KABARBURSA.COM – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan masih terdapat sejumlah perusahaan yang sedang bersiap melantai di pasar modal. Hingga awal Maret 2026, otoritas bursa mencatat ada beberapa perusahaan yang masuk dalam pipeline pencatatan saham atau initial public offering (IPO).
Direktur Penilaian BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengatakan saat ini terdapat tujuh perusahaan yang sedang berada dalam pipeline pencatatan saham di BEI.
“Saat ini terdapat 7 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham di BEI,” kata Nyoman dalam keterangan tertulis dikutip Ahad, 8 Maret 2026.
Pipeline sendiri merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan daftar atau antrean perusahaan yang sedang dalam proses menuju pencatatan di bursa. Perusahaan-perusahaan tersebut biasanya masih menjalani berbagai tahapan seperti persiapan dokumen, proses penilaian oleh regulator, hingga menunggu waktu yang tepat untuk melaksanakan penawaran umum perdana saham atau IPO.
Dengan kata lain, pipeline dapat dipahami sebagai daftar calon emiten yang sedang diproses sebelum resmi melantai di Bursa Efek Indonesia.
Berdasarkan data BEI, hingga saat ini belum terdapat perusahaan yang mencatatkan saham baru di bursa sepanjang tahun berjalan. Dengan demikian, dana yang berhasil dihimpun dari aktivitas IPO pada tahun ini masih tercatat sebesar Rp0 triliun.
Meski demikian, antrean calon emiten tetap ada. BEI mencatat terdapat tujuh perusahaan yang sedang berada dalam pipeline pencatatan saham. Jika dilihat dari klasifikasi asetnya, mayoritas perusahaan tersebut masuk dalam kategori perusahaan besar.
Rinciannya, sebanyak enam perusahaan memiliki aset skala besar dengan nilai di atas Rp250 miliar. Sementara satu perusahaan lainnya termasuk dalam kategori aset skala menengah dengan nilai aset antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Tidak ada perusahaan dengan kategori aset skala kecil yang berada dalam pipeline saat ini.
Dari sisi sektor usaha, perusahaan-perusahaan yang berada dalam pipeline IPO juga berasal dari berbagai industri. Sektor jasa keuangan atau financials menjadi yang paling dominan dengan tiga perusahaan yang sedang bersiap menuju pasar modal.
Selain itu terdapat satu perusahaan dari sektor consumer non-cyclicals, satu perusahaan dari sektor energi, satu perusahaan dari sektor kesehatan, serta satu perusahaan dari sektor transportasi dan logistik.
Komposisi sektor tersebut menunjukkan bahwa minat perusahaan untuk memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan masih cukup beragam, mulai dari sektor yang bersifat defensif hingga sektor yang berkaitan dengan aktivitas ekonomi riil.
Selain pipeline IPO, BEI juga mencatat aktivitas penghimpunan dana melalui instrumen lain seperti obligasi dan rights issue. Hingga awal Maret 2026, telah diterbitkan 37 emisi obligasi dan sukuk dari 26 penerbit efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp41,41 triliun.
Sementara itu, masih terdapat 20 emisi dari 13 penerbit yang berada dalam pipeline penerbitan obligasi. Dari sisi sektor, perusahaan jasa keuangan kembali menjadi yang paling banyak dalam antrean tersebut dengan lima perusahaan.
Adapun untuk aksi korporasi rights issue atau penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD), hingga 6 Maret 2026 tercatat sudah ada tiga perusahaan tercatat yang melakukan rights issue dengan total nilai Rp3,75 triliun.
BEI juga mencatat masih terdapat satu perusahaan yang berada dalam pipeline rights issue, yang berasal dari sektor properti dan real estate.(*)