KABARBURSA.COM - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan kapitalisasi pasar bursa kembali mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High/ATH) pada pekan ini periode 12–15 Januari 2026. Pada periode tersebut, IHSG bertengger di level level 9.075,406 dan kapitalisasi pasar bursa mencatatkan Rp16.512 triliun.
Data perdagangan saham di BEI selama sepekan pun ditutup mayoritas pada zona positif. Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad mengatakan peningkatan tertinggi terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian bursa sebesar 3,87 persen.
"Menjadi Rp32,68 triliun dari Rp31,46 triliun pada pekan sebelumnya," ujar dia dalam keterangannya , Kamis, 15 Januari 2026.
Kapitalisasi pasar BEI juga mengalami peningkatan sebesar 1,29 persen menjadi Rp16.512 triliun dari Rp16.301 triliun pada sepekan sebelumnya.
"Pergerakan IHSG turut mengalami peningkatan pada pekan ini sebesar 1,55 persen dan ditutup pada level 9.075,406 dari posisi 8.936,754 pada pekan lalu," terang Kautsar.
Namun, BEI mencatat penurunan terjadi pada rata-rata volume transaksi harian Bursa pada pekan ini sebesar 2,68 persen menjadi 60,13 miliar lembar saham dari 61,79 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya.
Kautsar menyampaikan, rata-rata frekuensi transaksi harian turut mengalami penurunan sebesar 3,24 persen menjadi 3,86 juta kali transaksi dari 3,99 juta kali transaksi pada pekan lalu.
Adapun BEI mencatat investor asing per Kamis, 15 Januari 2026 mencatatkan nilai beli bersih Rp947,45 miliar dan sepanjang tahun 2026 ini mencatatkan nilai beli bersih sebesar Rp7,30 triliun.
IHSG Diyakini Tembus 10.000 pada 2026
IHSG diyakini bisa menembus level 10.000 pada tahun 2026. Sikap optimisme ini dikarenakan adanya faktor kunci yang mendukung indeks ke level tersebut.
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai prospek pasar saham Indonesia pada 2026 tetap konstruktif, dengan target IHSG di level 10.500, didukung ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi serta potensi kebijakan yang lebih akomodatif.
Rully Arya Wisnubroto, Chief Economist & Head of Research Mirae Asset, menyampaikan bahwa IHSG menunjukkan tren positif sejak awal 2026, melanjutkan momentum dari tahun sebelumnya.
“Menariknya, penguatan IHSG di awal 2026 terjadi di tengah data ekonomi yang relatif kurang menggembirakan, mulai dari inflasi Desember yang tinggi, surplus neraca perdagangan yang lebih rendah, hingga defisit fiskal yang melebar akibat penerimaan pemerintah yang masih
lemah,” ujar dia dalam keterangannya, Rabu, 14 Januari 2026.
Rully menyebut keselarasan kebijakan moneter dan fiskal akan menjadi salah satu faktor kunci yang mendukung target IHSG ke level 10.500.
"Jika likuiditas terjaga dan stimulus fiskal berjalan efektif, pasar akan memiliki fondasi yang lebih kuat,” katanya. (*)