KABARBURSA.COM – Pembongkaran beton Monorel Jakarta kembali membuka catatan lama dalam neraca PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI). Proyek yang telah dihentikan lebih dari satu dekade lalu itu hingga kini masih tercermin dalam laporan keuangan perseroan sebagai sisa aset yang belum sepenuhnya diselesaikan secara akuntansi.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Desember 2024, Adhi Karya masih mencatat persediaan jangka panjang berupa eks tiang atau beam monorel dengan nilai bruto Rp132,06 miliar. Aset tersebut secara eksplisit disebut berasal dari penghentian Proyek Kereta Jakarta Monorail dan telah tercantum secara konsisten sejak laporan keuangan 2019.
“Persediaan jangka panjang merupakan persediaan yang berupa eks tiang-tiang monorel atas pemberhentian pengerjaan Proyek Kereta Jakarta Monorail,” tulis manajemen dalam catatan atas laporan keuangan.
Seiring tidak adanya pemanfaatan lanjutan, perseroan secara bertahap membukukan penurunan nilai atas aset tersebut. Hingga akhir 2024, akumulasi penurunan nilai tercatat Rp73,01 miliar, setara sekitar 55,3 persen dari nilai bruto aset monorel.
“Manajemen berkeyakinan bahwa penurunan nilai atas tiang monorel cukup untuk menutup kemungkinan masa manfaat di kemudian hari,” tulis manajemen.
Data historis menunjukkan pola penurunan nilai yang berkelanjutan. Pada 2020, akumulasi impairment tercatat Rp47,58 miliar, meningkat menjadi Rp53,93 miliar pada 2021, naik lagi ke Rp60,29 miliar pada 2022, bertambah menjadi Rp66,65 miliar pada 2023, sebelum mencapai Rp73,01 miliar pada 2024. Dengan demikian, dalam empat tahun terakhir, Adhi Karya membukukan tambahan beban penurunan nilai lebih dari Rp25 miliar atas aset monorel.
Laporan keuangan juga menunjukkan bahwa tidak terdapat lagi pencatatan piutang proyek, klaim, maupun pendapatan yang berkaitan dengan Monorel Jakarta. Seluruh pencatatan yang tersisa terbatas pada persediaan jangka panjang dengan nilai tercatat yang terus menurun.
Hingga akhir 2024, ADHI tidak mengungkapkan rencana penjualan, pemanfaatan ulang, maupun penghapusan penuh atas aset eks monorel tersebut.
Selain Monorel Jakarta, laporan keuangan konsolidasian Adhi Karya juga mencatat aset non-operasional lain yang berasal dari proyek lama dan penyelesaian piutang. Salah satunya tercermin dalam pos “Lainnya” pada aset tidak lancar, yang sebagian besar terdiri dari aset tanah yang belum dikembangkan.
Per 31 Desember 2024, nilai aset tanah yang belum dikembangkan tersebut tercatat sebesar Rp154,99 miliar, relatif stabil dibandingkan Rp158,51 miliar pada tahun sebelumnya.
“Lainnya sebagian besar merupakan aset tanah yang belum dikembangkan yang diperoleh sebagai bentuk penyelesaian piutang dari pelanggan,” tulis manajemen.
Selain itu, Adhi Karya juga mencatat piutang jangka panjang lainnya yang berasal dari kegiatan selain konstruksi, antara lain proyek Kuningan City, Pasar Tanah Abang, pekerjaan tanggap darurat pascakebakaran Kementerian Sekretariat Negara RI, serta proyek Gedung Sekretariat Negara RI. Nilai piutang jangka panjang tersebut tercantum dalam laporan keuangan konsolidasian per akhir 2024.
Dengan demikian, di luar Monorel Jakarta, neraca Adhi Karya masih memuat sejumlah aset non-inti yang berasal dari proyek lama, penyelesaian piutang, dan aktivitas non-konstruksi yang belum diklasifikasikan sebagai aset produktif operasional.
Pembongkaran fisik beton monorel di lapangan tidak memicu perubahan pencatatan keuangan baru dalam laporan keuangan perseroan. Namun, secara historis, sisa aset Monorel Jakarta dan aset non-operasional lainnya masih tercermin dalam neraca hingga akhir 2024.