KABARBURSA.COM – Bursa saham Asia kompak bergerak di zona merah pada perdagangan Kamis, 2 Juli 2026, setelah aksi jual besar-besaran menghantam saham-saham produsen semikonduktor. Di saat investor mulai mengurangi eksposur terhadap sektor chip, kontrak berjangka saham Amerika Serikat hanya bergerak tipis usai Wall Street ditutup melemah pada sesi sebelumnya.
Tekanan paling besar terjadi di Korea Selatan. Dilansir dari AP, Kamis, 2 Juli 2026, Indeks acuan Kospi anjlok 5,1 persen menjadi 7.877,45 seiring merosotnya saham perusahaan semikonduktor. SK Hynix kehilangan 7,7 persen, sementara Samsung Electronics turun lebih dalam hingga 6,4 persen.
Gelombang pelemahan juga menjalar ke Jepang. Indeks Nikkei 225 terkoreksi 1,5 persen ke level 69.443,16. Saham produsen peralatan semikonduktor Tokyo Electron ikut terseret turun hingga 5,6 persen.
Di Taiwan, indeks Taiex melemah 1,1 persen. Penurunan itu dipicu terkoreksinya saham Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. atau TSMC yang turun 1,8 persen.
Berbeda dengan mayoritas bursa kawasan, pasar saham Hong Kong justru mampu bertahan di zona hijau. Indeks Hang Seng menguat 0,8 persen menjadi 23.060,63 setelah saham produsen kendaraan listrik BYD melesat 8,7 persen. Penguatan itu terjadi setelah perusahaan melaporkan kenaikan penjualan selama dua bulan berturut-turut.
Indonesia pun sama. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Kamis di zona hijau. Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga sekitar pukul 09.00 WIB, IHSG menguat 17,23 poin atau 0,30 persen ke level 5.712,34.
Sementara itu, indeks Shanghai Composite di China turun 0,9 persen ke posisi 4.075,58. Bursa Australia juga bergerak melemah dengan indeks S&P/ASX 200 terkoreksi tipis 0,1 persen menjadi 8.710,30.
Di India, kondisi berbeda terjadi. Indeks Sensex justru menguat 0,5 persen dan menjadi salah satu sedikit pasar utama di Asia yang berhasil mencatatkan kenaikan pada perdagangan hari itu.
Di pasar komoditas, harga minyak dunia ikut bergerak turun setelah perunding Amerika Serikat dan Iran kembali melakukan pembicaraan secara terpisah melalui mediator dari Qatar dan Pakistan pada Rabu. Pelaku pasar terus mencermati perkembangan negosiasi tersebut dengan harapan tercapainya kesepakatan permanen untuk mengakhiri konflik di Iran.
Dalam beberapa bulan terakhir, lonjakan permintaan terhadap teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence telah mendorong reli besar pada saham-saham teknologi dan semikonduktor. Bursa Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan menjadi tiga pasar yang menikmati keuntungan paling besar dari tren tersebut.
Sepanjang tahun berjalan, indeks Kospi telah melonjak sekitar 85 persen, sedangkan Nikkei 225 mencatat kenaikan sekitar 34 persen sebelum akhirnya mengalami tekanan akibat aksi ambil untung di sektor teknologi.(*)
KABARBURSA.COM – Bursa saham Asia kompak bergerak di zona merah pada perdagangan Kamis, 2 Juli 2026, setelah aksi jual besar-besaran menghantam saham-saham produsen semikonduktor. Di saat investor mulai mengurangi eksposur terhadap sektor chip, kontrak berjangka saham Amerika Serikat hanya bergerak tipis usai Wall Street ditutup melemah pada sesi sebelumnya.
Tekanan paling besar terjadi di Korea Selatan. Dilansir dari AP, Kamis, 2 Juli 2026, Indeks acuan Kospi anjlok 5,1 persen menjadi 7.877,45 seiring merosotnya saham perusahaan semikonduktor. SK Hynix kehilangan 7,7 persen, sementara Samsung Electronics turun lebih dalam hingga 6,4 persen.
Gelombang pelemahan juga menjalar ke Jepang. Indeks Nikkei 225 terkoreksi 1,5 persen ke level 69.443,16. Saham produsen peralatan semikonduktor Tokyo Electron ikut terseret turun hingga 5,6 persen.
Di Taiwan, indeks Taiex melemah 1,1 persen. Penurunan itu dipicu terkoreksinya saham Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. atau TSMC yang turun 1,8 persen.
Berbeda dengan mayoritas bursa kawasan, pasar saham Hong Kong justru mampu bertahan di zona hijau. Indeks Hang Seng menguat 0,8 persen menjadi 23.060,63 setelah saham produsen kendaraan listrik BYD melesat 8,7 persen. Penguatan itu terjadi setelah perusahaan melaporkan kenaikan penjualan selama dua bulan berturut-turut.
Indonesia pun sama. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Kamis di zona hijau. Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga sekitar pukul 09.00 WIB, IHSG menguat 17,23 poin atau 0,30 persen ke level 5.712,34.
Sementara itu, indeks Shanghai Composite di China turun 0,9 persen ke posisi 4.075,58. Bursa Australia juga bergerak melemah dengan indeks S&P/ASX 200 terkoreksi tipis 0,1 persen menjadi 8.710,30.
Di India, kondisi berbeda terjadi. Indeks Sensex justru menguat 0,5 persen dan menjadi salah satu sedikit pasar utama di Asia yang berhasil mencatatkan kenaikan pada perdagangan hari itu.
Di pasar komoditas, harga minyak dunia ikut bergerak turun setelah perunding Amerika Serikat dan Iran kembali melakukan pembicaraan secara terpisah melalui mediator dari Qatar dan Pakistan pada Rabu. Pelaku pasar terus mencermati perkembangan negosiasi tersebut dengan harapan tercapainya kesepakatan permanen untuk mengakhiri konflik di Iran.
Dalam beberapa bulan terakhir, lonjakan permintaan terhadap teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence telah mendorong reli besar pada saham-saham teknologi dan semikonduktor. Bursa Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan menjadi tiga pasar yang menikmati keuntungan paling besar dari tren tersebut.
Sepanjang tahun berjalan, indeks Kospi telah melonjak sekitar 85 persen, sedangkan Nikkei 225 mencatat kenaikan sekitar 34 persen sebelum akhirnya mengalami tekanan akibat aksi ambil untung di sektor teknologi.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.