gelombang IPO baru dalam beberapa pekan ke depan. 

    Laporan keuangan per Juni umumnya menjadi batas waktu penting bagi perusahaan yang ingin mengejar jadwal pencatatan sebelum tahun berganti, sebab regulasi mensyaratkan laporan keuangan yang digunakan tidak boleh terlalu lama dari masa penawaran.

    Kepadatan pipeline ini juga memberi sinyal positif mengenai minat korporasi terhadap pasar modal sebagai sumber pendanaan. Perusahaan beraset besar mendominasi pipeline tahun ini, menandakan adanya kepercayaan bahwa kondisi pasar cukup kondusif untuk menghimpun dana publik. 

    Sementara itu, keberadaan 23 emisi obligasi dari 17 perusahaan mengindikasikan bahwa alternatif pendanaan melalui surat utang tetap diminati sepanjang 2025.

    Adapun satu right issue yang tengah diproses menunjukkan bahwa kebutuhan pendanaan tambahan melalui penerbitan saham baru masih menjadi pilihan bagi beberapa emiten yang ingin memperkuat struktur modal atau mendukung ekspansi.

    Selain saham dan obligasi, pipeline ETF dan DIRE turut menambah variasi produk investasi yang akan segera tersedia bagi investor. Dua ETF dan satu DIRE yang sedang menunggu pencatatan menjadi bukti bahwa pasar modal Indonesia terus bergerak menuju diversifikasi instrumen, menciptakan lebih banyak peluang bagi investor ritel maupun institusi.

    Secara keseluruhan, perkembangan pipeline penerbitan efek ini menunjukkan bahwa pasar modal memasuki periode yang dinamis di akhir tahun. Para investor kini menunggu langkah lanjutan dari para calon emiten, sementara BEI bersama OJK terus melakukan evaluasi untuk memastikan seluruh proses berjalan sesuai ketentuan.

    Dengan potensi 7 IPO yang mungkin terwujud sebelum pergantian tahun, dinamika pasar diperkirakan semakin menarik, baik dari sisi likuiditas maupun minat investor terhadap perusahaan-perusahaan baru yang menawarkan prospek pertumbuhan. 

    Bursa pun optimistis bahwa momentum ini dapat terbawa ke awal 2026, seiring bertambahnya perusahaan yang siap masuk antrean penawaran umum. (*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Desty Luthfiani

    Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

    Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

    Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

    Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".