KABARBURSA.COM – Pergerakan Bitcoin (BTC) di penghujung 2025 relatif tenang. Di pasar global, BTC ditutup di kisaran USD88.600 hingga USD88.700, dengan kenaikan harian sekitar 1,5 persen. Secara teknikal, reli besar telah berlalu dan harga kini bergerak dalam fase konsolidasi, menurun sejak puncak di area USD120.000 sampai USD130.000 di Oktober lalu.
Struktur candlestick sejak November membentuk rangkaian lower high dan lower low, yang artinya tekanan jual masih dominan meskipun tidak lagi agresif.
Untuk BTC terhadap rupiah, harganya kini berada di Rp1,48 miliar per koin. Kenaikan hariannya tipis, yaitu 0,11 persen.
Jika diuji secara kritikal, area USD 87.000–88.000 kini berfungsi sebagai zona penyangga utama. Beberapa kali harga turun ke area tersebut, namun selalu muncul respons beli yang cukup untuk menahan penurunan lanjutan. Selama level ini bertahan, risiko penurunan tajam ke bawah USD 80.000 relatif mengecil.
Namun di sisi atas, area USD 93.000–95.000 berubah menjadi resistensi kuat setelah gagal ditembus pada beberapa upaya pemantulan. Inilah yang membuat pergerakan BTC di akhir tahun tampak “mendatar”, padahal sesungguhnya pasar sedang menunggu katalis berikutnya.
Memasuki awal 2026, arah pergerakan Bitcoin lebih tepat dibaca sebagai fase seleksi, bukan kelanjutan reli langsung. Tanpa katalis makro baru, seperti perubahan ekspektasi suku bunga global, arus dana institusional tambahan, atau narasi baru pasca-halving, BTC cenderung bergerak sideways dengan bias lemah.
Potensi skenario dasarnya adalah konsolidasi di rentang USD 85.000–95.000, dengan volatilitas yang lebih rendah dibanding paruh kedua 2025. Penurunan masih mungkin terjadi, tetapi lebih bersifat pengujian ulang support ketimbang awal tren turun panjang.
Untuk BTCIDR, pola ini berarti pergerakan akan lebih dipengaruhi oleh stabilitas rupiah. Jika rupiah tetap terjaga di awal 2026, maka BTCIDR berpotensi bergerak sejalan dengan BTC global tanpa lonjakan ekstrem.
Namun jika terjadi tekanan nilai tukar, BTCIDR bisa tampak “menguat” meski BTCUSD tidak bergerak signifikan, sesuatu yang perlu dibaca hati-hati oleh investor domestik agar tidak keliru menafsirkan kekuatan tren.
Kesimpulannya, akhir 2025 bukan fase euforia bagi Bitcoin, melainkan fase pendinginan yang sehat setelah reli panjang. Awal 2026 berpotensi menjadi periode akumulasi selektif, bukan ledakan harga instan.
Arah besar belum berubah menjadi bearish struktural, tetapi pasar juga belum memberi sinyal bahwa tren naik besar berikutnya siap dimulai.(*)