Logo
>

Bisnis Harian ICBP Terlihat Stabil, tapi Fluktuasi Kurs Bisa Menggerus Laba

Di balik produk yang selalu laku, struktur utang dolar membuat laba Indofood CBP sensitif terhadap pergerakan nilai tukar.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Bisnis Harian ICBP Terlihat Stabil, tapi Fluktuasi Kurs Bisa Menggerus Laba
Bisnis ICBP terlihat stabil, namun utang dolar membuat laba perseroan sensitif terhadap fluktuasi kurs dan risiko nilai tukar. Foto: IDX Channel

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM – Di rak minimarket, produk PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk atau ICBP Sukses Makmur terlihat tenang. Mi instan tetap laku, susu tetap dibeli, bumbu dapur tak pernah sepi, air minum kemasan terus diminum. Dari luar, ICBP tampak seperti mesin stabil yang kebal siklus ekonomi. Tapi di balik rak yang rapi itu, laporan keuangan menyimpan cerita lain yang jauh lebih sensitif.

    Founder Pintar Saham, Ngurah Warman, menyebut ICBP sebagai perusahaan consumer goods yang unik. Bukan karena produknya, melainkan karena struktur keuangannya. Stabil di sisi permintaan, tetapi rentan di sisi laba bersih karena terpapar risiko mata uang global.

    “ICBP itu unik karena jarang ada consumer goods yang stabil di demand, tapi sensitif di laba karena struktur mata uangnya timpang,’ kata Ngurah dalam keterangan tertulis, Selasa, 13 Januari 2026.

    Masalah utamanya ada pada dolar. Di satu sisi, ICBP memikul utang dalam mata uang asing yang besar. Di sisi lain, mayoritas pendapatan masih berasal dari pasar domestik berbasis Rupiah. Ketika kurs bergerak, tekanan bisa datang tiba-tiba, bahkan saat penjualan di pasar tetap jalan.

    Dari posisi moneter, gambarnya cukup tegas. Aset moneter dalam valuta asing tercatat sekitar Rp19,05 triliun, mayoritas berupa kas dan piutang dalam USD, SAR, dan Euro. Namun di seberangnya, liabilitas moneter valas melonjak hingga Rp47,66 triliun, terutama berasal dari utang obligasi global USD senilai sekitar US$2,75 miliar.

    Selisih antara keduanya membentuk liabilitas neto valas sekitar Rp28,62 triliun. Skala ini bukan angka kecil. Liabilitas valas mencapai sekitar 2,5 kali aset valas, dan posisi netonya sendiri sekitar 1,5 kali aset valas. Artinya, setiap pelemahan Rupiah berpotensi langsung memukul laporan laba melalui beban pembiayaan dan rugi selisih kurs.

    “Kalau investor cuma menilai dari sisi produk yang laris dan jaringan distribusi yang kuat, investor bisa kecolongan satu fakta, laba bersihnya bisa diguncang kurs walau penjualan di rak toko tetap jalan,” kata Ngurah.

    Cerita menjadi semakin menarik ketika peta utang ini dibandingkan dengan peta pendapatan. Revenue ICBP masih berat di Indonesia, sekitar Rp39,03 triliun atau 69 persen. Asia dan Afrika menyumbang Rp15,23 triliun atau sekitar 27 persen. Sisanya, sekitar 4 persen, berasal dari wilayah lain. Total pendapatan diperkirakan berada di kisaran Rp56,56 triliun.

    Pendapatan luar negeri sekitar 31 persen inilah yang sebenarnya berfungsi sebagai natural hedging. Semakin besar porsi pendapatan valas, semakin besar kemampuan perusahaan membayar kewajiban USD tanpa harus sepenuhnya mengandalkan konversi Rupiah. Masalahnya, bobot kewajiban valas sudah telanjur besar, sementara porsi pendapatan valas belum cukup dominan.

    “Natural hedging sudah ada, tapi belum cukup dominan untuk menenangkan laporan laba ketika kurs bergerak tidak bersahabat,” ujarnya.

    Lapisan berikutnya datang dari struktur aset tidak lancar. Di sini, keunikan ICBP makin kentara. Aset tidak lancar di luar negeri tercatat Rp55,08 triliun, jauh lebih besar dibandingkan aset tidak lancar di Indonesia yang sebesar Rp26,74 triliun. Dari total Rp81,82 triliun aset tidak lancar, sekitar 67 persen berada di luar negeri.

    Yang paling mencolok, hampir seluruh aset luar negeri itu berupa goodwill. Nilainya sekitar Rp54 triliun. Jika dibandingkan dengan aset tidak lancar luar negeri, porsinya mencapai lebih dari 98 persen. Bahkan terhadap total aset tidak lancar, goodwill mencakup sekitar 66 persen.

    Ini memberi sinyal bahwa ekspansi luar negeri ICBP lebih banyak berasal dari akuisisi, seperti Pinehill PCL, ketimbang pembangunan kapasitas fisik baru. Goodwill bukan masalah selama kinerja bisnisnya memenuhi ekspektasi. Namun bagi investor, ini berarti kontribusi luar negeri harus benar-benar terus menguat, karena goodwill pada akhirnya hanya ditopang oleh proyeksi laba masa depan.

    Dari tiga peta ini, utang valas, pendapatan, dan aset, titik paling sensitif untuk jangka pendek hingga menengah terlihat jelas. Posisi moneter valas adalah sumber volatilitas utama. Tanpa lindung nilai formal, fluktuasi kurs bisa langsung menggerus laba bersih, bahkan saat operasional tetap solid.

    Untuk jangka panjang, kuncinya ada pada geografi pendapatan. Jika porsi revenue luar negeri meningkat, natural hedging akan menguat secara organik. Dengan begitu, pembayaran kewajiban USD tidak selalu menjadi beban tambahan ketika Rupiah melemah.

    “Kalau porsi revenue luar negeri naik, perusahaan punya sumber valas yang lebih alami untuk membayar kewajiban USD,” jelas Ngurah.

    Dari sini muncul dua mismatch yang menjelaskan paradoks ICBP. Pertama, currency mismatch. Sekitar 78 persen liabilitas moneter berada dalam valas, sementara hanya 31 persen pendapatan berasal dari luar negeri. Perusahaan menghasilkan mayoritas uang dalam Rupiah, tetapi harus membayar kewajiban besar dalam USD.

    Kedua, asset–revenue mismatch. Sekitar 67 persen aset tidak lancar berada di luar negeri, tetapi kontribusi pendapatan luar negeri masih jauh lebih kecil.

    Ironisnya, kekuatan produk ICBP justru membuat risiko ini kerap terlewat. Enam divisi utama, mulai dari mi instan, dairy, penyedap makanan, snack foods, nutrition and special foods, hingga beverages, menciptakan permintaan harian yang kuat. Ini memberi ruang penyesuaian harga saat biaya naik. Namun penyesuaian harga terjadi di pasar domestik berbasis Rupiah, sementara kewajiban utang tetap menuntut dolar.

    Ngurah mengibaratkan ICBP seperti kapal besar. Gudang dan asetnya banyak berada di luar negeri, tapi mesin pendapatan utamanya masih disuplai dari pelabuhan domestik. Ketika dolar menguat, biaya yang dibayar dolar ikut membengkak, sementara gudang luar negeri yang didominasi goodwill tidak bisa langsung diubah menjadi kas.

    “Bisnisnya terlihat sederhana di rak toko, tapi struktur risikonya menuntut cara baca yang jauh lebih tajam,” kata Pria alumni Magister Manajemen Keuangan Universitas Udayana ini.

    Bagi investor ritel, ICBP bukan saham bermasalah, tapi juga bukan saham yang bisa dibaca hanya dari stabilnya penjualan. Kunci pemantauan ada pada kurs, struktur utang USD, dan kemampuan perusahaan memperbesar pendapatan luar negeri. Di situlah perbedaan antara bisnis yang terlihat aman dan laba yang benar-benar tahan guncangan.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).