Logo
>

Besok IPO BACH, ini yang Perlu Dicermati Investor

PT Bach Multi Global Tbk menetapkan harga IPO Rp442 per saham dan akan melantai di BEI pada 8 Juli 2026. Investor perlu mencermati valuasi, penggunaan dana, hingga perubahan pengendali perseroan.

Ditulis oleh Yunila Wati
Besok IPO BACH, ini yang Perlu Dicermati Investor
BACH akan melakukan penawaran umum perdana saham pada Kamis, 2 Juli 2026 dengan harga penawaran Rp442 per saham. (Foto: dok Bach Multi Global)

KABARBURSA.COM - PT Bach Multi Global Tbk (BACH) bersiap memasuki pasar modal melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Masa penawaran umum dijadwalkan berlangsung pada 2-6 Juli 2026 dengan harga penawaran Rp442 per saham, sebelum saham perusahaan resmi diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Juli 2026.

Bagi investor yang mempertimbangkan untuk berpartisipasi dalam IPO ini, terdapat sejumlah aspek yang layak dicermati. Tidak hanya mengenai potensi bisnis perusahaan, tetapi juga struktur penggunaan dana, perubahan kepemilikan saham, hingga prospek industri yang menjadi tempat BACH beroperasi.

Perseroan menawarkan sebanyak 615 juta saham baru atau setara 15,06 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Dengan harga penawaran Rp442 per saham, BACH berpotensi menghimpun dana sekitar Rp271,83 miliar dari pasar primer. 

Harga tersebut berada di tengah kisaran book building yang sebelumnya ditetapkan pada rentang Rp400 hingga Rp500 per saham.

Ke Mana Arah Penggunaan Dana IPO?

Salah satu hal yang patut diperhatikan investor adalah arah penggunaan dana hasil IPO. Berdasarkan prospektus, sekitar Rp91,02 miliar setelah dikurangi biaya emisi akan digunakan untuk membayar sebagian pinjaman kepada PT Bank Permata Tbk (BNLI). 

Langkah ini berpotensi memperbaiki struktur permodalan perusahaan melalui penurunan beban utang.

Sementara itu, sisa dana akan dialokasikan sebagai modal kerja, terutama untuk pembelian generator set (genset) yang akan dijual maupun disewakan kepada pelanggan. Strategi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar dana hasil IPO tetap diarahkan untuk mendukung ekspansi operasional perusahaan.

BACH sendiri bergerak di bidang penjualan dan penyewaan genset, sebuah sektor yang masih memiliki permintaan dari berbagai segmen industri. Kebutuhan pasokan listrik cadangan bagi kawasan industri, pusat data, proyek konstruksi, fasilitas kesehatan, hingga sektor telekomunikasi menjadi salah satu faktor yang menopang bisnis perusahaan.

Seperti Apa Struktur Kepemilikannya?

Selain penggunaan dana, investor juga perlu mencermati perubahan struktur kepemilikan perseroan setelah IPO. Sebelum proses penawaran umum berlangsung, pemegang saham PT Bach Multi Sukses Investama (BMSI) dan PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) telah menandatangani perjanjian opsi pada awal Januari 2026.

Dalam perjanjian tersebut, GTP memperoleh hak untuk membeli saham milik BMSI yang jika digabungkan akan mewakili 51 persen kepemilikan BACH setelah IPO. Hak opsi tersebut kemudian dikonfirmasi untuk dilaksanakan pada Maret 2026 dengan harga pelaksanaan yang sama, yakni Rp442 per saham.

Transaksi tersebut dijadwalkan diselesaikan paling lambat lima hari kerja setelah saham BACH resmi tercatat di BEI. Dengan demikian, PT Global Telekomunikasi Prima nantinya akan menjadi pemegang saham pengendali baru dengan kepemilikan mencapai 51 persen.

Perubahan pengendali merupakan informasi yang penting diperhatikan investor karena dapat memengaruhi arah strategi bisnis, ekspansi perusahaan, maupun kebijakan jangka panjang setelah menjadi perusahaan terbuka.

Seperti ini Komposisi Manajemen Perseroan

Aspek lain yang menarik perhatian adalah komposisi manajemen perseroan. Komisaris Utama BACH Anita Anwar, juga menjabat sebagai Komisaris Utama PT Remala Abadi Tbk (DATA), Wakil Direktur Utama PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), serta Direktur PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR). 

Latar belakang tersebut menunjukkan adanya pengalaman di sektor infrastruktur dan telekomunikasi yang memiliki keterkaitan dengan kebutuhan penyediaan pasokan listrik cadangan.

Dari sisi jadwal, masa penawaran umum berlangsung pada 2 hingga 6 Juli 2026. Penjatahan saham dilakukan pada 6 Juli, distribusi saham secara elektronik pada 7 Juli, sedangkan pencatatan perdana di Bursa Efek Indonesia dijadwalkan berlangsung pada 8 Juli 2026.

Apa yang Harus Diperhatikan Investor?

Investor yang berminat mengikuti IPO juga perlu memperhatikan kondisi pasar secara keseluruhan. Sentimen pasar pada saat saham mulai diperdagangkan kerap mempengaruhi pergerakan harga pada hari-hari awal perdagangan, di samping faktor fundamental perusahaan itu sendiri.

Selain itu, investor sebaiknya membaca prospektus secara menyeluruh untuk memahami kondisi keuangan, strategi bisnis, risiko usaha, struktur pemegang saham, serta rencana penggunaan dana hasil IPO. Informasi tersebut menjadi dasar penting dalam menilai prospek perusahaan setelah resmi menjadi emiten.

Dengan harga penawaran Rp442 per saham dan target penghimpunan dana mencapai Rp271,83 miliar, IPO BACH menjadi salah satu penawaran umum yang patut diperhatikan pada awal Juli 2026. 

Keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan profil risiko masing-masing investor serta kesesuaian prospek bisnis perusahaan dengan strategi investasi jangka pendek maupun jangka panjang.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79