KABARBURSA.COM – Mendekati pergantian tahun, pergerakan Bitcoin (BTC) terus anjlok. Di pasar global, harga BTC berada di kisaran USD87.134, turun 0,42 persen dari penutupan sebelumnya. Namun, pengamat Bitcoin Robert Kiyosaki memiliki pandangan lain untuk pergerakan BTC di 2026.
Pada perdagangan Jumat, 26 Desember 2025, rentang pergerakan harian BTC relative sempit dengan level terendah di sekitar USD86.899 dan tertinggi di USD88.534. Di sini, tekanan jual masih ada tetapi belum bersifat agresif atau disertai lonjakan volatilitas yang ekstrem.
Gambaran yang sama terlihat di pasar domestik. Bitcoin dalam denominasi rupiah bergerak di kisaran Rp1,46 miliar per BTC, dengan pelemahan harian sekitar 0,41 persen. Pergerakan intraday menunjukkan bahwa sempat ada tekanan di awal sesi, tetapi tidak berlanjut menjadi penurunan tajam.
Pola seperti ini biasanya mencerminkan fase konsolidasi lemah, di mana pelaku pasar masih menimbang arah berikutnya, dan jelas bukan fase distribusi besar-besaran.
Jika diperluas ke kripto utama lain, tekanan hari ini juga cenderung selektif. Ether terkoreksi sangat tipis di bawah 0,01 persen, Litecoin melemah sekitar 0,09 persen, dan Dogecoin turun kurang dari 0,1 persen.
Cardano justru mencatat kenaikan kecil sekitar 0,24 persen. Perbedaan ini penting, karena menunjukkan bahwa pelemahan Bitcoin tidak otomatis memicu aksi jual serentak di seluruh pasar kripto.
Robert Kiyosaki pun memberikan gambaran. Ia menyebut penurunan Bitcoin sejauh ini merupakan bagian dari pecahnya “gelembung segalanya” dan krisis likuiditas global. Kiyosaki mengatakan bahwa dirinya berniat untuk membeli lebih banyak Bitcoin setelah krisis mereda.
Narasi ini konsisten dengan pandangan lamanya yang skeptis terhadap sistem keuangan fiat dan bullish terhadap aset dengan suplai terbatas seperti Bitcoin, emas, dan perak.
Namun, jika diuji dengan data harian saat ini, kondisi pasar belum sepenuhnya mencerminkan krisis likuiditas global akut. Tidak terlihat lonjakan volatilitas ekstrem, tidak ada candle penurunan panjang, dan tekanan masih berada dalam kisaran normal pasca-reli besar sebelumnya.
Artinya, penurunan hari ini lebih tepat dibaca sebagai fase penyesuaian jangka pendek atau konsolidasi, bukan “pecahnya gelembung” dalam arti teknis pasar.
Ramalan Kiyosaki untuk Bitcoin dalam horizon 2026 secara implisit bertumpu pada dua asumsi besar. Pertama, krisis likuiditas global akan memaksa bank sentral kembali ke kebijakan moneter longgar atau setidaknya melemahkan kepercayaan terhadap mata uang fiat.
Kedua, kelangkaan Bitcoin yang hanya 21 juta unit akan kembali menjadi narasi dominan ketika investor mencari aset lindung nilai jangka panjang. Jika dua asumsi ini terjadi bersamaan, Bitcoin memang berpotensi memasuki fase apresiasi baru pada 2026.
Namun, pasar saat ini masih berada di fase transisi. Tekanan hari ini belum cukup kuat untuk mengonfirmasi skenario bearish ekstrem, tetapi juga belum menunjukkan sinyal lanjutan reli agresif. Dengan kata lain, Bitcoin sedang berada di zona “menunggu arah”, di mana sentimen makro global, kebijakan suku bunga, dan arus likuiditas akan menjadi penentu utama.
Kesimpulannya, performa Bitcoin hari ini menunjukkan pelemahan ringan yang lebih bersifat teknis daripada fundamental. Pasar kripto secara keseluruhan masih relatif stabil, tanpa tanda-tanda krisis likuiditas yang mendadak.
Pandangan Robert Kiyosaki memberi narasi jangka panjang yang bullish, tetapi untuk saat ini lebih berfungsi sebagai perspektif ideologis daripada refleksi langsung kondisi pasar. Arah menuju 2026 akan sangat ditentukan oleh apakah tekanan likuiditas global benar-benar memburuk, atau justru pasar memasuki fase stabilisasi baru setelah penyesuaian siklus.(*)