KABARBURSA.COM - Pergerakan Bitcoin di awal 2026 menunjukkan fase yang menarik antara konsolidasi global dan penyesuaian lokal di pasar rupiah. Dari sisi harga, Bitcoin terhadap rupiah tercatat berada di kisaran Rp1,46 miliar per BTC, menguat tipis sekitar 0,08 persen secara harian.
Kenaikan yang relatif kecil ini mencerminkan kondisi pasar yang belum memiliki dorongan arah yang kuat, tetapi juga tidak menunjukkan tekanan jual agresif. Pergerakan intraday yang sempat naik mendekati Rp1,47 miliar, lalu terkoreksi tipis, menandakan adanya aksi jual cepat setiap kali harga mendekati area atas, ciri khas pasar yang sedang menguji keseimbangan.
Jika disejajarkan dengan pergerakan Bitcoin di pasar global, gambaran yang muncul justru lebih defensif. Harga BTC global berada di area USD87.700–88.000, turun sekitar 0,9 persen dari penutupan sebelumnya.
Struktur ini menunjukkan bahwa penguatan tipis BTC/IDR lebih banyak dipengaruhi oleh faktor nilai tukar dan likuiditas lokal ketimbang sentimen global yang benar-benar positif. Artinya, secara struktural, Bitcoin masih berada dalam fase koreksi menengah setelah gagal mempertahankan momentum di area psikologis USD90.000.
Grafik harian mempertegas kondisi tersebut. Sejak puncak di kisaran USD120.000 pada kuartal IV-2025, Bitcoin membentuk rangkaian lower high dan lower low yang konsisten. Penurunan tajam ke area USD87.000 kemudian diikuti pergerakan mendatar menunjukkan bahwa tekanan jual besar telah mereda, tetapi minat beli belum cukup kuat untuk membalikkan tren.
Area USD87.000–90.000 kini berfungsi sebagai zona konsolidasi kritis. Selama harga bertahan di rentang ini, pasar cenderung berada dalam mode menunggu katalis baru, baik dari sisi makro, kebijakan moneter global, maupun arus dana institusional.
Volume perdagangan memberikan konfirmasi tambahan. Lonjakan volume terbesar terjadi saat fase penurunan tajam, menandakan distribusi dan likuidasi posisi yang agresif. Setelah itu, volume cenderung menurun dan bergerak rata.
Partisipasi spekulatif mulai berkurang. Kondisi ini biasanya menjadi prasyarat bagi fase akumulasi, meski belum cukup untuk menyimpulkan pembentukan dasar harga yang kuat.
Menariknya, ketika Bitcoin global melemah tipis, pergerakan altcoin justru menunjukkan diferensiasi yang jelas. Ethereum relatif stabil di sekitar Rp49,7 juta dengan koreksi sangat kecil, mencerminkan sikap wait and see investor besar.
Litecoin dan Cardano bergerak melemah tipis, sementara Dogecoin justru mencatat penguatan ringan. Pola ini menunjukkan bahwa rotasi spekulatif masih berlangsung, dengan sebagian dana jangka pendek berpindah ke koin berkapitalisasi lebih kecil yang dianggap memiliki volatilitas lebih menarik dalam fase pasar mendatar.
Namun, secara keseluruhan, performa altcoin belum menunjukkan tanda-tanda altseason yang kuat. Pergerakan yang cenderung sempit dan tidak sinkron mengindikasikan bahwa pasar kripto masih sangat bergantung pada arah Bitcoin sebagai aset jangkar.
Selama Bitcoin belum keluar dari fase konsolidasinya, reli altcoin kemungkinan akan bersifat sporadis dan berbasis sentimen jangka pendek.
Jika diuji dari sudut pandang makro, kondisi ini sejalan dengan lingkungan global saat ini. Ekspektasi penurunan suku bunga di 2026 memang mendukung aset berisiko, tetapi investor tampak lebih selektif setelah reli besar di 2024–2025.
Bitcoin tidak lagi bergerak hanya sebagai aset spekulatif, melainkan semakin diperlakukan seperti aset makro, sensitif terhadap likuiditas global, arah dolar AS, dan sentimen risiko secara keseluruhan.
Dengan demikian, performa Bitcoin dan Bitcoin/IDR saat ini mencerminkan fase transisi. Pasar telah keluar dari euforia, tetapi belum masuk ke fase bearish ekstrem. Konsolidasi di area saat ini menjadi ujian penting apakah Bitcoin mampu membangun fondasi baru untuk reli lanjutan, atau justru membuka ruang koreksi lanjutan jika tekanan global meningkat.
Sementara itu, pergerakan koin lain masih bersifat mengikuti, menunggu konfirmasi arah dari Bitcoin sebagai penentu utama ritme pasar kripto secara keseluruhan.(*)